TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Gempa tektonik bermagnitudo (M) 7,6 yang mengguncang tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4/2026) pagi dikabarkan berpotensi tsunami. Begini situasi di kawasan pesisir usai gempa.
Deteksi tsunami, sistem peringatan dini mencatat kenaikan air laut setinggi 0,3 meter di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB, disusul 0,2 meter di Bitung pada pukul 06.15 WIB.
Baca juga: Gempa Magnitudo 7,6 di Sulawesi Utara, Satu Korban Dikabarkan Meninggal Dunia
Pusat guncangan berada di Kota Bitung, getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut) wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate.
Kepanikan warga pun tak terhindarkan, terutama di kawasan permukiman padat.
Di wilayah pesisir, fenomena perubahan muka air laut sempat terjadi.
Di Pulau Bangka tepatnya di Lihunu, Minut air laut dilaporkan naik lalu turun drastis.
Sementara di Lembeh dan pintu masuk Kota Bitung, air laut terinformasi naik dengan cepat hingga mencapai badan jalan.
Masih di Lembeh kota kecil, air laut dikabarkan alami penyusutan secara tak biasa.
Sebaliknya, di Belang, air laut justru surut secara ekstrem.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengungkapkan terkait deteksi tsunami, sistem peringatan dini.
Tercatat kenaikan air laut setinggi 0,3 meter di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB, disusul 0,2 meter di Bitung pada pukul 06.15 WIB.
Meski ketinggian gelombang tergolong kecil, BNPB meminta masyarakat untuk tidak memandang remeh situasi ini.
"Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, dihimbau untuk tetap menjauhi pantai. Jangan kembali ke area rawan sebelum ada pernyataan resmi aman dari pemerintah," tegas Abdul Muhari.
Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah titik.
Dinding RS Siloam Manado mengalami retak akibat guncangan.
Selain itu, plafon Gereja Katolik Paroki Bhky Rumengkor runtuh.
Sementara Gereja Jemaat Imanuel Bitung dilaporkan mengalami kerusakan.
Di Kota Manado, rumah warga di Kelurahan Banjer Lingkungan II juga mengalami kerusakan, disertai laporan perabot rumah tangga yang rusak akibat guncangan.
Fasilitas umum tak luput dari dampak.
Gedung olahraga milik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Manado dilaporkan mengalami kerusakan.
Bahkan, seorang warga dikabarkan meninggal dunia, meski detail penyebabnya masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
Di kompleks Perumahan Viola Land 2, Matungkas, Minahasa Utara, warga terlihat panik berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.
Sebagian warga berlari tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap, bahkan ada yang sambil membawa bayi dan menggendong anak-anak demi menyelamatkan diri.
Pasca gempa, sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara juga sempat mendapatkan peringatan dini tsunami.
Warga diimbau tetap waspada, menjauhi wilayah pesisir, serta mengikuti arahan resmi dari pemerintah dan lembaga terkait untuk menghindari risiko lanjutan.
Daftar Lengkap Daerah Berpotensi Terdampak Tsunami Akibat Gempa Magnitudo 7,6 di Bitung Sulut
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi sekitar pukul 05.48 WIB atau 06.48 WITA dengan magnitudo awal mencapai 7,3–7,6.
Pusat gempa berada di laut, sekitar 127–129 kilometer tenggara Kota Bitung, dengan kedalaman berkisar 18 hingga 62 kilometer.
Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, sejumlah wilayah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara berpotensi terdampak tsunami dengan status berbeda, yakni Siaga dan Waspada.
Untuk status Siaga, wilayah yang diperkirakan terdampak lebih awal meliputi Kota Ternate pada pukul 05.53 WIB, disusul Halmahera pukul 05.54 WIB, dan Kota Tidore pukul 05.56 WIB.
Sementara di Sulawesi Utara, Kota Bitung diperkirakan terdampak sekitar pukul 06.12 WIB, kemudian Minahasa bagian selatan pada pukul 06.17 WIB, serta Minahasa Selatan dan Minahasa Utara bagian selatan sekitar pukul 06.18 WIB.
Adapun wilayah dengan status Waspada mencakup Kepulauan Sangihe yang diperkirakan terdampak pada pukul 06.14 WIB, Minahasa Utara bagian utara pukul 06.15 WIB, serta Bolaang Mongondow bagian selatan sekitar pukul 06.21 WIB.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah tersebut untuk tetap tenang namun waspada, serta segera mengikuti arahan dari pihak berwenang guna mengantisipasi potensi dampak yang mungkin terjadi.
Status SIAGA:
Kota Ternate (Maluku Utara) – estimasi tiba 05:53:14 WIB
Halmahera (Maluku Utara) – estimasi tiba 05:54:14 WIB
Kota Tidore (Maluku Utara) – estimasi tiba 05:56:14 WIB
Kota Bitung (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:12:14 WIB
Minahasa bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:17:14 WIB
Minahasa Selatan bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:18:14 WIB
Minahasa Utara bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:18:14 WIB
Status WASPADA:
Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:14:14 WIB
Minahasa Utara bagian utara (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:15:14 WIB
Bolaang Mongondow bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:21:14 WIB
Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk segera mengikuti arahan resmi dari BMKG dan pihak berwenang setempat.
Gempa bumi magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis 2 April 2026 pagi dikabarkan telah menelan korban jiwa.
Kabar sementara diketahui satu orang korban meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan di Gedung KONI Manado.
Mengutip laporan Kompas TV, satu orang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan di Gedung KONI Manado. Korban diketahui bernama Deice Lahia (70), warga Tateli, Kabupaten Minahasa.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,6 ini disebut juga membuat Gedung KONI runtuh.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa berpusat di koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur, dengan kedalaman 62 kilometer.
Guncangan kuat tidak hanya dirasakan di wilayah pesisir, tetapi juga hingga ke Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara).
(Tribunnews.com/Anita/Yuda/ Tribu Manadi/Ind/Fyd)