Monumen Peniwen Affair Malang, Saksi Tragedi Kemanusiaan Kekejaman Belanda yang Diakui Dunia
Mujib Anwar April 01, 2026 04:32 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyimpan sebuah monumen bersejarah yang menjadi pengingat tragedi kemanusiaan pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, yakni Monumen Peniwen Affair.

Monumen ini dibangun untuk mengenang gugurnya para relawan Palang Merah Remaja (PMR) serta warga sipil yang menjadi korban kekejaman tentara Belanda pada 19 Februari 1949.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang.

Peristiwa tragis tersebut menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sekaligus simbol pengorbanan para relawan yang menjalankan tugas kemanusiaan di tengah perang.

Desa Peniwen Jadi Basis Perjuangan pada Masa Revolusi

Monumen Peniwen Affair
Monumen Peniwen Affair di Desa Peniwen, Malang, yang menjadi simbol penghormatan bagi relawan Palang Merah Remaja dan warga sipil korban pembantaian tentara Belanda pada masa revolusi kemerdekaan. (malangkota.go.id)

Diektahui, peristiwa Peniwen Affair terjadi pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1949, ketika situasi perang kemerdekaan Indonesia masih berlangsung.

Pada masa itu, wilayah Malang Selatan menjadi salah satu basis perjuangan tentara Republik Indonesia.

Kawasan Kepanjen, Sumberpucung, Wlingi, hingga Puncak Gunung Kawi menjadi wilayah strategis bagi para pejuang untuk menjalankan taktik perang gerilya.

Desa Peniwen sendiri dipilih sebagai salah satu pusat pertahanan karena memiliki beberapa keunggulan.

Desa tersebut memiliki letak yang strategis, tanah yang subur sehingga dapat menjadi lumbung pangan, serta dukungan masyarakat yang kuat terhadap perjuangan Republik.

Selain itu, di desa tersebut terdapat rumah sakit Panti Husodo yang menjadi pusat pelayanan kesehatan bagi warga sekaligus tempat merawat korban perang.

Rumah sakit ini didirikan sekitar tahun 1947 oleh komunitas Kristen Peniwen untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.

Keberadaan rumah sakit ini kemudian mendorong para pemuda desa untuk belajar di sekolah kesehatan di Rumah Sakit Umum Malang dan kembali ke Peniwen sebagai relawan.

Setelah kembali ke Peniwen, mereka bergabung sebagai relawan Palang Merah Remaja (PMR) yang bertugas memberikan pertolongan kepada korban perang.

Baca juga: Sejarah Monumen Soerjo di Ngawi, Mengenang Tragedi Gugurnya Gubernur Pertama Jawa Timur

Tragedi Pembantaian di Rumah Sakit Panti Husodo

Namun situasi di Desa Peniwen mulai berubah ketika tentara Belanda memasuki wilayah Malang Raya pada tahun 1949.

Dilansir dari malangkab.go.id, pada pertengahan Februari 1949 tentara Belanda mulai memasuki Desa Peniwen dan menembaki desa tersebut dengan peluru serta meriam.

Mereka berdalih sedang mencari seorang pemberontak yang disembunyikan di desa tersebut.

Padahal yang dimaksud adalah seorang pendeta yang memperjuangkan hak-hak masyarakat Peniwen.

Aksi kekerasan tersebut tidak hanya merusak berbagai fasilitas desa, tetapi juga menimbulkan penderitaan bagi warga.

Bahkan sejumlah perempuan desa dilaporkan menjadi korban kekerasan.

Baca juga: Sejarah Monumen Gerbong Maut Bondowoso,  Jejak Tragedi Kemanusiaan 1947

Puncak tragedi terjadi pada 19 Februari 1949

Tragedi paling memilukan terjadi pada 19 Februari 1949.

Saat itu, sekitar pukul 14.00 pasukan Belanda kembali memasuki Desa Peniwen dan melakukan penembakan secara membabi buta.

Mereka mencari informasi mengenai keberadaan tentara republik dari warga setempat.

Karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, pasukan tersebut kemudian mendatangi Rumah Sakit Panti Husodo yang saat itu menjadi tempat perawatan korban perang.

Para tentara Belanda merusak fasilitas rumah sakit dan memaksa seluruh tenaga kesehatan, relawan PMR, serta pasien keluar dari gedung rumah sakit.

Mereka kemudian dikumpulkan di halaman dan dipisahkan.

Sebagian relawan dan petugas kesehatan dipaksa jongkok dengan tangan terikat di belakang. 
Tanpa ampun, tentara Belanda kemudian menembaki mereka satu per satu.

Para relawan muda yang saat itu membantu merawat korban perang menjadi sasaran tembakan, seolah-olah mereka adalah target dalam sebuah perburuan.

Tidak hanya relawan kesehatan, sejumlah warga sipil juga menjadi korban dalam tragedi tersebut.

Beberapa petani yang hendak pergi ke ladang bahkan turut menjadi korban pembantaian.

Selain itu, beberapa perempuan juga turut mengalami kekerasan seksual oleh pasukan Belanda.

Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Peniwen atau Peniwen Affair, yang menjadi salah satu tragedi kemanusiaan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dibangun Monumen untuk Mengenang Para Korban

Untuk mengenang tragedi kemanusiaan tersebut, pemerintah dan masyarakat kemudian membangun Monumen Peniwen Affair di Desa Peniwen.

Dilansir dari matic.malangkab.go.id, monumen ini didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada para relawan PMR dan warga sipil yang gugur dalam tragedi tersebut.

Pembangunan monumen dimulai pada 11 Agustus 1983 dan selesai pada 10 September 1983.

Monumen tersebut kemudian diresmikan pada 10 November 1983 oleh Sekretaris Jenderal PMI Pusat.

Monumen ini berdiri di atas tanah desa seluas sekitar 30 x 40 meter, tepatnya di tepi jalan desa yang menghubungkan Peniwen dengan Jambuwer.

Baca juga: Sejarah Monumen Kresek Madiun, Saksi Kelam Pemberontakan PKI 1948 yang Kini Jadi Wisata Edukasi

Arsitektur Monumen dan Relief Sejarah

Secara arsitektur, monumen ini memiliki bentuk yang cukup khas dan sarat makna sejarah.

Dilansir dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, patung utama monumen menggambarkan figur seorang anggota PMR sedang merangkul rekannya yang terluka akibat tembakan.

Patung tersebut berdiri di atas sebuah pilar dengan tinggi sekitar 5 meter, sementara tinggi patung mencapai sekitar 3 meter.

Pada bagian badan pilar juga terdapat dua buah prasasti yang memuat tulisan “Monumen Peniwen Affair 19 Februari 1949” serta daftar nama para relawan PMR dan warga yang gugur dalam tragedi tersebut.

Selain prasasti, pada dinding pilar juga terdapat tiga relief yang menggambarkan peristiwa tragis yang terjadi saat itu.

Relief tersebut menggambarkan berbagai adegan, mulai dari situasi relawan yang sedang merawat pasien di tengah ancaman tentara Belanda.

Selain itu, digambarkan pula relawan PMR dan perawat yang ditangkap serta diikat oleh tentara Belanda, hingga adegan penembakan yang terjadi di depan rumah sakit.

Relief-relief tersebut secara keseluruhan menggambarkan kekejaman tentara Belanda terhadap para tenaga medis, relawan kemanusiaan, pasien rumah sakit, serta warga sipil yang tidak bersenjata.

Di halaman depan monumen juga terdapat deretan makam para relawan PMR yang gugur dalam tragedi tersebut.

Keberadaan makam tersebut semakin memperkuat fungsi monumen sebagai tempat mengenang pengorbanan para relawan kemanusiaan pada masa revolusi kemerdekaan.

Baca juga: Sejarah Monumen Simpang Lima Gumul, Landmark Kediri yang Jadi Pusat Aktivitas Warga

Monumen yang Diakui Dunia Internasional

Dilansir dari Kompas.com, Monumen Peniwen Affair merupakan salah satu dari dua monumen Palang Merah yang diakui oleh dunia internasional.

Keberadaan monumen ini menjadi simbol penghormatan terhadap para relawan kemanusiaan yang gugur saat menjalankan tugas menolong korban perang.

Hingga kini, monumen tersebut tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi generasi muda tentang nilai-nilai kemanusiaan dan perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan.

Setiap tanggal 19 Februari, masyarakat Desa Peniwen bersama relawan Palang Merah Indonesia biasanya menggelar kegiatan peringatan untuk mengenang para korban tragedi tersebut.

Melalui monumen ini, kisah perjuangan dan pengorbanan para relawan Palang Merah Remaja di Desa Peniwen diharapkan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.