Indonesia Cecar Perwakilan Israel di Sidang Darurat PBB soal Gugurnya 3 TNI, Sentil Kejahatan Perang
Fadhila Rahma April 02, 2026 11:27 AM

 

SRIPOKU.COM - Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB menjadi tegang saat perwakilan Indonesia mencecar perwakilan Israel terkait gugurnyaPasukan Perdamaian UNIFIL kontingen Indonesia di Lebanon Selatan.

Momen itu terekam dalam siaran langsung Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB yang digelar di markas Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat pada Selasa (31/3/2026).

 
Indonesia diwaliki oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi, sedangkan Israel diwakili oleh Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon.

Dalam pernyataannya, Umar Hadi secara tegas mengutuk serangan Israel di Lebanon dan menyatakan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian tidak lahir dari ruang hampa.

"Eskalasi saat ini tidak muncul dalam ruang hampa. Ini berasal dari serangan berulang oleh militer Israel ke wilayah Lebanon," ujar Umar Hadi.

"Indonesia mengutuk keras serangan Israel di Lebanon selatan, yang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon," ucapnya lagi.

Baca juga: Israel Ngamuk Disalahkan Gugurnya 3 TNI, Sumber Keamanan PBB Justru Temukan Bukti Puing Peluru IDF

Israel membantah terlibat dan menuding Hizbullah bertanggung jawab atas insiden menewaskan prajurit TNI.

 Namun Indonesia kembali dengan tegas mendebat bantahan tersebut.

Umar Hadi mengatakan, ada framing dari Israel yang akan memberikan pertanyaan mendasar dari peristiwa penyerangan tersebut.

"Siapa yang bertanggungjawab menciptakan dan melanggengkan zona permusuhan itu?," kata Umar.

Umar Hadi mengatakan, serangan itu bahkan sengaja menargetkan Unifil dan menghalangi pasukan perdamaian menjalankan resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 yang mengamanatkan solusi damai untuk Lebanon. 

Serangan itu juga dinilainya merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan. 

“Serta dapat dianggap sebagai kejahatan perang,” ujar Umar Hadi. 

DK PBB juga didesak menindaklanjuti hasil penyelidikan dengan cara meminta pertanggungjawaban para pelaku secara hukum.

"Imunitas tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh diulang atau ditoleransi," tuturnya. 

Pada saat yang sama, Indonesia juga menuntut semua pihak yang bertikai untuk menghormati hukum internasional dan menghentikan serangan yang membahayakan personel dan properti PBB sebagai pasukan penjaga perdamaian.

"Kami membuat tuntutan ini sebagai referensi mendalam untuk pasukan penjaga perdamaian kami yang gugur, yang kepadanya Indonesia memberikan penghormatan tertinggi atas pengorbanan tertinggi mereka dalam melayani perdamaian dan keamanan internasional," ucap Umar.

"Untuk tujuan ini, Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi pada pemeliharaan perdamaian dan keamanan seperti yang diamanatkan oleh Konstitusi kita," kata dia.

Israel Bantah Terlibat, Sumber PBB Temukan Bukti Sebaliknya

Israel sudah merilis tanggapan terkait gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Lebanon.

Dalam pernyataannya, Israel enggan disalahkan dalam insiden tersebut, IDF justru menuding Hizbullah sebagai dalang atas serangan yang menewaskan kontingen Indonesia itu.

Namun bantahan dari Israel ini tidak sejalan dengan kesaksian seorang sumber keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sumber tersebut mengungkap temuan ketika pasukan PBB menyelidiki di lapangan.

Sebelumnya, pasukan penjaga perdamaian itu gugur pada Minggu (30/3/2026) malam ketika sebuah proyektil yang tidak diketahui asalnya meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit al Qusayr.

Sumber PBB yang tidak mau disebutkan identitasnya menyatakan bahwa penyelidikan menunjukkan tembakan berasal dari tank milik Israel.

"Puing-puing dari peluru tank telah ditemukan di lokasi kejadian," kata sumber itu, dikutip dari AFP, Rabu (1/4/2026).

Sebelumnya, UNIFIL menyebutkan, ledakan yang tidak lain menghancurkan sebuah kendaraan penjaga perdamaian dan membunuh dua tentara Indonesia lagi. 

Sumber keamanan PBB itu menuturkan, asal ledakan itu mungkin berasal dari ranjau.

Respons IDF 

Militer Israel membantah bertanggung jawab atas insiden hari Senin itu. "Pemeriksaan operasional komprehensif menunjukkan bahwa tidak ada alat peledak yang ditempatkan di area tersebut oleh pasukan IDF," demikian bunyi siaran pers tersebut. 

"Tidak ada pasukan IDF yang hadir di area tersebut sama sekali," sambungnya. Dalam pernyataan sebelumnya, disebutkan bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.