TRIBUNJATENG.COM - Perwakilan Israel asik dengan gawainya saat Indonesia memberikan kecaman kepada negara tersebut dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sidang digelar atas permintaan Indonesia dan Perancis untuk membahas peristiwa penyerangan pasukan perdamaian PBB (Unifil) di Lebanon akhir Maret 2026.
Akibat serangan tersebut tiga prajurit TNI gugur di lokasi. Sementara sejumlah prajurit lainnya mengalami luka-luka.
Meninggalnya para prajurit TNI penjaga perdamaian mengundang duka mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Baca juga: Terungkap Artileri Israel Hantam Tempat Ibadah Pos PBB, Praka Farizal Gugur saat Shalat Isya
Baca juga: Gema Suara Indonesia di Sidang DK PBB, Tuntut Investigasi Gugurnya Prajurit TNI Bukan Alasan Israel
Dalam sidang darurat tersebut, Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi mengutuk serangan Israel di Lebanon dan mengatakan peristiwa penyerangan yang terjadi terhadap pasukan perdamaian tak lahir dari ruang hampa.
"Eskalasi saat ini tidak muncul dalam ruang hampa. Ini berasal dari serangan berulang oleh militer Israel ke wilayah Lebanon," ujar Umar Hadi dalam sidang yang digelar di Markas DK PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (31/3/2026).
"Indonesia mengutuk keras serangan Israel di Lebanon selatan, yang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon," ucapnya lagi.
Saat Umar mengucapkan dengan lantang kecaman tersebut menggunakan bahasa Inggris, UN Web TV yang menyiarkan sidang tersebut secara langsung menyoroti wajah Dubes Israel untuk PBB Danny Danon.
Danny terlihat asyik bermain gawainya. Ia terlihat mengetik gawai dengan dua jari telunjuk tangannya, kiri dan kanan.
Umar Hadi tetap melanjutkan membacakan pernyataan Indonesia dan menyebut serangan terhadap pasukan perdamaian bukan sekadar insiden, melainkan serangan yang disengaja merusak mandat resolusi 1701 dari PBB.
"Serangan ini juga merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional dan dapat merupakan kejahatan perang di bawah hukum internasional. Oleh karena itu, kami menuntut penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan," kata Umar.
Sebab itu, Umar mendesak DK PBB menindaklanjuti hasil penyelidikan dengan cara meminta pertanggungjawaban para pelaku secara hukum.
"Imunitas tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh diulang atau ditoleransi," tuturnya.
Pada saat yang sama, Indonesia juga menuntut semua pihak yang bertikai untuk menghormati hukum internasional dan menghentikan serangan yang membahayakan personel dan properti PBB sebagai pasukan penjaga perdamaian.
"Kami membuat tuntutan ini sebagai referensi mendalam untuk pasukan penjaga perdamaian kami yang gugur, yang kepadanya Indonesia memberikan penghormatan tertinggi atas pengorbanan tertinggi mereka dalam melayani perdamaian dan keamanan internasional," ucap Umar.
"Untuk tujuan ini, Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi pada pemeliharaan perdamaian dan keamanan seperti yang diamanatkan oleh Konstitusi kita," kata dia.
Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) melaporkan tiga prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia tewas dalam kurun waktu kurang dari 24 jam di wilayah Lebanon selatan.
Pada Senin (30/3/2026), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa sebuah ledakan yang “tidak diketahui asalnya” menghancurkan kendaraan di dekat kotamadya Bani Haiyyan.
Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI gugur, sementara dua lainnya mengalami luka-luka, dengan satu di antaranya dalam kondisi serius, dikutip dari CBC, Senin.
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam setelah insiden terpisah yang menewaskan satu prajurit TNI lainnya.
Ia dilaporkan tewas ketika pangkalan UNIFIL dihantam proyektil di dekat desa Adchit al-Qusayr, yang juga berada di Lebanon selatan.
UNIFIL menyatakan telah meluncurkan penyelidikan atas kedua insiden tersebut. (Kompas.com)