Harga BBM Tak Naik 1 April 2026, Drivel Ojol di Sampit Kotim: Kalau Naik, Saya Bisa Berhenti Narik
Sri Mariati April 01, 2026 01:05 PM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Kepastian pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April 2026  ini tentu menjadi angin segar dan melegakan bagi masyarakat di seluruh daerah di Indonesia.

 Tak terkecuali masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.

Sempat diwarnai isu kenaikan, pemerintah melalui Pertamina Patra Niaga akhirnya memastikan seluruh jenis BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, tetap dijual dengan harga sebelumnya di seluruh SPBU.

Keputusan ini menjadi angin segar bagi warga yang menggantungkan aktivitas harian pada stabilitas Harga BBM, mulai dari sektor transportasi hingga distribusi barang.

Berdasarkan rilis resmi, Harga BBM subsidi masih berada pada level yang sama, yakni Pertalite Rp 10.000 per liter dan Solar Rp 6.800 per liter.

Di Sampit, kabar ini langsung terasa dampaknya di tengah masyarakat. Salah satunya dirasakan Ridwan, driver ojol atau ojek online yang setiap hari bergantung pada BBM untuk mencari nafkah.

Baca juga: Antrean di SPBU Isu BBM Naik, Gubernur Kalteng Agustiar Minta Warga Tak Panik dan Tindak Penimbun

Baca juga: Rekap Lengkap Harga BBM Pertamina Hari ini di Indonesia per 1 April 2026, cek Kalteng-Kalsel dll

Ia mengaku sempat khawatir dengan isu kenaikan yang beredar, apalagi di tengah kabar terganggunya distribusi minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

“Kalau BBM sampai naik, mungkin saya bisa berhenti narik. Soalnya penghasilan tidak sebanding dengan biaya operasional, kecuali tarif jasa ikut naik,” ujarnya.

Ridwan menuturkan, dalam kondisi normal, ia menghabiskan sekitar Rp 35 ribu untuk sekali pengisian penuh tangki motornya, yang biasanya cukup untuk tiga hari operasional.

Menurutnya, kenaikan harga BBM akan sangat berdampak langsung terhadap penghasilannya.

“Saya sudah sempat pusing membayangkan kalau benar naik. Alhamdulillah tidak jadi,” katanya.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Presiden RI, Prabowo Subianto, atas kebijakan yang dinilai meringankan beban masyarakat kecil.

Rasa syukur serupa juga disampaikan Dewi, seorang ibu rumah tangga di Sampit.

Dalam kesehariannya, Dewi menggunakan mobil pribadi untuk mengantar dan menjemput anak. 

Ia mengaku pengeluaran BBM cukup besar, mencapai sekitar Rp 300 ribu setiap kali pengisian.

“Alhamdulillah tidak jadi naik. Kalau naik pasti terasa sekali di pengeluaran rumah tangga,” ungkapnya.

Ia pun mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.

Keputusan untuk menahan harga BBM ini dinilai memberikan kepastian sekaligus menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.