Bayang-Bayang Perang Global Hantui Ekonomi, Pengamat Riau: Pemerintah dan Masyarakat Siaga
M Iqbal March 31, 2026 11:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Gejolak geopolitik global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia dan Provinsi Riau. 


Pengamat ekonomi Riau, Edyanus Herman Halim, mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah serta mengganggu stabilitas ekonomi nasional jika tidak diantisipasi sejak dini.


Menurut Ediyanus, konflik di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian serius karena jalur strategis distribusi energi dunia ikut terdampak. 


“Sekitar 20 persen distribusi migas dunia melewati Selat Hormuz. Saat ini jalur tersebut dijaga ketat oleh Iran, sehingga memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).


Ia menjelaskan, kondisi tersebut telah memicu gangguan ekonomi di berbagai negara. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) mulai terasa di sejumlah wilayah dunia, yang kemudian diikuti dengan lonjakan harga energi. 


Dampak lanjutannya, nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.


“Ketika harga energi naik dan pasokan terbatas, otomatis biaya produksi meningkat. Ini berdampak pada inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah,” jelasnya.


Meski demikian, Edyanus mengakui ada sejumlah sektor yang justru mendapatkan keuntungan dari situasi ini, seperti komoditas kelapa sawit. 


“Harga crude palm oil (CPO) mengalami kenaikan karena permintaan global meningkat. Namun, itu belum cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan,” katanya.


Ia menegaskan bahwa pemerintah dan masyarakat harus segera mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi potensi krisis yang lebih dalam. Salah satu langkah utama adalah melakukan penghematan di berbagai sektor.


“Kita harus mulai mengurangi kegiatan yang tidak produktif, seperti pesta-pesta dan kegiatan seremonial yang tidak penting. Ini penting untuk menjaga ketahanan ekonomi,” tegas Ediyanus.


Selain itu, ia juga mendorong penguatan sektor produksi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap impor. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian yang harus dimaksimalkan.


“Kita harus meningkatkan produktivitas dalam negeri, seperti beras, jagung, dan kebutuhan pokok lainnya. Kita punya sumber daya, tinggal bagaimana mengoptimalkannya agar tidak terus bergantung pada impor,” jelasnya.


Ia menambahkan, pengurangan impor akan membantu menghemat devisa negara yang selama ini banyak digunakan untuk transaksi dalam dolar. 


“Semakin sedikit kita bergantung pada impor, semakin kuat daya tahan ekonomi kita,” ujarnya.


Ediyanus memprediksi, jika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus berlanjut, maka kondisi ekonomi global akan semakin tidak menentu. 


“Selama stabilitas distribusi perdagangan dunia belum terjamin, tekanan terhadap ekonomi akan terus berlanjut,” katanya.


Ia pun mengingatkan agar semua pihak tidak lengah dan segera melakukan langkah antisipasi. 


“Kalau kita tidak cepat bersiap, kita bisa terjerumus ke dalam kondisi ekonomi yang lebih sulit. Ini yang harus kita hindari bersama,” katanya. (Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.