Laporan Wartawan TribunMadura.com, Hanggara Pratama
TRIBUNMADURA.COM, SAMPANG – Upaya mendorong penyerapan beras lokal dalam program penyediaan pangan di Kabupaten Sampang, Madura, masih menghadapi tantangan serius.
Standar beras premium yang dipersyaratkan menjadi kendala utama bagi petani setempat.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sampang, Suyono, mengatakan harapannya agar hasil produksi petani lokal dapat masuk dalam skema kebutuhan pangan skala besar.
Namun, realita di lapangan belum sepenuhnya mendukung.
"Kami sangat berharap produk beras lokal ini bisa masuk dan diakomodasi, tetapi memang persyaratannya harus beras premium," ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, mayoritas petani di Sampang masih memproduksi beras medium, sementara produksi beras premium relatif terbatas.
Kondisi ini membuat pasokan lokal belum mampu memenuhi standar yang ditetapkan dalam program tersebut.
Baca juga: Produksi Beras Sampang Melonjak, Lahan Tanam Meluas hingga 8 Ribu Hektar
"Kalau di Sampang, beras premium itu tidak banyak, yang ada justru beras medium yang diproduksi masyarakat," jelasnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, pemerintah daerah tetap berupaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui program gerakan pangan murah yang melibatkan berbagai pihak.
Program ini menggandeng Bulog, PT Wilmar, serta kelompok tani untuk menyediakan beras dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, beras SPHP dipasarkan sekitar Rp 12.500 per kilogram.
Baca juga: Luas Tanam Padi Sumenep Tembus 36 Ribu Hektare, Lampaui Target Kementerian
"Harapannya masyarakat bisa mendapatkan beras dengan harga terjangkau meskipun kondisi harga saat ini mengalami perubahan," tuturnya.
Tak hanya beras, sejumlah komoditas lain seperti telur dan hasil pertanian lokal turut dilibatkan dalam program tersebut.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat peran produk lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
"Ke depan, kami ingin produk lokal semakin dikenal dan dimanfaatkan, sehingga kebutuhan pangan tidak selalu bergantung dari luar daerah," tutupnya.