TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih membayangi sektor ketenagakerjaan di sejumlah daerah di awal tahun 2026, tak terkecuali di Bumi Sembada Sleman.
Berdasarkan data laporan periode Januari hingga Maret, tercatat sebanyak 222 orang pekerja di Kabupaten Sleman kehilangan mata pencaharian mereka.
Faktor penyebabnya, mayoritas akibat efisiensi yang dilakukan oleh puluhan perusahaan.
Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Kesejahteraan Pekerja, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman, Cecelia Lusiana menyampaikan, dari Januari hingga Maret total ada 222 pekerja di Sleman yang kehilangan pekerjaan, dari 44 perusahaan.
Data ini berdasarkan laporan pemutusan hubungan kerja (PHK) periode Januari- Maret 2026. Penyebab PHK beragam.
"Alasan PHK urutan paling banyak, yang pertama efisiensi. Kedua, pelanggaran ringan dan ketiga mengundurkan diri," kata Lusiana, Kamis (2/4/2026).
Jumlah laporan kasus PHK ini cenderung fluktuatif. Namun dampak terbesar dirasakan pada bulan Februari 2026.
Pada bulan tersebut, meski hanya berasal dari 14 perusahaan dengan 16 laporan, jumlah pekerja yang terdampak mencapai angka tertinggi, yakni 101 orang.
Angka ini melonjak signifikan dibandingkan bulan Januari yang mencatat 80 pekerja terdampak dari 16 perusahaan.
Sedangkan di bulan Maret 2026, angka pekerja yang terkena PHK mengalami penurunan menjadi 41 orang dari 14 perusahaan. Penurunan ini menjadi titik terendah dalam tiga bulan terakhir, meskipun jumlah laporan administratif tetap stabil di angka 18 laporan.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan Kabupaten Sleman periode yang sama, Januari-Maret 2026 menunjukkan tren penurunan setiap bulan.
Jumlah pencari kerja lokal yang terdaftar di Disnaker Sleman - Siapkerja Kemnaker tercatat ada 67 orang pada Januari. Di Februari menjadi 47 orang, dan menyisakan 38 orang pada Maret 2026.
Sementara itu, sektor penempatan tenaga kerja luar negeri juga tetap aktif. Melalui BP3MI dan mitra perusahaan, tercatat sebanyak 24 orang berangkat pada Januari dan 27 orang pada Februari.
Sedangkan penempatan di dalam negeri ada 16 orang. Memasuki bulan Maret, penempatan cukup banyak justru berada di dalam negeri dengan total 31 orang.
"Kalau jumlah tenaga kerja yang ditempatkan ke luar negeri di bulan Maret, masih dalam tahap konfirmasi BP3MI Yogyakarta," terang dia.
Minat warga Sleman bekerja ke luar negeri memang cukup tinggi, bahkan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Data Dinas Tenaga Kerja, Kabupaten Sleman mencatat, setiap tahun ada lonjakan cukup signifikan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) asal Bumi Sembada yang ingin mengubah nasib dengan bekerja di luar negeri.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman, Epiphana Kristiani sebelumnya mengungkapkan, sepanjang tahun 2021, tercatat ada 45 pekerja Sleman yang bekerja di luar negeri. Setahun berikutnya, angkanya melonjak menjadi 282 orang. Terdiri dari 68 laki-laki dan 138 perempuan. Sedang di tahun 2023 tercatat menjadi 373 orang.
Memasuki tahun 2024 tercatat ada 305 orang dan 310 orang di tahun 2025. P
Penempatan pekerja migran asal Sleman tersebar di sejumlah negara.
"Paling banyak Malaysia, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan dan Turki. Masih banyak lagi lainnya, tetapi negara-negara ini yang terbanyak dicatatan kami," ujar dia.(*)