SURYA.CO.ID - Ini lah sosok Ahmad Muzani, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang meminta pemerintah menarik seluruh pasukan perdamaian Indonesia dari Lebanon.
Permintaan itu disampaikan menyusul gugurnya 3 prajurit TNI anggota Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda (Konga) untuk United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) PBB di Lebanon Selatan, dua hari terakhir.
Bersama dengan pimpinan MPR lainnya, Ahmad Muzani membeber alasan penarikan pasukan itu karena faktor keselamatan.
“Sesuai dengan konstitusi yang memerintahkan untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, agar Indonesia menarik pasukannya dalam misi perdamaian tersebut karena ini adalah daerah yang membahayakan bagi keselamatan TNI seperti yang terjadi di Lebanon Selatan ini. Itu sebabnya MPR merasa perlu menyampaikan pandangan ini ke hadapan masyarakat,” kata Muzani dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Menurut Mantan Sekjen Partai Gerindra ini, penarikan pasukan tersebut sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia untuk menjamin keamanan dan keselamatan setiap warga negara.
Baca juga: Sosok Sertu Ichwan Prajurit TNI yang Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon, Punya Bayi 7 Bulan
“Kalau tidak ada jaminan keselamatan bagi pasukan misi perdamaian kita yang merupakan pasukan penjaga perdamaian, maka MPR meminta agar pemerintah mempertimbangkan untuk menarik seluruh pasukan yang ada di Lebanon Selatan sesuai dengan konstitusi, yakni menjaga keselamatan bagi warga negaranya,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Muzani menegaskan bahwa MPR mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan jatuhnya korban dari prajurit TNI.
Dia menyebut serangan itu sebagai tindakan biadab yang dilakukan Israel.
Selain itu, MPR juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar sidang penyelidikan atas insiden tersebut dan menjatuhkan sanksi kepada Israel.
Sebab, para prajurit tersebut menjalankan tugas menjaga perdamaian berdasarkan mandat Dewan Keamanan Perserikatan PBB.
“Majelis Permusyawaratan Rakyat mendesak kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar sidang penyelidikan dan menjatuhkan sanksi terhadap Israel,” ujar Muzani.
Ahmad Muzani lahir di Tegal pada 15 Juli 1968.
Ia dikenal sebagai pengusaha, politikus Partai Gerindra, dan anggota DPR.
Semasa remaja, Muzani sudah menekuni berbagai organisasi di Tegal.
Dia pernah memimpin Pelajar Islam Indonesia (PII), kemudian melanjutkan pendidikan jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta.
Ahmad Muzani lantas terjun menjadi wartawan majalah Amanah dan penyiar radio Ramako.
Di radio ini pula, berkat ketekunannya, Muzani terpilih menjadi direktur untuk kawasan Serang, Banten.
Mengenal banyak orang dan punya koneksi yang bagus membuat Ahmad Murzani dekat dengan berbagai kalangan.
Muzani bahkan sempat terjun ke dunia politik praktis saat menggagas Partai Bintang Reformasi (PBR) bersama Zainuddin MZ dan sempat menjabat sebagai Wakil Sekjen.
Menjelang Pemilu 2009, Muzani, yang pernah bekerja menjadi manajer perkebunan kelapa sawit milik Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto itu jatuh cinta pada Gerindra.
Sejak itu, Muzani mulai aktif menjadi bagian dari Partai Gerindra.
Sejak tahun 2015 hingga 2025, Muzani dipercaya Prabowo menduduki posisi penting sebagai Sekjen Gerindra.
Kini, posisi Muzani sebagai Sekjen Partai Gerindra digantikan Sugiono yang juga Menteri Luar Negeri.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi dua prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) TNI pada misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur di Lebanon Selatan pada Senin (30/3/2026).
Peristiwa itu menambah jumlah prajurit TNI yang gugur menjadi tiga orang, setelah satu prajurit dilaporkan gugur akibat serangan Israel sehari sebelumnya.
“Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI dilaporkan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka berat. Para prajurit yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam siaran pers, Selasa (31/3/2026).
Rico menjelaskan, para prajurit tersebut tengah menjalankan tugas pengawalan untuk mendukung kegiatan operasional UNIFIL saat insiden terjadi.
Dia menambahkan, kejadian berlangsung di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah tersebut dan penyebab pastinya masih diselidiki oleh pihak UNIFIL.
Pemerintah Indonesia melalui Kemhan dan TNI, lanjut Rico, terus berkoordinasi dengan markas besar UNIFIL untuk memastikan keselamatan seluruh personel serta menjamin penanganan terbaik bagi para korban.
“Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” ujar Rico. (Kompas.com)