SURYA.CO.ID, SURABAYA - Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) melalui Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Surabaya-Sidoarjo menggelar pelatihan bertajuk “7 Jurus BK Hebat”. Kegiatan yang berlangsung pada 31 Maret hingga 3 April 2026 ini diikuti ratusan pendidik dari jenjang SMA, SMK, dan SLB.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan pentingnya transformasi peran guru Bimbingan Konseling (BK).
“Guru BK tidak hanya menjadi penyelesai masalah, tetapi harus mampu menjadi pencari solusi atas harapan dan cita-cita siswa,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Aries menjelaskan, bahwa dinamika pendidikan saat ini dipengaruhi pesatnya teknologi. Oleh karena itu, guru memiliki peran strategis untuk memetakan kondisi psikologis, serta potensi akademik maupun non-akademik peserta didik secara komprehensif.
Adapun rincian dari program “7 Jurus BK Hebat” yang ditekankan dalam pelatihan ini meliputi:
Aries juga menyoroti penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan. Meski membantu identifikasi data, ia menegaskan bahwa dialog psikologis antarmanusia tetap tidak tergantikan oleh mesin.
“Dialog terkait masalah psikologis tetap harus dilakukan antarmanusia, tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh kecerdasan buatan,” tegasnya.
Pelatihan ini tidak hanya menyasar guru BK, tetapi juga 227 guru mata pelajaran dan 222 kepala sekolah. Hal ini sejalan dengan kebijakan kementerian yang menekankan bahwa setiap guru sejatinya adalah pembimbing bagi murid-muridnya.
Selain peningkatan kompetensi, Dindik Jatim mulai menyosialisasikan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Langkah ini diambil untuk meningkatkan konsentrasi belajar serta mendorong interaksi sosial yang lebih sehat di kelas.
Sementara itu, Kepala Cabdindik Wilayah Surabaya-Sidoarjo, Kiswanto, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya menyasar guru BK, tetapi juga guru mata pelajaran. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan yang menekankan bahwa semua guru memiliki peran sebagai pembimbing.
“Ini sejalan dengan program Kementerian Pendidikan bahwa semua guru adalah pembimbing. Jadi tidak hanya guru BK, seluruh guru harus mampu mendampingi siswa,” katanya.
Kiswanto menyebutkan, kegiatan ini diikuti 227 guru mata pelajaran serta 222 kepala sekolah dari sekolah negeri dan swasta. Para peserta yang mengikuti pelatihan diproyeksikan menjadi fasilitator di sekolah masing-masing.
“Guru yang dilatih hari ini kami harapkan akan menjadi fasilitator daerah, kemudian mengimbaskan ilmunya kepada guru lain di sekolah,” jelasnya.
Kiswanto menambahkan, pelatihan tidak hanya berisi materi, tetapi juga praktik dan simulasi dalam menangani permasalahan siswa. Para narasumber yang terlibat berasal dari fasilitator nasional, akademisi serta fasilitator daerah.
Secara nasional, tantangan utama bimbingan konseling adalah ketimpangan rasio antara guru BK dan jumlah siswa. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 Tahun 2014, rasio ideal adalah satu guru BK melayani 150 siswa (1:150).
Namun, di lapangan, banyak sekolah yang masih memiliki rasio jauh di atas angka tersebut, bahkan ada sekolah yang tidak memiliki guru BK khusus. Langkah Dindik Jatim melibatkan guru mata pelajaran dalam pelatihan ini, merupakan solusi strategis untuk menutupi celah kekurangan tenaga ahli BK di sekolah-sekolah Jawa Timur.
Bagi para pendidik dan orang tua, berikut adalah tips dalam melakukan pendampingan siswa secara humanis: