TRIBUNNEWS.COM - Purnawirawan TNI AD Muchtar Effendi mengungkap, sudah tiga kali Israel menargetkan pasukan perdamaian RI di Lebanon yang bertugas dalam misi perdamaian yang digelar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kata dia, peristiwa pada akhir Maret 2026 yang menewaskan tiga prajurit TNI di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) atau Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon selatan itu adalah peristiwa ketiga.
Muchtar yang memiliki pangkat terakhir Serma (Sersan Mayor) mengatakan, serangan pertama terjadi pada 2009, sebelum dirinya bergabung dengan UNIFIL pada periode 2010-2011.
"Israel melakukan tindakan seperti ini bukan sekali ini saja," tutur Muchtar, dikutip dari tayangan Sapa Indonesia Pagi di kanal YouTube KompasTV, Rabu (1/4/2026).
"Kalau saya tidak lupa, ini yang ketiga kali. Tahun 2009, sebelum waktu itu saya berdinas aktif di Lebanon, Israel juga pernah menembaki tentara kita."
Lantas, Muchtar menceritakan peristiwa serangan pertama pada 2009 itu disebabkan karena para anggota TNI diduga tergesa-gesa dan salah menghadap ke salah satu pihak yang berkonflik.
Menurutnya, pasukan perdamaian adalah 'wasit perang' yang harus bersikap netral.
Namun, diduga karena terburu-buru, maka anggota TNI saat itu menghadap ke Israel yang dikira membela Lebanon.
"Itu hanya gara-gara pada saat itu ada letupan kecil, kemudian mungkin karena tergesa-gesa sehingga anggota TNI ini salah menghadap," ungkap Muchtar.
"Kita ini kan wasit perang ya. Jadi wasit perang harus menghadap ke arah yang netral, tidak ke Lebanon, tidak ke Israel."
"Nah, pada saat itu karena tergesa-gesa, anggota kita menghadap ke Israel, padahal yang dikibarkan adalah bendera PBB."
Baca juga: Sidang Darurat DK PBB, Utusan Tetap RI untuk PBB: Kami Meminta Investigasi PBB, Bukan Alasan Israel
"Definisi daripada posisi seperti itu seolah-olah kita membela tentara atau warga Lebanon, maka kita ditembaki oleh Israel. Itulah yang terjadi kalau kita menjadi wasit perang pun demikian."
"Kalau seandainya kita menghadap ke Lebanon, maka orang Lebanon akan menyangka kita membela Israel."
"Oleh karena itu, posisi kita berdiri dan menghadap pun benar-benar harus diperhatikan."
Akan tetapi, beruntung pada peristiwa serangan Israel tahun 2009 itu, personel TNI sudah diamankan warga setempat.
"Nah, itu terjadi, kita ditembaki oleh tentara Israel. Untung waktu itu anggota kita yang ada di perbatasan diamankan oleh warga Lebanon," jelas Muchtar.
Muchtar lantas menerangkan, serangan Israel terhadap pasukan perdamaian RI di Lebanon yang kedua terjadi pada 2024.
Lokasinya, sama seperti peristiwa ledakan yang menewaskan Praka Farizal Rhomadhon pada Minggu (29/3/2026), yakni Adchit Al Qusayr.
Saat itu, dua prajurit TNI terluka.
"Yang kedua, kalau tidak salah tahun 2024. Pada saat itu markas kita yang sama di Adchit Al Qusayr itu juga ditembak oleh Israel, diserang kalau tidak salah waktu itu menggunakan pansernya Israel."
"Yang jelas kita pernah ditembak dan waktu itu kalau tidak salah ada dua orang terluka dari prajurit kita, dari anggota kita."
Kemudian, Muchtar menyebut serangan Israel ketiga adalah dua peristiwa terpisah yang menewaskan tiga prajurit TNI di bawah UNIFIL yang terjadi akhir Maret 2026.
"Nah, yang terakhir ini, ini sampai tiga orang gugur," tutur Muchtar.
Menilik tiga kali serangan tersebut, Muchtar Effendi meyakini, Israel memang sengaja menargetkan pasukan perdamaian RI di Lebanon.
"Jadi, kalau dibilang bahwa Israel tidak sengaja atau salah sasaran, salah besar," tegas Muchtar.
"Kalau menurut saya, penilaian kita salah besar terhadap hal itu. Jelas ini sengaja kok, apalagi yang terakhir ini. Satu gugur itu ada di Adchit Al Qusayr. Yang dua gugur itu satu hari setelah itu."
Dengan tewasnya tiga prajurit TNI di dua lokasi di Lebanon selatan, Adchit Al Qusayr dan Bani Hayyan, maka Muchtar menilai, prajurit TNI sudah disasar oleh Israel.
Muchtar pun menilai, PBB harus bertindak tegas terhadap Israel, dan Israel tidak boleh semena-mena terhadap eksistensi PBB dan pasukan perdamaiannya.
"Berarti kan, secara jiwa prajurit, saya menilai bahwa kita inilah jadi sasaran Israel," ucap Muchtar.
"Sehingga saya menanggapinya ini ada hal yang memang harus ditekankan oleh pihak PBB terhadap Israel. Israel juga harus menghormati eksistensi."
"Karena PBB itu kan dibentuk oleh seluruh negara yang ada di dunia ini, tidak hanya oleh negara Lebanon atau negara-negara yang anti dengan Israel."
3 Prajurit TNI yang Tergabung dalam UNIFIL Tewas
Dalam 24 jam, terjadi dua insiden yang berbeda yang menewaskan tiga prajurit TNI yang bertugas di bawah payung United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) atau Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.
Ketiganya adalah sebagai berikut:
Insiden pada hari Minggu juga menyebabkan tiga personel TNI luka-luka, yakni Praka Rico Pramudia yang mengalami luka berat, serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan yang mengalami luka ringan.
Sementara, dalam insiden ledakan pada Senin, dilaporkan ada dua prajurit yang mengalami luka-luka, yakni Lettu Inf. Sulthan Wirdean Maulana dari Yonif 320 dan Prajurit Kepala (Praka) Deni Rianto dari AU Lanud Atang Sanjaya.
(Tribunnews.com/Rizki A.)