Napak Tilas Jejak Jan Pieterszoon Coen di Pulau Onrust yang Bersejarah
Moh. Habib Asyhad April 02, 2026 05:34 PM

Di zaman Belanda, dari VOC hingga pemerintaha kolonial, Pulau Onrust dimanfaatkan sedemikian rupa. Tempat bengkel kapal hingga rumah karantina. Kita hanya bisa melihat sisa-sisanya sekarang.

Artikel ini pernah tayang di Majalah INTISARI edisi Januari 1988 dengan judul "Napak Tilas J.P. Coen di P. Onrust" | Penulis: Muljawan Karim

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Pada Agustus 1987 dulu, Intisari mendapat kesempatan berkunjung ke Pulau Onrust yang bersejarah itu. Lokasinya tidak jauh dari Jakarta. Pada zaman Belanda, dari VOC hingga pemerintah kolonial, di pulau ini pernah dibangun bengkel kapal hingga penjara hingga tempat penampungan penderita kusta. Sayang, pulau ini sekarang hampir tak berpenghuni.

Setelah dua hari suntuk berseminar di Gedung Museum Nasional alias Gedung Gajah, pada hari ketiganya, tanggal 14 Agustus 1987, para peserta Seminar Kebaharian ASEAN melakukan peninjauan on the spot ke P. Onrust untuk menyaksikan peninggalan-peninggalan sejarah dari zaman VOC dan Hindia Belanda.

Di antara peserta tour sehari yang jumlahnya 50-an orang itu terdapat juga ahli-ahh sejarah kita yang terkemuka, seperti Paramita Abdurachman dan ahli sejarah maritim Dr. A.B. Lapian.

Pulau Onrust menjadi salah satu topik diskusi dalam seminar yang diikuti juga oleh para ahli dari negara-negara ASEAN lainnya ini. Soalnya, pulau seluas 12 ha ini punya riwayat yang panjang. Sejarahnya bisa diurut sampai jauh ke masa silam, masa kapal-kapal dagang VOC untuk pertama kali hadir di perairan Teluk Jakarta, lebih dari tiga abad yang lalu.

Pecahan piring dan mangkuk sebagai cender mata

Pulau Onrust bukan saja pulau yang paling bersejarah, tapi juga yang terbesar dibanding ketiga pulau lain yang ada di sekitarnya, yakni Pulau Kelor, Cipir (kini bernama P. Kahyangan), dan Pulau Bidadari.

Bagi yang buta sejarah, sulit rasanya membayangkan bahwa Onrust pernah menjadi pulau yang ramai dihuni manusia. Ketika melompat ke darat dari perahu yang saya tumpangi, kesan pertama yang timbul adalah kesunyian dari sebuah pulau kosong.

Sisa-sisa bangunan tua yang di sana-sini tersembul dari balik semak-semak malah memberi kesan sedikit angker. Demikian pula dengan beberapa bangunan bersejarah, seperti bekas penjara dan rumah dokter, yang beberapa tahun lalu dipugar Depdikbud, membuat bulu kuduk berdiri karena dibiarkan gelap dan kosong melompong.

Berjalan menyusuri pantainya, bukti-bukti sejarah lain bertebaran di sana-sini. Selain bongkahan-bongkahan tembok batu bata bekas pelabuhan Belanda, di antara kerikil dan pasir pantai saya dengan mudah dapat menemukan pecahan-pecahan keramik kuno. Beberapa peserta, mungkin sekadar untuk kenang-kenangan, mengumpulkan sisa-sisa piring dan mangkok tua buatan Cina atau Eropa itu.

Pernah dikunjungi Kapten Cook

Bisa dikatakan, sejarah Onrust dimulai pada tahun 1618, waktu Jan Pieterszoon Coen mengumpulkan seluruh armada lautnya di sana — yang sebagian khusus didatangkan dari pangkalan VOC di Maluku — untuk menghadapi Inggris. Selain Kesultanan Banten, Inggris waktu itu juga ikut membantu Pangeran Jayakarta untuk menyingkirkan Belanda dari Jayakarta.

Mengobarkan semangat pasukannya dengan semboyan “dispereert niet”, Coen yang lihai berhasil mematahkan serangan armada Inggris dan tetap mempertahankan P. Onrust. Bahkan, kemudian, dia juga memenangkan pertempuran di darat melawan pasukan Banten yang berkekuatan seribu personil. Tepat tanggal 30 Mei 1619 Coen berhasil membumihanguskan Jayakarta dan mendirikan Batavia.

Bertahun-tahun sebelum Coen, gubernur jenderal VOC pertama, memenangkan pertempurannya ini, Onrust sebenarnya telah dimanfaatkan VOC untuk kepentingan niaganya. Sebagai perusahaan dagang yang bersifat internasional, VOC sangat tergantung pada armada kapalnya, ya untuk mengangkut barang, ya untuk melakukan ekspansi ke berbagai kawasan.

Tak heran kalau para bos VOC selalu memperhatikan kelaikan armada kapal yang menjadi tulang punggung perusahaan mereka.

Untuk itulah di P. Onrust lalu didirikan sebuah galangan kapal yang berfungsi sebagai bengkel untuk merawat kapal-kapal VOC. Setelah berbulan-bulan berlayar antara Eropa dan Asia, kapal-kapal biasanya mengalami berbagai kerusakan. Di Onrust kapal-kapal ini didaratkan dan dibalikkan lambungnya, supaya bagian-bagian yang bocor bisa didempul atau diganti kayunya jika rusak.

Bersama dengan berkembangnya usaha VOC di Hindia Timur, bengkel kapal di Onrust juga ikut berkembang dan dipercanggih. Kalau di tahun 1618 hanya ada sebuah dermaga dan sebuah galangan, maka setengah abad kemudian dibangun lagi sebuah galangan di bagian barat daya pulau, lengkap dengan dua derek untuk mengangkat kapal yang perlu didaratkan.

Galangan kapal ini rupa-rupanya dikelola oleh tenaga-tenaga yang memang ahli, yang dibantu oleh para tukang yang juga terampil. Hasil pekerjaan yang selalu baik membuat bengkel kapal di P. Onrust ini terkenal dan dimanfaatkan juga oleh pemilik-pemilik kapal di luar VOC.

Kapten James Cook, penemu Benua Australia yang terkenal itu, ternyata juga pernah mampir di Onrust untuk memperbaiki kapalnya yang masyhur, Endeavour, dalam perjalanan keliling dunia tahun 1775. Karena sangat puas atas pelayanan yang telah dia terima, sampai-sampai dia menyebut Onrust sebagai bengkel kapal terbaik di seluruh kawasan timur.

Dibumihanguskan Inggris

Seperti pada kapal-kapalnya, VOC juga memberi perhatian khusus pada ABK-nya (anak buah kapal). Buktinya, selain bengkel kapal, di Onrust VOC juga mendirikan sebuah rumah sakit untuk merawat para pelaut yang terganggu kesehatannya.

Di samping itu, berbagai sarana lain juga dibangun. Tahun 1685 di sebelah timur pulau didirikan dua buah kincir angin ala Belanda, yang energinya digunakan untuk penggergajian kayu.

Sampai tahun 1772 telah dibangun pula sebuah gereja, gudang mesiu, beberapa pos jaga, rumah kepala pulau — yang biasa disebut Baas van Onrust — dan beberapa rumah pegawai di tengah pulau.

Tak banyak orang tahu bahwa di Onrust VOC juga membangun sebuah pelabuhan, tempat kapal-kapalnya membongkar dan memuat barang-barang dagangan, seperti lada, timah, tembaga, kopi, gula, sampai beras, pakaian dan barang-barang kelontong. Dibandingkan dengan Pelabuhan Pasar Ikan, yang juga biasa dilabuhi kapal-kapal VOC, Pelabuhan Onrust sebenarnya memiliki fasilitas yang lebih memadai.

Jika di Pelabuhan Pasar Ikan — yang jadi pelabuhan utama Jakarta sampai abad ke-19 — kapal-kapal besar tidak bisa merapat ke darat dan harus berlabuh di tengah laut, di Onrust terdapat dermaga kayu yang dilengkapi derek. Dengan demikian, kapal-kapal yang berlabuh dapat lebih mudah dibongkar-muat.

Mengikuti perkembangan teknologi, pada tahun 1803 dibangun sarana pelabuhan dalam atau inner harbour, yang memungkinkan kapal-kapal dengan tonase lebih kecil dapat langsung merapat ke darat. Di awal abad yang lalu ini Pelabuhan Onrust juga sudah dilengkapi dengan lebih banyak gudang dan lahan-lahan kosong untuk menimbun barang.

Armada Inggris yang menggempur Batavia bertubi-tubi di tahun-tahun 1800, 1806 dan 1810 telah turut menghancurkan P. Onrust, termasuk sarana galangan kapal dan pelabuhannya. Semua kegiatan di pulau kecil itu jadi lumpuh karenanya.

Sampai-sampai Belanda terpaksa meninggalkannya begitu saja. Sementara itu peranannya sebagai pelabuhan transito digantikan oleh Surabaya, di mana telah dibangun sebuah pelabuhan samudra yang lebih besar dan baik.

Namun demikian, Belanda tetap menganggap Onrust sebagai tempat yang strategis untuk sebuah pelabuhan dan bengkel kapal. Karena itu pada tahun 1827, setelah tujuh belas tahun ditinggalkan, Gubernur Jenderal Van der Capellen memerintahkan untuk membangunnya kembali.

Berangsur-angsur, Onrust yang sudah jadi tumpukan puing pun hidup kembali, sebelum pada akhirnya sepenuhnya pulih seperti sedia kala. Bahkan, mungkin, lebih sibuk.

Pada pertengahan abad ke-19 volume barang yang dibongkar-muat di pelabuhannya dapat mencapai 2.300 ton per tahunnya. Dermaga kayu lama yang telah hancur, dalam tahun 1864 diganti dengan dermaga batu bata yang lebih kokoh. Pelabuhan dalamnya, selain mengalami perbaikan yang sama juga diperluas agar dapat disandari lebih banyak kapal.

Bengkel kapalnya pun berkembang lagi dengan pesat dan mampu melayani perbaikan sampai tiga buah kapal dalam waktu yang sama. Sebuah dok terapung, yang dibangun tahun 1856, memberi kemungkinan untuk melakukan perbaikan kapal di laut.

Meriam dijual sebagai besi tua

Sebagai tempat menimbun barang dan bengkel bagi kapal-kapalnya, P. Onrust tentu saja jadi salah satu tempat yang penting bagi VOC. Tak aneh kalau pulau ini tak pernah aman dari ancaman serangan saingan-saingan VOC. Onrust, terutama selama abad ke-17, juga selalu diincar kaum perompak yang ingin menjarah barang-barang dagangan yang menumpuk di sana.

Karena itu VOC mengambil langkah-langkah pengamanan yang diperlukan. Mula-mula Onrust hanya dilindungi sepasukan artileri saja, tapi dengan meningkatnya ancaman dari Kesultanan Banten, tahun 1656 dibangun juga sebuah benteng.

Dua buah bastion, Beekhuis dan Touwpunt, yang dibangun di bagian timur pulau tahun 1672, makin memperkokoh pertahanan atas Onrust.

Bukan di P. Onrust saja dibangun benteng-benteng pertahanan, tapi juga di pulau-pulau sekitarnya, termasuk di P. Bidadari. Konon, sampai beberapa tahun yang lalu di P. Kelor dan Cipir masih bisa dijumpai meriam-meriam kapal dalam jumlah yang besar. Meriam-meriam ini sekarang sudah pindah ke tangan para pedagang barang antik atau penampung besi tua.

Para arkeolog masih meneliti siapa sebenarnya pembangun benteng-benteng bertembok tebal di P. Bidadari, Cipir dan Kelor ini.

Bisa saja benteng-benteng ini juga dibuat Belanda dalam rangka melindungi P. Onrust, "Tapi melihat gaya bangunannya, mungkin juga buatan Inggris," kata Dirman Surakhmad, arkeolog dari Dinas Sejarah dan Permuseuman DKI Jakarta, yang juga ikut melancong ke Onrust.

Penduduk dilarang keluar pulau

Sekarang tak ada pelayanan-pelayaran khusus dari Jakarta ke Onrust. Padahal, dalam abad ke-17 dan 18 boleh dikata setiap hari ada kapal yang menghubungkan Pasar Ikan dengan pulau yang biasa disebut P. Kapal ini. Karena masih jadi pulau yang hidup, setiap saat ada saja barang atau orang yang perlu diseberangkan dari atau ke Onrust.

Onrust di masa jaya-jayanya VOC memang pulau yang cukup padat. Sebuah sumber sejarah mengatakan bahwa pada tahun 1775 ada 2.000 orang tinggal di sana.

Mereka terdiri atas pegawai-pegawai Belanda, para pedagang Arab dan India, buruh Melayu dan Cina, pelaut-pelaut yang sedang menjalani hukuman, serta orang-orang Eropa lainnya. Di samping para pekerja bengkel kapal, yang jadi mayoritas penduduk Onrust, di sana juga ada 650 orang budak. Konon, seorang Cina juga membuka warung di sana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduknya.

Tak semua penghuni Onrust hidup bebas. Jangankan kaum budak dan tahanan, buruh biasa pun hanya boleh berlibur ke Batavia sekali saja setiap enam bulan. Dalam cuti yang lamanya tiga hari ini mereka biasanya berfoya-foya, menghabiskan hampir semua upah yang telah diterima.

Orang yang hidupnya paling nyaman di Onrust sudah tentu baas van Onrust. Valentijn (1666 - 1727), seorang penulis Belanda, menggambarkan sang penguasa pulau ini hidup bak seorang pangeran. Seperti hampir semua pejabat tinggi di Batavia dia banyak melakukan penyelewengan dengan memanfaatkan karyawan dan berbagai fasilitas VOC lainnya untuk kepentingan bisnis pribadinya.

Sebagaimana yang telah diketahui, korupsi yang merajalela di kalangan pejabatnya telah membuat VOC bangkrut di penghujung tahun 1779, dan kekuasaannya beralih ke tangan pemerintah Hindia Belanda.

Dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869 membuat jarak Eropa dan Asia menjadi jauh lebih pendek. Lalu lintas perdagangan pun menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Karena itu pelabuhan-pelabuhan dituntut untuk dapat melayani bongkar-muat kapal dengan lebih cepat.

Pelabuhan-pelabuhan Pasar Ikan dan Onrust yang sudah tua makin lama makin ketinggalan zaman. Sebagai gantinya pemerintah Belanda lalu membangun Pelabuhan Tanjung Priok, yang dikerjakan antara tahun 1877-1883.

Di Onrust, bukan hanya pelabuhannya saja yang mengalami kemunduran, tapi juga kehidupan penduduknya secara keseluruhan. Dari sebuah pulau kosong, Onrust berkembang sedemikian rupa menjadi sebuah tempat yang sangat padat. Udara panas dan makin langkanya air bersih menyebabkan dalam belahan kedua abad 18 itu penduduk Onrust hidup dalam kondisi yang jauh dari sehat.

Untuk kedua kalinya Onrust pun secara berangsur-angsur ditinggalkan lagi oleh penghuninya. Setelah peranannya sebagai pelabuhan sepenuhnya digantikan oleh Pelabuhan Tanjung Priok, maka berakhir pulalah riwayat Onrust yang telah melayani kepentingan Belanda selama lebih dari dua setengah abad.

Selain fondasi dari berbagai bangunan yang pernah berdiri, seperti gereja, kincir angin dan benteng, peninggalan sejarah yang sampai kini juga masih bisa dilihat di Onrust adalah sebuah pekuburan tua, di mana terbaring sisa-sisa jasad dari mereka yang sudah ikut berperan dalam sejarah Onrust yang panjang.

Sejumlah batu kubur nampak masih tegak "berdiri, seolah tak ingin dilupakan, meski nama-nama yang terukir di permukaanya hampir tak lagi dapat dibaca. Satu-dua makam memang ada juga yang masih jelas siapa pemiliknya, seperti makam seorang wanita bernama Maria van Veldeslyk (meninggal tahun 1693); kuburan seorang gadis cilik bernama Anna Adriana Duran (1763-1772); dan makam dari Cornelius Willemse Vogel (1695-1738), seorang yang pernah menjadi baas van Onrust.

Sejarah Onrust belum sepenuhnya berakhir, meski perannya sebagai pelabuhan dan bengkel kapal sudah tamat. Tahun 1911 pulau yang berjarak satu jam berlayar dari Ancol ini masih sempat dibangun lagi, meski dengan tujuan lain, yakni sebagai penjara dan karantina bagi para penderita lepra, seperti yang pernah dibangun VOC di P. Bidadari kurang-lebih dua abad sebelumnya.

Untuk itu didirikanlah di Onrust 23 bangunan penjara, 12 barak, 5 gudang, kantor, sarana pelabuhan, rumah bidan dan rumah dokter.

Entah sampai kapan P. Onrust dimanfaatkan sebagai penjara dan tempat penampungan penderita lepra. Yang jelas, setelah itu Onrust juga pernah dijadikan pulau karantina bagi jemaah haji yang baru pulang dari Tanah Suci. Ini berlangsung sampai pecahnya perang kemerdekaan tahun 1945 (Muljawan Karim)

Sebagian bahan diambil dari:

Geofano Dharmaputra, “Bengkel Kapal dan Pemukiman di Pulau Onrust”, makalah pada Seminar Kebaharian ASEAN, Jakarta, 12 - 13 Agustus.

Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, Laporan Penggalian Arkeologi Pulau Onrust, Kepulauan Seribu

F De Haan, Oud Batavia.

A Heuken, Historical Sites Of Jakarta.

Abdurachman Surjomihardjo, Perkembangan Kota Jakarta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.