TRIBUNSUMSEL.COM - Istri Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar tak kuasa menangis saat Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bersama sang istri, Evi Sophia Indra, melayat ke rumah duka di Cimahi, Rabu (1/4/2026).
Diketahui, Kapten Zulmi gugur dalam insiden ledakan saat menjalankan tugas pengawalan konvoi logistik pasukan UNIFIL pada Senin (30/3/2026).
Peristiwa ini terjadi di wilayah Bani Hayyan sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Selain dua prajurit yang gugur, beberapa personel lainnya juga mengalami luka-luka akibat ledakan yang hingga kini masih dalam proses penyelidikan.
Kepergian Kapten Zulmi meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, salah satunya sang istri.
Tangis istri Kapten Zulmi, Habibah Anggraini, pun pecah di pelukan istri Panglima TNI.
Kapten Zulmi meninggalkan istri dan dua anaknya yang berumur 5 tahun dan 1 tahun.
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, menjamin pemberian hak terhadap ahli waris Kapten Zulmi yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon Selatan. Selain santunan, dua anak Kapten Zulmi juga akan diberikan beasiswa untuk sekolah.
Baca juga: Sosok Kapten Inf Zulmi & Sertu Ikhwan, Prajurit TNI Gugur Evakuasi Jenazah Praka Farizal di Lebanon
Tak hanya itu, Kapten Zulmi akan diberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) atas pengabdiannya di TNI.
"Kami memberikan hak kepada prajurit yang gugur. Pertama akan memberikan KPLB kepada seluruhnya, kemudian hak lain dari Asabri 350 juta akan diberikan, beasiswa juga untuk anak 30 juta, sekolah anaknya juga akan kita perhatikan sampai nanti besar. Gaji akan diberikan 12 bulan penuh 100 persen. Dan tabungan hari tua dihitung mulai berdinas di militer," kata Agus usai melayat di rumah duka di Cimahi.
Sementara ayah Kapten Zulmi, Iskandar, mengungkapkan komunikasi terakhir dengan sang anak, almarhum Kapten Zulmi Aditya Iskandar, pada Senin (30/3/2026). Saat itu, sang almarhum Zulmi menelepon di pagi hari untuk menanyakan kabar sang ayah.
"Komunikasi terakhir Senin pagi, komunikasi dari telepon WA, menanyakan kepada saya, assalamu'alaikum Pak rencana hari mau ke mana," kata Iskandarudin di rumah duka, Kampung Cikendal, Kelurahan Cipageran, Kota Cimahi, Rabu (1/4/2026).
Iskandarudin mengaku tak memiliki firasat buruk terhadap nasib anaknya yang tengah menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
Komunikasi berjalan normal, layaknya sang anak yang tengah memastikan keadaan ayahnya.
"Saya sampaikan mau ke Cirebon, kebetulan saudara istri ada yang meninggal, dia bilang kalau berangkat ada yang temani karena umur saya (sudah tua), bawa teman," kata Iskandarudin.
Ayah dua anak itu tidak menyangka sambungan telepon tersebut menjadi komunikasi terakhir. Usai pulang dari Cirebon, Iskandarudin mengaku sudah tidak bisa menghubungi almarhum Kapten Zulmi yang kemudian dilaporkan gugur akibat ledakan di Lebanon Selatan.
"Setelah pulang dari Cirebon sudah tidak ada kontak," ujarnya.
Iskandarudin mengonfirmasi bahwasanya masa tugas almarhum Kapten Zulmi akan berakhir pada bulan Mei 2026. Zulmi disebutkan telah lebih dari satu tahun menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
Sebelumnya, tiga prajurit TNI gugur dalam tugas misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan.
Satu dari tiga prajurit TNI tersebut adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar.
Dia meninggal dunia akibat serangan yang dilancarkan pasukan Israel pada Senin (30/3).
Dalam serangan itu, Sertu Muhammad Nur Ichwan juga meninggal dunia.
Pada serangan Israel sebelumnya, Minggu (29/3), Praka Farizol Rhomadhon meninggal dunia akibat ledakan proyektil di salah satu pos Indonesia di Desa Adchit Al Qusayr.
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com