TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Israel secara terbuka mengungkap ambisinya untuk menguasai wilayah Lebanon selatan.
Pernyataan tersebut sontak memicu kekhawatiran internasional akan potensi pecahnya konflik berskala besar dalam waktu dekat.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi keamanan untuk menekan ancaman dari kelompok bersenjata di perbatasan.
Namun, banyak pihak menilai rencana tersebut justru berisiko memperluas eskalasi dan memicu perang terbuka.
Warga sipil di wilayah perbatasan kini diliputi kecemasan, menyusul meningkatnya aktivitas militer dan serangan balasan.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa persiapan operasi militer telah dilakukan secara intensif dalam beberapa waktu terakhir.
Komunitas internasional pun mulai menyerukan penahanan diri demi mencegah krisis kemanusiaan yang lebih parah.
Situasi ini menempatkan Lebanon selatan di ambang konflik besar yang bisa berdampak luas bagi stabilitas kawasan.
Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Donald Trump: Sesumbar Bisa Rebut Pulau Kharg Iran dengan Sangat Mudah
Seperti diketahui, Israel secara terang-terangan mengungkapkan rencananya untuk menduduki wilayah Lebanon selatan dan menghancurkan seluruh rumah di sepanjang perbatasan.
Ini menjadi indikasi paling jelas Israel untuk menduduki wilayah itu.
Menteri Pertahanan, Israel Katz mengatakan, seluruh penduduk Lebanon selatan tak diizinkan untuk kembali ke rumah mereka.
"Kembalinya lebih dari 600.000 penduduk Lebanon selatan yang mengungsi ke utara akan sepenuhnya dilarang di selatan Sungai Litani sampai keselamatan dan keamanan penduduk Israel di utara terjamin," kata Katz, dikutip dari New York Times.
Menurutnya, semua rumah di dekat desa-desa tersebut akan dihancurkan sesuai dengan model Rafah dan Beit Hanoun di Gaza.
Nantinya, pasukan Israel akan mempertahankan kendali atas seluruh wilayah dari perbatasan hingga Sungai Litani setelah perang berakhir.
Ini merupakan bentangan wilayah yang berjarak 20 mil dari Israel di titik terdalamnya.
Selama beberapa dekade, Lebanon selatan dikuasai oleh Hizbullah, kelompok militan yang telah terlibat konflik berkepanjangan dengan Israel.
Kelompok yang didukung Iran ini dibentuk setelah invasi Israel ke Lebanon pada 1982.
Tak lama setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada akhir Februari, Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk solidaritas dengan Teheran.
Hal itu memicu serangan baru Israel terhadap kelompok tersebut yang mengakibatkan perintah evakuasi besar-besaran untuk sebagian besar wilayah Lebanon selatan serta pemboman yang meluas.
Para pejabat Israel mengatakan tujuan invasi darat adalah mendirikan "zona keamanan" guna mencegah wilayah di Lebanon selatan digunakan untuk menyerang Israel.
Namun, komentar terbaru Katz telah memperdalam kekhawatiran tentang pendudukan Israel yang diperbarui di Lebanon selatan.
Menanggapi rencana itu, kepala bantuan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher memperingatkan, Lebanon selatan dapat menjadi wilayah pendudukan lain di Timur Tengah.
Ia membandingkan situasi di Lebanon dengan Gaza, ketika ia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa pertempuran di Lebanon telah menyebabkan 1,1 juta orang mengungsi.
"Di Lebanon, lebih dari 1,1 juta orang telah mengungsi selama empat minggu terakhir, termasuk lebih dari 370.000 anak-anak" katanya, dikutip dari AFP.
"Pengungsian dalam skala sebesar ini, tentu saja, meningkatkan risiko bahaya tambahan, terutama bagi perempuan dan anak perempuan yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan asing," sambungnya.
Perwakilan Lebanon di PBB, Ahmad Arafa, mendesak Dewan Keamanan untuk mengutuk pernyataan Israel tentang rencana pendudukan.
Arafa juga menyerukan agar DK PBB mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memaksa Israel menghentikan serangan dan ancamannya terhadap integritas teritorial, serta kemerdekaan politik Lebanon.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)