TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pembatasan akses remaja di bawah 16 tahun ke media sosial oleh pemerintah, tidak sepenuhnya membuat anak berhenti bermain ponsel.
Vandy, warga Kendal, menyampaikan, saat ini anak tak selalu fokus untuk membuka medsos, melainkan bermain game online yang kerap kali lupa waktu.
"Langkah dari pemerintah (untuk membatasi akses ke medsos—Red) itu bagus, cuma kan ponsel itu isinya nggak hanya medsos. Ada game online, kayak PUBG, FF, ataupun sejenisnya," kata Vandy kepada Tribun Jateng, Senin (29/3/2026).
Vandy menuturkan, orang tua kini harus memiliki peran ekstra untuk menjauhkan anak dari aktivitas ponsel berlebihan dan melakukan pembatasan ketat.
"Ya kalau misalkan ada pembelajaran yang sifatnya online kan kita mau enggak mau harus pakai ponsel, setelah itu bisa kita simpan," kata Vandy.
"Atau, juga sebagai bahan edukasi ke anak, tetapi tidak meminjamkan ponsel secara langsung, jadi kita bisa ngobrol sama anak lebih dalam," sambungnya.
Meski pembatasan telah diberlakukan, sejak Sabtu (28/3/2026), nyatanya masih banyak remaja yang bisa mengakses medsos atau game.
Lestari, warga Banyumas menyatakan, akun medsos anaknya seperti Roblox dan lainnya masih bisa digunakan.
"Tapi nyatanya masih bisa dimainkan, Tiktok juga masih ada, tidak tiba-tiba hilang begitu saja. Karena takutnya bisa saja buat lagi dengan akun lain kan bisa saja," kata Lestari.
Pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, mulai 28 Maret 2026.
Kebijakan ini merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas) yang kemudian diperkuat melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.
Sejumlah platform besar terdampak kebijakan ini, di antaranya Youtube, Tiktok, Instagram, Facebook, Threads, X (Twitter), hingga Roblox.
Berdasarkan pantauan dan pengamatan Tribun Jateng, akses anak dalam menggunakan aplikasi dan game-game tersebut masih bisa dilakukan dan dimainkan.
Salah seorang siswa bernama Aji Pribadi (13), warga Banyumas, mengaku masih aktif bermain Tiktok dan game Roblox.
"Kalau di Roblox saya mainnya itu kaya battle sama action gitu tembak-tembakan, tapi ada juga permainan lain seperti adopsi hewan, ada banyak permainan lainnya," ucapnya.
Aji mengatakan, durasi bermainnya memang tidak menentu kadang seusai pulang sekolah sampai sore sebelum berangkat mengaji.
"Biasanya pulang sekolah sudah boleh pegang hp, terus 2 atau 3 jam ada sih, habis itu jeda sorenya kalau mau ada les atau ngaji,” katanya.
“Pulangnya boleh pegang hape lagi dari jam 5 sore sampai 7 malam sambil ngerjain PR," jelasnya.
Tidak berlebihan
Sementara itu, Ketua OSIS SMPN 1 Kajen, Kabupaten Pekalongan, Rara Kirana Chandra Kanti, menilai langkah pembatasan akses medsos bagi remaja tersebut penting untuk melindungi generasi muda, namun pelaksanaannya perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan.
Menurut Rara, pembatasan media sosial memang dibutuhkan di tengah maraknya konten negatif yang mudah diakses oleh anak-anak.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pelarangan total bukanlah solusi yang tepat di era digital saat ini.
"Anak-anak sekarang juga sudah hidup dengan teknologi, jadi tetap perlu diberi ruang untuk menggunakan media sosial," ujar Rara, Senin (30/3).
Ia menilai, upaya yang lebih efektif adalah dengan menyaring konten serta membatasi fitur-fitur tertentu yang berpotensi menimbulkan dampak negatif.
Dengan demikian, anak-anak tetap dapat memanfaatkan media sosial secara positif tanpa harus kehilangan akses sepenuhnya.
"Pengawasan dari orang tua atau anggota keluarga lain menjadi kunci agar penggunaan media sosial tetap terarah," ujarnya.
Senada, Wakil Kepala Kesiswaan SMPN 1 Kajen, Ahmad Kunaifi mengatakan, bahwa penggunaan media sosial oleh pelajar dapat memberikan manfaat apabila berada dalam pengawasan orang tua maupun guru.
"Media sosial, dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengakses informasi secara cepat. Kalau dalam pengawasan, tentu ada sisi positifnya. Anak-anak bisa memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat, termasuk mencari informasi," kata Kunaifi.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tanpa pendampingan, penggunaan media sosial justru dapat berdampak negatif.
Banyak siswa yang dinilai belum mampu memahami risiko serta batasan dalam bermedia sosial.
"Kadang mereka belum bisa membedakan, mana informasi yang benar dan mana yang tidak. Akhirnya, semua dibagikan begitu saja," jelasnya. (Agus Salim Irsyadullah/Permata Putra Sejati/Reza Gustav/Indra Dwi Purnomo)