TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi operasi militer besar-besaran untuk menyita 450 kg uranium milik Iran. Langkah ini menandai eskalasi paling ekstrem dalam upaya Washington melumpuhkan ambisi nuklir Teheran.
Misi tersebut dinilai sebagai operasi yang sangat kompleks dan memiliki risiko tinggi.
Berbeda dengan serangan udara konvensional, operasi ini diprediksi akan menempatkan pasukan darat Amerika Serikat di dalam wilayah kedaulatan Iran selama beberapa hari atau lebih guna memastikan pengamanan material nuklir tersebut.
Risiko Tinggi di Jantung Iran
Sejumlah pejabat tinggi Gedung Putih menyatakan bahwa hingga Selasa (31/3/2026), Presiden Trump belum mengambil keputusan final.
Namun, ia secara tegas tetap membuka peluang bagi operasi darat tersebut sebagai opsi utama guna mencegah Iran mencapai ambisi senjatanya.
Baca juga: Eskalasi Memanas! AS Mulai Kerahkan B-52 di Wilayah Iran dan Klaim Telah Hancurkan 150 Kapal Perang
Rencana Donald Trump incar uranium Iran ini muncul di tengah situasi kawasan yang kian membara pasca-gempuran udara besar-besaran yang dilakukan pasukan koalisi sebelumnya.
Kehadiran pasukan darat AS di wilayah Iran dianggap sebagai pertaruhan besar yang dapat memicu konfrontasi langsung dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Langkah Prosedural Gedung Putih
Menanggapi kabar tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memberikan pernyataan terbatas. Ia menegaskan bahwa pihak militer saat ini hanya menjalankan tugas sesuai protokol standar dalam menyiapkan berbagai skenario di lapangan.
"Militer saat ini menjalankan tugas prosedural untuk menyiapkan segala kemungkinan yang ada," ujar Leavitt singkat dalam keterangannya kepada media.
Langkah strategis ini diperkirakan akan memicu reaksi keras dari komunitas internasional, mengingat potensi gangguan terhadap stabilitas keamanan global dan pasar energi.
Jika benar-benar terlaksana, misi penyitaan uranium ini akan menjadi salah satu manuver militer paling berani dalam sejarah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. (sal/kps)
Baca juga: Lautan Manusia di AS: 7 Juta Warga Turun ke Jalan Serukan Gerakan "No Kings" Lawan Trump