TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Majian seorang petani kelapa sawit di Desa Suak Putat, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, mengungkap perubahan dalam pengelolaan kebunnya setelah mengikuti program pelatihan peningkatan kapasitas petani.
Pengelolaan pemupukan yang sebelumnya dilakukan berdasarkan kebiasaan, kini dilaksanakan secara lebih terukur melalui penentuan dosis yang tepat dan penerapan jadwal yang lebih teratur.
Perubahan tersebut terjadi setelah yang bersangkutan mengikuti pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA) di sejumlah wilayah operasional perusahaan, termasuk di Provinsi Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
“Dulu saya pikir memupuk itu gampang, tinggal tabur saja. Ternyata cara kita memupuk itu menentukan sehat tidaknya sawit yang ditanam. Kalau pemupukan dilakukan dengan benar, hasilnya memang akan optimal. Hal ini baru saya ketahui saat mengikuti pelatihan PERKASA. Kami mendapat banyak pengalaman tentang pembibitan, perawatan hingga panen yang bisa langsung kami terapkan di kebun,” kata Majian, Rabu(1/4/2026).
Program pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman petani terhadap praktik agronomi yang baik dan benar.
Melalui pelatihan tersebut, peserta memperoleh pengetahuan terkait pemilihan jenis pupuk yang sesuai, penentuan dosis yang tepat, serta waktu aplikasi yang efektif guna mendukung pertumbuhan tanaman.
Sebelumnya, praktik budidaya yang dilakukan cenderung didasarkan pada pengalaman turun-temurun tanpa didukung oleh pemahaman teknis yang memadai.
Program PERKASA merupakan bagian dari inisiatif perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas agronomi petani.
Kegiatan ini dirancang untuk mendorong peningkatan produktivitas kebun sekaligus mendukung terciptanya kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Program ini juga sejalan dengan nilai-nilai yang menekankan kontribusi terhadap pembangunan sektor pertanian di Indonesia.
Pelaksanaan pelatihan dilakukan dengan pendekatan kombinasi antara teori dan praktik, dengan komposisi sekitar 40 persen materi teoritis dan 60 persen praktik lapangan.
Kegiatan berlangsung secara intensif selama tiga hari, dengan tujuan agar peserta mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh secara langsung di kebun masing-masing.
Sementara itu Durham, petani sawit asal Desa Muara Pias, Long Kali, Paser, Kalimantan Timur yang juga menjadi peserta PERKASA, mengaku selama ini menghadapi berbagai kendala dalam budidaya kelapa sawit akibat keterbatasan pengetahuan.
Mulai dari persoalan bibit yang tidak sesuai harapan, serangan hama di awal tanam, hingga tanaman yang tidak berbuah tanpa diketahui penyebab pastinya.
“Kendala di lapangan memang banyak, terutama soal bibit dan hama. Dulu kami bekerja berdasarkan kebiasaan saja, jadi ketika ada tanaman yang tidak berbuah, kami tidak tahu apakah itu karena bibit atau cara perawatannya. Setelah ikut pelatihan PERKASA, kami jadi paham sistem dan praktik yang benar. Ilmu ini sangat membantu untuk memperbaiki pengelolaan kebun agar hasilnya bisa lebih baik,” ujar Durham.
Sebagai tindak lanjut, petani akan dipantau pasca pelatihan secara berkala guna memastikan penerapan materi yang telah diberikan.
Pendampingan berkelanjutan ini diharapkan dapat mendorong perubahan praktik budidaya menjadi lebih konsisten dan berstandar.
Selain itu, perusahaan menyediakan layanan konsultasi agronomi melalui saluran komunikasi yang dapat diakses oleh peserta pelatihan maupun masyarakat umum.
Baca juga: Prabowo Sindir Pihak yang Nyinyir soal Kelapa Sawit: It is a Miracle Crop
Secara umum, program pelatihan ini diharapkan dapat mendorong perubahan pola pikir dan praktik petani dalam mengelola kebun, dari yang semula berbasis kebiasaan menjadi berbasis pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dapat dicapai secara berkelanjutan.