WARTAKOTALIVE.COM -- Di dunia militer, ada anekdot tentang seorang penembak jitu yang gagal mengenai sasaran, namun dengan cepat menggambar lingkaran di sekitar titik peluru yang meleset dan berseru: "Itulah target saya sejak awal!"
Anekdot inilah yang kini dilekatkan media Iran, Tasnim News, pada pidato nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Rabu malam, waktu washington, soal perang yang dilakoninya dengan Iran.
"Itulah kurang lebih kisah pidato Trump malam ini dan pembaruan penting yang dijanjikan Gedung Putih," tulis Tasnm News, Kamis.
Baca juga: Misteri Pemimpin Tertinggi Iran: Dubes Rusia Bocorkan Keberadaan Mojtaba Khamenei, Dirumorkan Cedera
Hal itu menurut Tasnim adalah sebuah upaya putus asa untuk mengklaim kemenangan di tengah perang 32 hari yang kian buntu.
"Bersamaan dengan berbagai klaim yang berulang-ulang yang disampaikan Trump malam ini, hal terpenting yang terjadi bukanlah pembaruan tentang 'situasi' tetapi pembaruan tentang 'tujuan yang dinyatakan' sehingga nantinya Trump benar-benar dapat mengklaim kemenangan," tulis Tasnim News.
Karenanya kemenangan itu dipastikan semu, dan dunia tahu hal itu.
Salah satu poin paling mencolok yang memicu kritik pedas adalah pengakuan tersirat Trump akan ketidakmampuan Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz yang kini dikuasai secara total oleh Iran.
Jalur vital yang mencekik ekonomi dunia itu tetap terkunci rapat, meski Trump mengklaim armada laut Iran telah dilenyapkan.
Logika sederhana pun mengemuka: Jika angkatan laut Iran benar-benar sudah musnah, lantas siapa yang saat ini menguasai Selat Hormuz?
"Apakah "penduduk Mars" yang mengambil alih?" sindir Tasnim.
Ketidakmampuan Washington untuk mengawal tanker minyak melalui jalur tersebut menjadi indikator paling telanjang bahwa AS telah gagal dalam salah satu misi paling krusialnya, kata Tasnim.
Alih-alih mengakui kekalahan, Trump justru melempar bola panas kepada sekutu dan meminta mereka "mencari keberanian" untuk membuka sendiri jalur tersebut.
Trump Mengundang Tawa Dunia
Dunia internasional juga menyoroti klaim Trump bahwa "perubahan sistem" telah terjadi di Iran.
Analis politik menyebut klaim ini sebagai sebuah lelucon. Mengganti satu kepemimpinan dengan kepemimpinan lain dalam struktur yang tetap solid bukan berarti runtuhnya sebuah sistem.
Baca juga: Lobi Udara di Balik Perang Iran: Komentator TV Amerika Berebut Pengaruhi Keputusan Trump
"Hanya orang seperti Trump yang bisa mengganti satu figur pemimpin dengan figur lainnya dalam sistem yang sama, lalu mengklaim bahwa sistem tersebut telah berubah," tulis salah satu pengamat dalam laporan Tasnim.
Dalam pidatonya, Trump berulang kali menyebut konflik ini sebagai "investasi" bagi masa depan anak cucu Amerika.
Ia membandingkan diri dengan pendahulunya, mencoba menjustifikasi kekejaman perang dengan durasi konflik masa lalu seperti Vietnam dan Irak.
Namun bagi publik di Teheran, narasi ini dipandang sebagai upaya menutup telinga dari kritik tajam di dalam negeri AS sendiri, di mana harga BBM meroket dan 67 persen warga merasa presiden mereka tidak memiliki rencana yang jelas.
Menuju Kemenangan Imajinatif
Langkah Trump memberikan tenggat waktu dua hingga tiga minggu untuk menyelesaikan operasi militer dibaca sebagai persiapan untuk deklarasi kemenangan imajinatif.
Dengan menghancurkan infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik, yang diancam akan dibom kembali ke zaman batu, kata Tasnim, Trump berusaha memberikan hasil nyata bagi konstituennya.
"Meskipun tujuan strategis untuk mengakhiri kemampuan nuklir dan pertahanan Iran tetap tak tercapai," papar Tasnim..
Tasnim menjelaskan Trump juga mengumumkan bahwa ia telah mencapai tujuannya untuk menghancurkan kemampuan nuklir dan pertahanan Iran, dan telah sepenuhnya menghancurkan angkatan laut dan angkatan udara Iran!
Tetapi bagaimana realita di lapangan:
Pertama: Jika kekuatan angkatan laut Iran telah dihancurkan, bagaimana Amerika masih bisa mengeluh tentang penutupan Selat Hormuz? Apakah alien dari Mars telah menguasai Selat Hormuz?
Kedua: Jika kekuatan rudal Iran telah dihancurkan, siapa yang melancarkan serangan rudal terberat terhadap rezim Zionis tadi malam? Apakah mereka datang dari planet Merkurius?
Ketiga: Bukankah Amerika sendiri mengatakan bahwa mereka telah menghancurkan seluruh kekuatan nuklir Iran dalam perang 12 hari, jadi kali ini mereka jelas berbohong. Bahkan, mereka berbohong lebih parah lagi!
Keempat: Salah satu poin penting pidato Trump sebenarnya adalah pernyataan publiknya tentang ketidakmampuannya untuk membuka kembali Selat Hormuz, dan karena alasan ini, ia secara efektif menghapus tujuan ini sebagai salah satu tujuannya sendiri dan mengakui kegagalan besar.
Kelima: Berbicara tentang sistem politik di Iran yang telah berubah sekarang membuat semua orang tertawa.
"Seperti yang dikatakan beberapa jurnalis internasional dalam komentar mereka, hanya orang bodoh seperti Trump yang bisa mengganti Khamenei (Syuhada Seyed Ali) dengan Khamenei (Ayatollah Seyed Mojtaba) dan mengklaim bahwa sistem telah berubah," kata Tasnim.
Oleh karena itu, menurut Tasnim, pidato Trump memiliki beberapa makna yang jelas:
Trump Percaya Diri
Sebelumnya di bawah sorotan lampu ruang Cross Hall Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump berdiri dengan kepercayaan diri yang menjadi ciri khasnya, Rabu malam (1/4/2026).
Ia pidato selama 20 menit, dan mencoba menjual narasi kemenangan kepada rakyat Amerika yang kian skeptis: bahwa perang 32 hari dengan Iran adalah sebuah "investasi brilian" yang hampir mencapai garis finis.
Namun, di luar dinding Gedung Putih, dunia sedang menahan napas. Pesan Trump jelas: Amerika akan segera pulang, namun beban krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz bukan lagi urusan Washington.
Salah satu poin paling kontroversial dalam pidatonya adalah pengabaian Trump terhadap Selat Hormuz, urat nadi yang mengalirkan 20 % pasokan minyak dunia.
Saat ini, jalur tersebut praktis lumpuh, memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga melampaui $105 per barel.
"Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz. Kita tidak membutuhkannya," tegas Trump.
Ia melemparkan tanggung jawab perlindungan jalur maritim tersebut kepada negara-negara di Asia dan Eropa yang selama ini bergantung pada pasokan Teluk.
"Negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu... Mereka harus memimpin dalam melindungi minyak yang sangat mereka butuhkan," tambahnya, sembari menyarankan agar negara-negara yang kekurangan energi membeli minyak langsung dari Amerika.
Perspektif Sejarah dan Taruhan Masa Depan
Sadar akan kejenuhan publik terhadap perang berkepanjangan, Trump membandingkan konflik ini dengan sejarah militer AS.
Ia merinci durasi Perang Dunia II hingga Vietnam untuk meyakinkan warga bahwa 32 hari di Iran adalah waktu yang sangat singkat untuk hasil yang ia klaim sebagai "eviscerasi" kekuatan musuh.
"Ini adalah investasi nyata bagi anak dan cucu Anda," ujar Trump, mencoba menyentuh sisi emosional pemilih tujuh bulan menjelang pemilu. Namun, bagi para keluarga dari 13 tentara AS yang gugur, janji "menyelesaikan pekerjaan dengan cepat" adalah janji yang harus dibayar mahal.
Meski menyebut kepemimpinan baru Iran saat ini kurang radikal dan lebih masuk akal, Trump tidak menurunkan tensi ancamannya.
Ia memberikan tenggat waktu dua hingga tiga minggu bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan, atau AS akan menghantam setiap pembangkit listrik di negara tersebut.
Baca juga: Iran Tertawakan Donald Trump yang Didemo 8 Juta Rakyatnya
"Kami akan memukul mereka dengan sangat keras... membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada," ancamnya.
Pernyataan ini langsung direspons negatif oleh pasar energi. Harga minyak WTI melonjak lebih dari 3 % sesaat setelah pidato berakhir.
Para analis memperingatkan bahwa tanpa pembukaan kembali Selat Hormuz secara terjamin, harga energi global akan tetap mencekik ekonomi dunia, meski perang secara fisik dinyatakan berakhir.
Reaksi Dunia dan Keputusasaan Sekutu
Di Canberra, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyuarakan kegelisahan yang dirasakan banyak sekutu AS.
Dengan ketergantungan tinggi pada impor minyak, Australia mulai menghadapi kepanikan pembelian BBM di dalam negeri.
Albanese mempertanyakan apa sebenarnya "titik akhir" dari operasi militer ini jika stabilitas ekonomi global terus dikorbankan.
Kini, dunia menanti apakah optimisme Trump akan menjadi kenyataan atau justru menjadi awal dari krisis energi yang lebih dalam.
Jakarta, Tokyo, hingga Berlin kini harus bersiap menghadapi kenyataan pahit.
Di bawah kepemimpinan Trump, kebebasan navigasi di Selat Hormuz bukan lagi prioritas "Polisi Dunia", melainkan beban yang harus dipikul masing-masing negara.
Malam ini, Washington merayakan apa yang mereka sebut kemenangan militer, namun dunia sedang menghitung biaya yang harus dibayar dari sebuah Selat yang ditinggalkan.