WARTAKOTALIVE.COM – Di tengah reruntuhan infrastruktur dan kepulauan asap akibat serangan udara AS-Israel, Iran kembali mencoba menumbuhkan harapan dari dalam tanah dengan instruksi tidak bisa dari Pemimpin Tertinggi Iran yang baru yakni Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, Kamis (2/4/20226).
Dilansir dari Tasnim News, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan seruan instruksi yang tak biasa namun sarat makna.
Mojtaba Khamenei meminta seluruh rakyat Iran untuk menanam bibit pohon.
Baca juga: Misteri Pemimpin Tertinggi Iran: Dubes Rusia Bocorkan Keberadaan Mojtaba Khamenei, Dirumorkan Cedera
Gerakan ini bukan sekadar upaya penghijauan namun memiliki makna mendalam jauh dari itu.
"Di mana dalam "perang ketiga" yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Israel, setiap akar yang masuk ke tanah bumi dipandang sebagai pernyataan politik tentang keteguhan, kehidupan, dan masa depan yang tak bisa dihancurkan oleh bom," kata Mojtaba dalam pernyataan yang dilaporkan Tasnim News.
Pesan Ayatollah Mojtaba muncul pada momen emosional, yakni menandai Hari Republik Islam sekaligus menjelaang Hari Alam (Nature Day).
Ayatollah Khamanei menyoroti kekejaman serangan yang menyasar sekolah-sekolah dan merenggut nyawa anak-anak yang tak berdosa.
"Rakyat Iran akan membalas dengan menanam bibit pohon untuk mengenang semua martir dan menghormatinya, terutama mereka yang gugur dalam perang ketiga ini," tegas Mojtaba Khamenei.
Ia berharap bibit-bibit pohon itu akan tumbuh menjadi pohon berbuah yang melambangkan kekuatan nasional yang abadi.
Bagi warga sipil Iran, di kota-kota yang hancur, menanam pohon di bulan Farvardin (Maret-April) menjadi ritual penyembuhan luka kolektif.
"Ketika musuh mencoba mematikan kehidupan, Iran memilih untuk menumbuhkannya," ujarnya dari Tasnim News.
Warisan Perlawanan yang Tak Putus
Seruan Ayatollah Mojtaba Khamenei ini muncul di tengah situasi keamanan yang sangat genting.
Sejak pembunuhan pemimpin sebelumnya, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026, Iran terus berada di bawah tekanan serangan militer AS-Israel.
Namun, dalam surat balasan Mojtaba Khamenei kepada Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qassem, Mojtaba menegaskan bahwa arah politik Iran tetap konsisten.
Ia menyebutkan bahwa ketekunan dan kesabaran menghadapi musuh adalah karakteristik utama dari mendiang pemimpin mereka.
"Perlawanan ini akan berlanjut, dan pengorbanan martir seperti Haj Qasem Soleimani serta komandan senior lainnya adalah bukti kebenaran jalan ini," tulisnya dikutip dari Fars News.
Baca juga: Trump Klaim Sepakati 15 Poin Besar dengan Pejabat Teras Iran, Meski Bukan dengan Mojtaba Khamenei
Antara Peperangan dan Keberlanjutan
Ada kontras yang tajam dalam narasi ini.
Di satu sisi, dunia melihat gelombang misil dan drone yang saling bersahutan di langit Asia Barat.
Namun di sisi lain, ada instruksi bagi warga desa dan kota untuk turun ke ladang, memegang cangkul, dan memastikan pohon buah-buahan tumbuh di musim semi ini.
Ini adalah bentuk perlawanan budaya (cultural resistance) yang dilakukan Mojtaba Khamenei dengan instruksinya itu.
Ia ingin Iran menunjukkan bahwa meski pangkalan militer mereka menjadi target, semangat untuk membangun kembali tak bisa dipatahkan.
Kini, dari Teheran hingga pelosok desa, tangan-tangan yang biasanya mengepal dalam protes atau memegang reruntuhan, mulai menyentuh tanah mengikuti instruksi Ayatollah Mojtaba Khamenei/
Mereka tidak hanya menanam tanaman, tetapi mereka sedang menanam pesan bahwa selama akar masih menghujam bumi, kedaulatan sebuah bangsa tidak akan pernah bisa dicabut.
Dunia kini menyaksikan bahwa di Iran, perlawanan tidak hanya bergemuruh di medan tempur, tetapi juga tumbuh dalam sunyi di bawah rimbunnya pepohonan yang baru ditanam.
Lautan Manusia Beri Salam Perpisahan Terakhir untuk Penjaga Selat Hormuz
Lapangan Enqelab di Teheran, Iran, yang biasanya bising oleh deru kendaraan, mendadak berubah menjadi lautan hitam manusia yang sunyi namun bergetar hebat, Rabu (1/4/2026).
Puluhan ribu rakyat Iran tumpah ruah ke jalanan ibu kota, memberikan penghormatan terakhir bagi sosok yang mereka sebut sebagai "Penjaga Lautan dan Selat Hormuz", yakni Laksamana Muda Alireza Tangsiri.
Isak tangis pecah di antara pekikan slogan yang membahana di udara Teheran.
Di atas keranda yang dibalut bendera nasional, terbaring komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang gugur dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pekan lalu.
Baca juga: Soal Pidato Trump Semalam, Media Iran: Kelucuan yang Ditertawakan Dunia dan Pengakuan Kalah Perang
Bagi rakyat Iran, Tangsiri bukan sekadar perwira tinggi. Ia adalah simbol kedaulatan di perairan panas Teluk Persia.
Di bawah komandonya, Selat Hormuz—jalur sempit yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia—menjadi benteng yang tak tertembus.
Kini, sosok yang biasanya berdiri tegak di anjungan kapal perang itu telah tiada.
Namun, semangat yang ia tinggalkan tampak menyala di mata para pelayat.
"Tangsiri tidak pergi, ia berlipat ganda di setiap ombak Teluk," ujar seorang pemuda di tengah kerumunan yang memegang foto sang laksamana.
Duka di Teheran hari ini terasa berlapis.
Di samping peti Tangsiri, berdiri peti jenazah Brigadir Jenderal Jamshid Es’haqi.
Penasihat utama kepala staf Iran ini tidak pergi sendirian.
Serangan udara yang merenggut nyawanya juga menghabisi anggota keluarganya yang tak berdosa.
Pemandangan peti-peti jenazah yang berjajar ini menciptakan sisi human interest yang menyesakkan dada.
Ini bukan lagi soal peta kekuatan militer atau strategi perang, melainkan soal rumah-rumah yang mendadak sepi dan kursi makan yang kini kosong selamanya.
Baca juga: Mulai Nyerah! Trump Berencana Akhiri Perang AS-Iran dalam 2–3 Pekan
Kehadiran puluhan ribu orang dari berbagai lapisan masyarakat menunjukkan bahwa luka ini adalah luka kolektif bangsa.
Sebelum mencapai Teheran, gelombang duka telah lebih dulu menyapu kota pesisir Bandar Abbas pada Selasa lalu.
Ribuan pelaut dan warga pesisir memberikan salam perpisahan bagi komandan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut tersebut.
Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa setelah upacara di ibu kota, jenazah Tangsiri akan diterbangkan menuju kota Abadan di barat daya Iran untuk dimakamkan.
Abadan, kota dengan sejarah panjang perjuangan, dipilih menjadi tempat peristirahatan abadi bagi sang penjaga samudera.
Di tengah kepulauan asap dan ketegangan yang belum mereda, Teheran mengirimkan pesan kuat kepada dunia.
Bahwa di balik setiap rudal dan manuver politik, ada air mata rakyat yang tumpah, dan ada janji perlawanan yang justru mengakar kuat saat para pemimpinnya tumbang.