Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Jajanan legondo merupakan salah satu makanan tradisional yang berasal dari Desa Ngreden, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.
Uniknya, jajanan ini hanya dijual pada waktu tertentu dalam sepekan, yakni setiap hari Kamis.
Salah satu warga yang masih aktif membuat legondo adalah Menik.
“Sudah turun-temurun ini. Dari mbah dulu sudah jualan legondo,” ujarnya kepada TribunSolo.com.
Baca juga: Sejarah Legondo, Jajanan Tradisional Asal Barepan Klaten yang Cuma Ada di Malam 1 Suro
Menik menjelaskan bahwa legondo terbuat dari olahan beras ketan.
“Bahannya dari beras ketan, parutan kelapa, dan diberi sedikit garam,” jelasnya.
Makanan ini kemudian dibungkus menggunakan daun kelapa atau janur. Bentuk bungkus janur dibuat memanjang, berbeda dengan ketupat.
Sebelum diolah, beras ketan dicuci hingga bersih, kemudian ditiriskan atau dikeringkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam janur.
“Ditiriskan dulu sebelum lanjut dimasukkan ke dalam janur,” ucapnya.
Setelah itu, parutan kelapa dan garam dicampur, lalu dimasukkan bersama beras ketan ke dalam janur.
Legondo kemudian direbus dalam air mendidih hingga matang. Lama waktu perebusan tergantung jumlah beras ketan yang dimasak.
Untuk 10 kilogram beras ketan, proses perebusan memerlukan waktu sekitar 6 jam.
Setelah matang, legondo ditiriskan dan siap disantap.
Menik menjual legondo dengan sistem per ikat berisi 10 buah, dengan harga Rp10.000 per ikat.
Baca juga: Pemkab Klaten Rencanakan Aturan WFH untuk ASN, Dibatasi Maksimal 50 Persen per Dinas
Selain legondo, Menik juga menjajakan intip dengan harga sekitar Rp20.000.
Erat Kaitannya dengan Ki Ageng Perwito
Menik menjelaskan bahwa jajanan legondo memiliki kaitan erat dengan tokoh penyebar agama di desa setempat.
“Kalau legondo ini, sejarahnya berkaitan dengan eyang Ki Ageng Perwito,” jelasnya.
Ki Ageng Perwito dikenal sebagai tokoh pujangga keraton sekaligus penyebar agama di wilayah tersebut.
Juru kunci makam Ki Ageng Perwito, Sucipto, mengatakan bahwa legondo memiliki makna filosofis.
Baca juga: Momen Bupati Hamenang Jabat Tangan dengan 1.600 Tamu, Halal Bihalal di Grha Bung Karno Klaten
“Legondo itu gabungan dari kata ‘lega ning dada’ (lega di dada). Jadi manusia harus ikhlas, lapang, dan besar hati,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa bahan utama legondo, yakni beras ketan, memiliki makna “keteke ben tekan” (niat atau hasrat agar tercapai).
Sementara itu, bungkus janur dimaknai sebagai “nur” atau cahaya, yang menjadi simbol bekal iman.
“Ikatannya memakai tutus, bilah bambu tipis. Meski tipis, tapi kuat. Artinya, jika memiliki tekad, harus kuat,” pungkasnya.
(*)