TRIBUNPRIANGAN.COM - Tiada yang paling penting sepeninggalan Ramadan, selain istiqomah beribadah layaknya masih bersamanya.
Kata inilah yang pantas terlontarkan dan harus terus didengar setiap muslim, terlebih Ramadan semakin berjarak jauh darinya.
Ya, berpisah dengan Ramadan menjadi pengingat dan peringatan bagi tiap-tiap muslim, sebab tak ada bulan yang sama dengan kemuliaannya.
Bahkan tak jarang ini bisa saja menjadi Ramadan terakhir, karena kita semua tak tahu akan bertemu dengannya lagi atau tidak.
Tentu tak ada yang bisa memisahkan, selain terus berusaha taat serta istiqomah menjalankan segala jejak di bulan lain.
Namun tentu hal tersebut butuh kesabaran serta pengingat setiap saat.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Nasihat Untuk Muslim yang Sering Meremehkan Solat
Untuk itu, naskah khutbah jumat kali ini penting untuk disampaikan, untuk bisa menyamakan diri dengan keinginan ini.
Berikut ini terdapat satu judul yang bisa digunakan untuk disampaikan pada salat Jumat esok hari.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَضْحَكَ وَأَبْكَى، وَأَمَاتَ وَأَحْيَا، وَخَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، السِّرَاجُ الْمُنِيْرُ وَالْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالنُّهَى، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمُلْتَقَى.
أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Ketahuilah, takwa adalah inti dari segala kebaikan. Ia adalah jalan keselamatan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Kita baru saja menyelesaikan madrasah agung bernama Ramadhan. Kini, layaknya seorang siswa yang menanti hasil ujian, atau pedagang yang menanti keuntungan dagangannya, seorang mukmin pun wajib merenungkan: Apa hasil dari amal yang telah kita lakukan di Ramadhan?
Sebab, di dunia ini, hasil amal itu tidaklah pasti. Maka, bagaimana sikap Salafus Shalih (pendahulu kita yang saleh) setelah mereka menunaikan ibadah agung? Ada tiga perkara yang wajib kita contoh:
1. Memohon Kepastian Diterimanya Amal
Wahai Saudaraku! Renungkanlah kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail alaihimas salam! Mereka membangun Ka’bah, rumah termulia yang diletakkan di muka bumi. Namun, setelah melakukan pekerjaan sebesar itu, apakah mereka berbangga diri? Tidak! Mereka tidak lupa untuk berdoa:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amal kami); sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)
Nalar logikanya adalahapa gunanya sebuah pekerjaan jika tidak Allah terima? =
Tidakkah kita mendengar bahwa sebagian ulama Salaf berdoa enam bulan agar Ramadhan mereka diterima, dan enam bulan berikutnya agar mereka dipertemukan kembali dengan Ramadhan? Ini adalah pelajaran: Yang terpenting bukanlah besar dan banyak-nya amal, melainkan Allah terima amal kita.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Perkuat Ibadah Sunnah untuk Syawal yang Maksimal
2. Memperbanyak Istighfar untuk Menutupi Kekurangan
Ciri kedua dari hamba yang ikhlas adalah: Setelah selesai beribadah, ia segera beristighfar. Mengapa?
Untuk menutupi kekurangan yang terjadi dalam ibadah tersebut.
Untuk mengakui kefakiran dan ketidaksempurnaan, serta menafikan rasa berjasa kepada Allah.
Bahkan, ketika Allah hendak memanggil Nabi-Nya, Muhammad SAW, setelah sempurna risalahnya, Dia memerintahkan:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nashr: 3)
Maka, perbanyaklah istighfar! Akui bahwa kita tidak luput dari cela dan kekurangan dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.
3. Mengupayakan Konsistensi (Istiqaamah) dalam Ibadah
Jamaah Jumat rahimakumullah
Adapun ciri ketiga yang paling jelas dari diterimanya amal adalah: Melanjutkan kebaikan dengan kebaikan lainnya.
Ibadah bukanlah perkara darurat atau terbatas pada waktu tertentu. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dan Ibadah itu berlangsung hingga akhir hayat:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
Nabi SAW bersabda: “Amal yang paling Allah cintai adalah yang paling konsisten (rutin), meskipun sedikit.”
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Kemenangan yang Sebenarnya Berada di Bulan Syawal
Jamaah Jumat yang Sama-Sama Allah Muliakan!
Amal saleh adalah investasi kebaikan kita. Umar bin Khattab RA pernah berkata: “Aku tidak memikirkan tentang dikabulkannya doa, tetapi aku memikirkan tentang doanya (keikhlasannya).” Artinya, fokus pada perbaikan dan keistiqamahan amal itu sendiri.
Maka, setelah Ramadhan:
Jangan tinggalkan kebiasaan membaca Al-Qur’an.
Jangan putuskan puasa sunnah, mulailah dengan enam hari Syawal.
Jangan lalaikan shalat fardhu, dan tambahlah dengan rawatib.
Peringatan Keras: Jauhi kembali mundur setelah maju! Sangat buruk jika seseorang kembali kepada maksiat dan kelalaian setelah Allah memberinya hidayah di bulan Ramadhan. Allah berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benangnya setelah dipintal dengan kuat.” (QS. An-Nahl: 92)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang sukses di Ramadhan dan konsisten dalam ketaatan setelahnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.
Jamaah Jumat yang Sama-Sama Allah Muliakan!
Masa hidup berlalu begitu cepat. Ramadhan telah berlalu, tahun akan berganti. Orang yang paling berakal adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, dan menerangi kuburnya sebelum ia memasukinya.
Kita wajib mencari tahu, di manakah letak potensi kebaikan kita? Ada yang terbuka pintu amalnya pada shalat, pada sedekah, pada silaturahmi, pada menolong orang, atau pada umrah dan haji. Wahai engkau, termasuk golongan manakah dirimu? Temukan pintu kebaikanmu, dan mantapkanlah ibadah itu!
Ingatlah sabda Nabi SAW: “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia akan menggunakannya. Para sahabat bertanya: ‘Bagaimana Dia menggunakannya, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Dia memberinya taufik untuk melakukan amal saleh, lalu Dia mewafatkannya dalam keadaan beramal itu.'”
Maka, marilah kita jadikan sisa umur ini sebagai sarana untuk melanjutkan ketaatan dan menjauhi segala yang dibenci Allah.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Nasihat Muslim yang Sering Meremehkan Salat Sepeninggal Ramadan
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَاءِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. أَمَّا بَعْدُ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا قَضَيْتَهَا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
(*)