Presiden Iran Tulis Surat Terbuka kepada Warga Amerika: Kami Tidak Menyimpan Permusuhan terhadap AS
Suci BangunDS April 02, 2026 08:38 AM


TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran mengatakan negaranya tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Amerika.

Dilansir The Guardian, dalam suratnya kepada rakyat Amerika, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjabarkan keluhan historis yang telah lama menjadi dasar ketidakpercayaan Iran terhadap AS.

Titik baliknya adalah kudeta tahun 1953, yang ia sebut sebagai intervensi ilegal Amerika untuk mencegah nasionalisasi sumber daya Iran.

"Hubungan sebelum itu pada awalnya tidak bermusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak diwarnai permusuhan atau ketegangan," tulisnya.

Ia mengatakan ketidakpercayaan semakin dalam akibat dukungan AS terhadap Shah, dukungan terhadap Saddam Hussein, sanksi tidak manusiawi yang meluas, serta yang terbaru, dua kali agresi militer tanpa provokasi di tengah negosiasi terhadap Iran.

Kelanjutan agresi militer dan pemboman baru-baru ini sangat memengaruhi kehidupan, sikap, dan perspektif masyarakat.

Pezeshkian kemudian menekankan adanya perbedaan antara pemerintah AS dan rakyat Amerika Serikat.

Menurutnya, warga Amerika, Eropa, dan negara lain tidak dipandang sebagai musuh, meskipun permusuhan telah berlangsung selama beberapa dekade.

"Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap negara lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara tetangga."

"Serangan terhadap infrastruktur Iran yang menargetkan rakyat kami memiliki konsekuensi di luar perbatasan negara."

"Apa yang kami lakukan sebagai tanggapan didasarkan pada hak yang sah untuk membela diri, bukan tindakan agresi."

"Bahkan di tengah intervensi dan tekanan asing yang berulang sepanjang sejarah mereka yang membanggakan, rakyat Iran secara konsisten membuat perbedaan yang jelas antara pemerintah dan rakyat yang mereka pimpin."

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pertemuan KTT BRICS di kota Kazan, barat daya Rusia, pada Rabu (23/10/2024).
PERANG IRAN - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pertemuan KTT BRICS di kota Kazan, barat daya Rusia, pada Rabu (23/10/2024). (Stanislav Krasilnikov/Handout/brics-russia2024.ru)

"Ini adalah prinsip yang berakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran, bukan sekadar sikap politik sementara."

Pezeshkian juga mempertanyakan apakah Amerika Serikat benar-benar mengutamakan "America First" dalam kebijakannya terhadap Iran, atau justru bertindak sebagai "proksi" untuk Israel.

"Bukankah juga benar bahwa Amerika telah memasuki agresi ini sebagai proksi untuk Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?"

"Bukankah jelas bahwa Israel kini bertujuan memerangi Iran hingga tentara Amerika terakhir dan uang pajak Amerika terakhir, dengan mengalihkan beban konfliknya kepada Iran, kawasan, dan Amerika Serikat sendiri demi mengejar kepentingan yang tidak sah?"

Presiden Iran menyatakan bahwa dunia saat ini berada di persimpangan jalan.

Ia berpendapat bahwa melanjutkan permusuhan terhadap Iran akan semakin mahal dan sia-sia.

Masoud Pezeshkian menggambarkan pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan sebagai sama-sama nyata dan penting, serta memperingatkan bahwa hasilnya akan membentuk masa depan generasi mendatang.

Gedung Putih: Kampanye Trump terhadap Iran Tetap Jelas

Sementara itu, Gedung Putih menyatakan bahwa tujuan Presiden AS Donald Trump dalam kampanye melawan rezim Iran tetap jelas dan tidak berubah, serta terus mendorong kemajuan yang menentukan.

Mengutip Iran International, Trump dijadwalkan berpidato di hadapan bangsa pada Rabu (1/3/2026) malam waktu setempat mengenai Operasi Epic Fury, yaitu kampanye militer AS yang secara sistematis bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam Amerika Serikat dan dunia bebas.

Dalam pernyataannya, Gedung Putih mengatakan operasi tersebut bertujuan menghancurkan persenjataan rudal balistik dan kapasitas produksi Iran, melemahkan kekuatan angkatan lautnya, memutus dukungan terhadap kelompok sekutu, serta mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Disebutkan pula bahwa kampanye ini dijalankan dengan kekuatan dan ketelitian yang tak tertandingi di bawah kepemimpinan Trump.

Baca juga: Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Profesor China Prediksi Amerika Kalah Perang

Perkembangan Lainnya

- Gencatan Senjata

Mengutip The Guardian, Iran menolak klaim Donald Trump yang menyebut pihaknya meminta gencatan senjata. Teheran menyebut pernyataan tersebut palsu dan tidak berdasar.

Trump sebelumnya menyampaikan klaim itu melalui unggahan di Truth Social:

“Presiden rezim baru Iran, yang jauh kurang radikal dan lebih cerdas daripada pendahulunya, baru saja meminta gencatan senjata kepada Amerika Serikat!”

“Kami akan mempertimbangkannya ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan aman. Sampai saat itu, kami akan membombardir Iran hingga musnah atau kembali ke Zaman Batu!!!”

- AS Berpotensi Keluar dari NATO

Trump juga menyatakan bahwa ia benar-benar mempertimbangkan untuk menarik AS dari NATO.

Ia memperingatkan bahwa isu tersebut tidak bisa diabaikan lagi setelah sekutu AS menolak bergabung dalam perang AS-Israel melawan Iran.

Pernyataan ini dinilai sebagai ancaman paling serius sejauh ini dan disebut dapat memicu krisis terbesar dalam sejarah aliansi tersebut yang telah berusia 77 tahun, menurut seorang mantan duta besar AS.

Baca juga: Iran Sebut Retorika Politikus Pendukung Trump Mirip Pola Pikir Nazi dan Fasisme

- Pejabat Iran Terluka

Di Teheran, Kamal Kharazi, pejabat kebijakan luar negeri terkemuka sekaligus mantan menteri luar negeri Iran, mengalami luka parah akibat serangan udara di kediamannya.

Istrinya dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Kharazi, yang dikenal sebagai politisi moderat dan pakar kebijakan senior, juga pernah menjabat sebagai penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Laporan menyebutkan bahwa penargetan terhadapnya dipandang sebagai upaya untuk menggagalkan jalur diplomasi.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.