SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, Palembang sering kali dianggap sebagai kota dengan biaya hidup paling menantang di Bumi Sriwijaya.
Namun, bagaimana jika Palembang disandingkan dengan daerah di Pulau Jawa yang memiliki karakteristik ekonomi serupa?
Kali ini, Palembang "diadu" dengan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sidoarjo bukan daerah sembarangan, ia adalah wilayah penyangga utama Surabaya sekaligus pusat industri, perdagangan, dan UMKM yang dijuluki sebagai Kota Udang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, berikut adalah peta perbandingan biaya hidup di kedua wilayah tersebut.
Baca juga: Palembang vs Makassar: Mengintip Kantong Ibu Kota, Mana yang Lebih Ramah di Dompet?
Kabupaten Sidoarjo salah satu daerah yang berada di Jawa Timur.
Daerah ini merupakan wilayah penyangga utama Kota Surabaya yang terkenal dengan Kota Udang.
Sidoarjo dikenal sebagai pusat industri, perdagangan dan UMKM.
Adapun rata-rata pengeluaran per kapita di Sidoarjo mencapai Rp 1.926.824 per bulan.
Terdiri dari untuk makanan sebesar Rp 876.237 per bulan dan bukan makanan Rp 1.050.587 per bulan.
Namun upah minimum Sidoarjo merupakan salah satu daerah yang tertinggi di Jawa Timur.
UMK Sidoarjo pada 2026 mencapai Rp Rp 5.191.541 per bulan
Sama seperti Makassar, Palembang juga merupakan kota dengan biaya hidup tertinggi di Sumatera Selatan.
Rata-rata pengeluaran per kapita Palembang mencapai Rp 1.879.226 per bulan.
Terdiri dari untuk makanan sebesar Rp 794.213 per bulan dan bukan makanan Rp 1.085.013 per bulan.
Secara angka murni, Palembang lebih murah dibandingkan Sidoarjo dengan selisih sekitar Rp 47.598 per bulan. Penghematan paling terasa bagi warga Palembang ada pada sektor pangan.
Namun, Sidoarjo memiliki keunggulan dari sisi pendapatan. Meskipun biaya hidupnya sedikit lebih tinggi, upah minimum yang berada di angka Rp 5,1 juta memberikan ruang finansial yang lebih lebar bagi pekerjanya dibandingkan rata-rata upah di wilayah Sumatera Selatan.
Pada akhirnya, pilihan antara hidup lebih murah di Palembang atau hidup dengan upah tinggi di Sidoarjo kembali pada prioritas dan gaya hidup masing-masing individu.