TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Tribun Pontianak bersama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Kalimantan Barat (BPSDM Kalbar) menggelar podcast bertema “Kepemimpinan Adaptif di Era Efisiensi: Strategi Menghadapi Perubahan dan Keterbatasan”.
Kegiatan tersebut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Tribun Pontianak, Rabu 1 April 2026.
Podcast tersebut dipandu oleh Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak, Safruddin, dengan menghadirkan narasumber Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas Aparatur Sipil Negara Tri Widodo Wahyu Utomo, Kepala Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalbar Rudy M Harahap, serta Kepala BPSDM Kalbar Windy Prihastari.
Dalam diskusi tersebut, Tri Widodo menyoroti kondisi efisiensi anggaran yang saat ini dirasakan hampir di seluruh kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah, termasuk dalam program pengembangan sumber daya manusia aparatur.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinovasi dalam meningkatkan kapasitas aparatur.
“Realitas saat ini kita semua mengalami efisiensi. Namun kita tidak bisa hanya mengeluh, melainkan harus mencari solusi agar efisiensi ini tidak membuat kita mundur,” ujarnya.
Baca juga: Gubernur Kalbar Tegaskan Pemprov Kalbar Siap Terapkan Aturan WFH ASN Setiap Jumat
Ia menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran pelatihan membuat sejumlah instansi tidak lagi mampu mengirim pegawai mengikuti pelatihan secara tatap muka. Sebagai solusi, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) mendorong transformasi metode pembelajaran melalui sistem daring atau virtual untuk menekan biaya.
Selain itu, LAN RI juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga nonpemerintah, seperti yang telah terjalin antara LAN RI bersama Pijar Foundation dan Tanoto Foundation dalam mendukung program pelatihan kepemimpinan pada Diklat PKN I LAN RI.
Tri Widodo menambahkan bahwa metode pembelajaran juga kini dikembangkan melalui pendekatan coaching dan mentoring di tempat kerja, di mana atasan langsung berperan aktif dalam membimbing bawahannya.
“Pelatihan yang efektif sebenarnya terjadi di tempat kerja, antara peserta dengan atasannya. Jadi pembelajaran tidak hanya berasal dari widyaiswara atau pengajar,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya transformasi digital dalam sistem pembelajaran aparatur negara. Ke depan, kementerian dan lembaga didorong untuk menciptakan konten pembelajaran sendiri yang dapat diakses secara luas melalui platform digital.
Konsep tersebut dikenal sebagai corporate university (Corpu), di mana instansi pemerintah menjadi pusat pengetahuan dan pembelajaran bagi para pegawainya.
“Kalau semua kementerian dan lembaga bisa menciptakan marketplace pembelajaran bagi pegawainya, maka instansi pemerintah bisa menjadi seperti universitas, sebagai gudang pengetahuan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BPKP Kalbar, Rudy M Harahap, menegaskan pentingnya perencanaan dan penganggaran yang baik dalam mewujudkan efisiensi dan efektivitas program pemerintah.
Menurutnya, BPKP saat ini melakukan evaluasi terhadap perencanaan dan penganggaran melalui pendekatan ex ante audit, yakni audit yang dilakukan sebelum program dilaksanakan.
“Dalam perencanaan harus jelas proses, input, serta indikator kinerjanya. Dengan begitu kita bisa menilai apakah program tersebut efektif dan efisien,” ujarnya.
Ia menilai BPSDM Kalbar telah mengambil langkah strategis dengan mengangkat isu perencanaan dan penganggaran sebagai salah satu fokus peningkatan kapasitas ASN di daerah.
“Saya melihat BPSDM Kalbar selangkah di depan. Isu planning dan budgeting yang menjadi perhatian pimpinan daerah dibungkus menjadi strategi pengembangan kapasitas ASN,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala BPSDM Kalbar Windy Prihastari menilai tantangan terbesar dalam pengembangan aparatur saat ini adalah membangun kesadaran ASN agar mau berubah dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, ASN profesional harus adaptif terhadap perubahan serta memiliki literasi teknologi yang baik.
“Sebagai ASN profesional kita harus adaptif dan melek teknologi. Hal ini selalu kami sampaikan sejak pendidikan dasar seperti Latsar agar ASN memahami perannya sebagai pelayan publik,” ujarnya.
Windy yang baru sekitar tiga bulan memimpin BPSDM Kalbar menegaskan bahwa berbagai tantangan yang ada justru menjadi motivasi untuk menghadirkan inovasi dan solusi.
Ia juga mendorong optimalisasi peran BPSDM tidak hanya sebagai pusat pendidikan bagi ASN, tetapi juga sebagai lembaga pelatihan yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas.
Selain itu, BPSDM Kalbar tengah mempersiapkan diri untuk menjadi penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II secara nasional.
“Ini menjadi peluang besar, tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas ASN tetapi juga berpotensi menambah pendapatan daerah serta memperkuat pengembangan konsep Kalbar Corporate University,” pungkasnya. (*)
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!