Viral Jalan Desa Biiih Kabupaten Banjar Rusak dan Berdebu, Diduga Akibat Angkutan Aktivitas Tambang
Irfani Rahman April 01, 2026 06:48 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA- Kondisi jalan di Desa Biiih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan menjadi sorotan setelah sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan akses jalan desa tersebut dipenuhi batu dan debu tebal.

Dalam rekaman yang beredar, jalan tampak rusak dan menyerupai jalur off-road. Perekam video juga menyoroti dugaan adanya aktivitas tambang di sekitar lokasi yang disebut-sebut turut mempengaruhi kondisi jalan.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung bagi warga, terutama para petani durian yang setiap hari harus melintasi jalur tersebut untuk membawa hasil panen menuju kota.

Selain menyulitkan mobilitas, jalan yang rusak dan berdebu juga dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan, khususnya saat dilalui kendaraan bermuatan hasil pertanian.

Sejumlah warganet pun ramai menanggapi video tersebut di media sosial. Mereka mempertanyakan pengawasan serta tanggung jawab pihak terkait terhadap kondisi infrastruktur jalan di kawasan tersebut.

Baca juga: Asal Muasal Polisi Datangi Rumah Diduga Pesta LBGT di Kotabaru, Sebut Ada Cupang di Badan Satu Pria 

Baca juga: Universitas Lambung Mangkurat Catat 12 Ribu Pendaftar SNBP 2026, 20 Kursi Masih Tersisa

Dari pengamatan Banjarmasin Post, kondisi itu masih sama dan malam lebih parah dari kondisi tiga tahun sebelumnya. 

Dimana Banjarmasin Post, pada 2023 juga sudah mengulas akses di biih yang rusak tersebut diduga kuat dari dampak aktifitas tambang.

Terbaru, kondisi itu kembali diviralkan oleh akun tiktok.

Kepala Desa Biih, Yusuf Halidi membenarkan kondisi jalan di desanya rusak akibat terdampak adanya angkutan batubara yang melintas.

Dia meneyebut lokasi tambangnya di desa sebelah namun melintasnya di Desa Biih.

Dijelaskan dia, soal kerusakan jalan tersebut sudah diajukan perbaikan via usulan musrenbang namun masih belum ada acc perbaikan.

Soal aktifitas tambang yang lalulintas di jalan desanya itu diakuinya tidak setiap hari. 

Ketika batubara di lokasi itu akrifita, desanya menerima uang kompensasi dari perusahaan tambang sebanyak empat kali.

Uang kompensasi berkisar Rp 5 dampai Rp 6 juta satu kali dapat tersebut digunakan untuk keperluan desa.

(Banjarmasin Post/Nurholis Huda) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.