TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Di tengah kecamuk perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil langkah diplomasi yang tidak biasa dengan merilis surat terbuka yang ditujukan langsung kepada warga Amerika Serikat, Rabu (1/4/2026).
Surat ini muncul di momen krusial, tepat sehari sebelum pidato perdana Donald Trump sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026. Pezeshkian secara terbuka mempertanyakan legitimasi dan tujuan dari agresi militer yang telah memicu kekacauan ekonomi global tersebut.
Gugat Kebijakan "America First"
Dalam surat yang dikutip dari AFP, Pezeshkian melontarkan pertanyaan tajam mengenai relevansi keterlibatan Washington dalam konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel terhadap infrastruktur vital Iran.
"Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?" tulis Pezeshkian. Ia juga menyindir slogan politik AS dengan bertanya, "Apakah 'America First' benar-benar termasuk dalam prioritas pemerintah AS saat ini?"
Baca juga: Iran Klaim Berhasil Hancurkan Pesawat AWACS AS dan Fasilitas Radar di Israel-UEA Pakai Drone Arash-2
Menurutnya, penghancuran fasilitas energi dan industri di Iran bukan hanya merupakan kejahatan perang, tetapi juga serangan langsung terhadap hak hidup rakyat sipil yang dampaknya akan dirasakan jauh melampaui perbatasan Timur Tengah.
Rakyat AS Bukan Musuh
Menariknya, meskipun hubungan kedua negara berada di titik nadir, Pezeshkian menekankan bahwa Teheran tetap membedakan antara kebijakan pemerintah dan warga negara biasa. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran tidak menyimpan kebencian terhadap bangsa Amerika maupun Eropa.
“Rakyat Iran secara konsisten membedakan dengan jelas antara pemerintah dan rakyat yang mereka pimpin. Ini adalah prinsip yang berakar kuat dalam budaya kami, bukan sikap politik sementara,” tegasnya sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Tolak Stigma Ancaman Keamanan
Menutup suratnya, Pezeshkian menolak keras narasi yang menggambarkan Iran sebagai ancaman keamanan dunia. Ia merujuk pada catatan sejarah modern di mana Iran mengeklaim tidak pernah memulai perang atau memilih jalan kolonialisme.
Ia berpendapat bahwa persepsi "ancaman Iran" sengaja diciptakan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan politik dan ekonomi tertentu. "Iran tidak pernah memilih jalan agresi. Namun, Iran dengan tegas dan berani akan menangkis setiap serangan yang dilancarkan kepadanya," pungkas Pezeshkian. (ahmad naufal/kps)
Baca juga: Bantuan Operasional RT di Semarang Belum Bisa Dicairkan, DPRD Ungkap Lambannya Pemkot Bikin Aturan