TRIBUNNEWSMAKER.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa operasi militer negaranya di Iran akan segera mencapai tahap akhir dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah situasi konflik yang masih berlangsung sejak akhir Februari dan terus berdampak luas, termasuk pada stabilitas energi global.
Trump bahkan memberikan gambaran waktu yang cukup spesifik terkait penghentian operasi tersebut.
Ia menyebut bahwa dalam kurun dua hingga tiga pekan ke depan, pasukan AS berpotensi mulai ditarik dari wilayah Iran.
Meski demikian, di saat yang sama, pemerintahannya tetap melakukan pendekatan diplomatik sembari melanjutkan tekanan militer melalui serangan udara.
Dalam sebuah acara resmi di Gedung Putih pada Selasa (31/3/2026), Trump menegaskan bahwa target utama operasi hampir sepenuhnya tercapai.
Ia juga menambahkan bahwa proses penyelesaian operasi kini hanya tinggal menunggu waktu.
Baca juga: Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Mendadak ke Solo, Jokowi Sajikan Gudeg hingga Opor Ayam
“Kami sedang menyelesaikan tugas ini, dan saya pikir dalam waktu mungkin dua minggu, mungkin beberapa hari lebih lama, pekerjaan ini akan selesai.”
Trump menekankan bahwa keputusan untuk menghentikan operasi militer tidak bergantung pada hasil negosiasi dengan pihak Iran.
“Mereka tidak harus membuat kesepakatan dengan saya,” katanya kepada wartawan di Ruang Oval.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir.
“Ketika kami merasa bahwa mereka, untuk waktu yang lama, telah dikembalikan ke zaman batu dan tidak akan mampu membuat senjata nuklir, maka kami akan pergi. Apakah ada kesepakatan atau tidak, itu tidak relevan.”
Pernyataan Trump muncul setelah Iran melakukan langkah balasan dengan menutup secara efektif Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker minyak. Jalur penting ini merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia.
Namun, Trump justru meminta negara-negara lain untuk mengurus sendiri kebutuhan energi mereka.
“Jika Perancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan pergi melalui Selat Hormuz, mereka akan lewat ke sana, dan mereka akan mampu menjaga diri mereka sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung, “China akan lewat ke sana dan mereka akan mengisi bahan bakar kapal-kapal indah mereka dan mereka akan mengurus diri mereka sendiri. Tidak ada alasan bagi kami untuk melakukannya.”
Dalam unggahan di Truth Social, Trump bahkan menulis pesan bahwa AS tak akan membantu negara-negara lain untuk mengamankan jalur pelayaran Selat Hormuz.
“Amerika Serikat tidak akan ada di sana untuk membantu Anda lagi, seperti Anda tidak ada untuk kami. Iran pada dasarnya telah dihancurkan. Bagian tersulit sudah selesai. Pergi ambil minyak Anda sendiri!” tulisnya.
Baca juga: Faktor-faktor Pemicu Harga Minyak Dunia Meroket, Perang Iran vs AS-Israel Jadi Biang Kerok Utama
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menguatkan pernyataan Trump. Dalam konferensi pers, ia mengatakan bahwa konflik ini bukan hanya tanggung jawab Amerika Serikat.
“Ini bukan hanya masalah kami ke depan, meskipun kami telah melakukan sebagian besar persiapan untuk memastikan bahwa selat itu tetap terbuka,” ujarnya.
Hegseth juga menekankan bahwa fase berikutnya dari perang akan sangat krusial.
“Hari-hari mendatang akan menentukan. Iran mengetahui hal itu, dan hampir tidak ada yang bisa mereka lakukan secara militer untuk mengubahnya,” katanya.
Ia juga mengungkapkan telah melakukan kunjungan mendadak ke pasukan AS yang terlibat dalam operasi di kawasan tersebut.
“Kami berada di lapangan di Centcom pada Sabtu selama sekitar setengah hari. Demi keamanan operasional, agar pasukan tersebut tidak menjadi target, lokasi dan pangkalan tidak akan disebutkan,” ujarnya.
(TribunNewsmaker.com/ Kompas.com)