Kisah Jasmine dan Syifa, Siswi SMA Deg-degan Lihat Pengumuman Hasil SNBP 2026 dari Ponsel
Hendra March 31, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Tepat pukul 15.00 WIB, Selasa (31/3/2026), ribuan siswa di seluruh Indonesia menahan napas di depan layar gawai mereka.

Pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 bukan sekadar hasil seleksi, melainkan titik temu antara harapan, kecemasan, dan masa depan.

Di Bangka Belitung, euforia itu terasa nyata. Ada yang tersenyum lega, ada pula yang harus menahan air mata. Dua kisah ini menggambarkan dua sisi dari satu momentum yang sama.

Bagi Jasmine Faradillah, siswi SMA Negeri 2 Pangkalpinang, detik-detik pengumuman justru dihadapi dengan cara berbeda. Ia memilih tidak membuka hasil tepat waktu.

Rasa deg-degan membuatnya menunda. Namun tanpa diduga, sang ayah dan kakaknya lebih dulu membuka laman pengumuman.

"Bapak dan kakak saya yang duluan cek, terus langsung kasih kabar ke grup keluarga kalau saya lulus," ujarnya saat diwawancarai Bangkapos.com, Selasa (31/3/2026).

Kabar itu sontak mengubah kecemasan menjadi kebahagiaan. Jasmine dinyatakan lolos pada program studi Perbankan dan Keuangan Digital D4 di Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung.

"Alhamdulillah, senang banget. Memang dari awal saya sudah mengincar Polman, khususnya jurusan itu," katanya.

Ia mengaku sempat gemetar saat akhirnya membuka sendiri pengumuman tersebut melalui ponsel dan tablet. Namun dukungan keluarga membuatnya lebih tenang menghadapi hasil.

"Orangtua saya selalu support, apapun pilihan saya," ucap Jasmine.

Berbeda dengan Jasmine, momen pengumuman menjadi pengalaman emosional bagi Syifa Nasywa Aryani, siswi SMA Negeri 1 Parittiga.

Sejak awal, ia sudah merasakan firasat kurang baik. Persaingan ketat untuk masuk Universitas Sriwijaya pada jurusan Akuntansi membuatnya tidak terlalu optimistis.

"Sebelum buka, memang sudah ada perasaan tidak lulus," katanya.

Perasaan itu ternyata menjadi kenyataan. Saat laman pengumuman terbuka, namanya dinyatakan belum lolos pada pilihan tersebut.

Tangis pun pecah.

"Saya langsung nangis. Sempat ditenangkan orangtua," ujarnya lirih.

Padahal, Syifa bukan tanpa bekal. Ia telah mengantongi berbagai prestasi, termasuk juara nasional di bidang akuntansi dan penghargaan dari Trisakti School of Management.

Namun baginya, SNBP tetap menjadi seleksi yang sangat kompetitif.

"Ada rasa kecewa, apalagi belum bisa membanggakan orang tua," ungkapnya.

Meski sempat terpuruk, Syifa memilih bangkit. Ia menjadikan kegagalan ini sebagai pelajaran untuk menghadapi jalur berikutnya, yakni Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Ia bahkan memastikan tetap akan memilih jurusan yang sama, Akuntansi di Universitas Sriwijaya.

"Saya akan tetap coba lagi di SNBT. Belajar lebih serius supaya bisa lulus di jurusan yang saya inginkan," tegasnya.

Di balik layar pengumuman yang sama, setiap siswa memiliki cerita berbeda. Ada yang berhenti sejenak untuk merayakan, ada pula yang harus melangkah lagi dengan tekad baru.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.