TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Laga sengit yang mempertemukan dua tim papan tengah, Dewa United dan PSIM Yogyakarta, akan tersaji pada lanjutan BRI Super League 2025/2026.
Pertandingan yang mempertaruhkan posisi di klasemen ini dijadwalkan berlangsung di Serang pada Jumat (3/4/2026) pukul 19.00 WIB.
Laga ini tidak hanya menjadi pembuktian konsistensi bagi skuad Laskar Mataram, tetapi juga menjadi panggung adu taktik antara dua pelatih berkebangsaan Belanda, Jan Olde Riekerink dan Jean-Paul van Gastel.
Menjelang pertandingan, PSIM Yogyakarta membawa modal tren positif tidak terkalahkan dalam enam laga terakhir di Super League.
Namun, rentetan hasil tersebut diwarnai dengan lima hasil imbang dan hanya satu kemenangan.
Di papan klasemen sementara, PSIM Yogyakarta menempati peringkat kedelapan dengan koleksi 38 poin, dibayangi ketat oleh Dewa United di peringkat kesembilan yang mengumpulkan 34 poin.
Jeda internasional yang cukup panjang menjadi salah satu faktor krusial bagi persiapan kedua tim.
Pelatih Kepala PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, mengungkapkan bahwa staf pelatih telah merancang program khusus untuk menjaga ritme kompetisi para pemain.
"Menurut saya, para pemain memang memerlukan sedikit waktu rehat. Jadi, kami memberikan mereka jatah libur selama enam hari. Setelah itu, kami memiliki waktu dua minggu untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan ini. Tentu saja, saya tidak bisa memastikan apakah jeda ini sepenuhnya menguntungkan, kita harus melihat bagaimana respons para pemain di lapangan. Karena jika tim terus berada dalam ritme pertandingan yang padat, mungkin persiapannya akan lebih mudah. Namun di sisi lain, memberikan beberapa hari libur untuk pemulihan juga bisa berdampak positif. Jadi, baru setelah pertandingan besok kita bisa menilai apakah keputusan libur ini tepat," ungkap Van Gastel dalam sesi konferensi pers jelang laga, Kamis (2/4/2026).
Pendekatan tersebut diamini oleh lini pertahanan PSIM Yogyakarta.
Bek Franco Ramos Mingo menegaskan bahwa tim telah memaksimalkan masa jeda untuk memulihkan kebugaran sekaligus mematangkan taktik.
"Saya sepakat bahwa tim memang memerlukan enam hari libur tersebut. Meski begitu, kami terus berlatih secara mandiri dan berusaha untuk menjaga kondisi fisik. Saat kami kembali berkumpul, saya merasa kami cukup bugar dan kami telah menjalani sesi latihan tim yang sangat bagus. Jadi, saya pikir kami sudah siap, setidaknya dari segi kesiapan fisik. Saya pribadi berhasil menjaga kebugaran dan merasa sangat sehat secara fisik untuk pertandingan besok," jelas bek asal Argentina tersebut.
Baca juga: Van Gastel Waspadai Kekuatan Baru Dewa United di Tengah Badai Cedera PSIM Yogyakarta
Pertandingan esok hari diprediksi akan berjalan alot, mengingat Dewa United akan bermain di kandang sendiri dan bertekad memangkas jarak poin menjadi satu angka.
Selain itu, laga ini menjadi ajang reuni filosofis antara Van Gastel dan Jan Olde Riekerink.
Menanggapi profil lawannya, Van Gastel memberikan pujian khusus kepada kompatriotnya sekaligus mengevaluasi posisi Dewa United saat ini.
"Ya, saya sudah mengenal Jan sejak lama karena dia lebih senior daripada saya dan dia sangat berpengalaman. Dia telah belajar banyak, mengelola banyak tim, dan bekerja di berbagai asosiasi sepak bola. Karena kami sama-sama orang Belanda, kami memiliki ide dan filosofi yang sama tentang cara bermain sepak bola. Itulah yang Anda lihat pada gaya permainan Dewa United saat ini. Menurut saya, posisi mereka di papan klasemen saat ini terlalu rendah jika dibandingkan dengan kemampuan bermain, talenta, dan kekuatan yang mereka miliki. Sayangnya, mereka sempat menelan kekalahan melawan wakil dari Manila di kompetisi Asia. Saya pikir hasil itu adalah sebuah kerugian bagi Dewa United dan juga bagi sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Namun, saya sangat menantikan laga melawan Dewa United karena ini adalah pertemuan dua pelatih asal Belanda dengan visi yang serupa. Saya yakin ini akan menjadi pertandingan yang menarik lagi, sama seperti yang terjadi pada pertemuan pertama kami di Jogja," papar Van Gastel.
Di pertemuan pertama musim ini, PSIM berhasil menundukkan Dewa United 2-0 di Yogyakarta lewat brace Nermin Haljeta.
Kendati demikian, Franco Ramos Mingo menilai kekuatan tuan rumah tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Ya, mereka memang tidak banyak melakukan perubahan pada susunan tim, tetapi mereka memiliki deretan pemain yang sangat bagus serta sarat pengalaman. Oleh karena itu, kami sadar dan berpikir bahwa laga ini akan menjadi pertandingan yang sama beratnya dengan pertemuan pertama lalu," ujar Franco.
Pada laga nanti, Dewa United dipastikan tampil tanpa gelandang pilar Ricky Kambuaya akibat akumulasi kartu, dan kemungkinan belum bisa diperkuat bek Damion Lowe yang baru kembali dari tugas internasional bersama Timnas Jamaika.
Di sisi lain, PSIM Yogyakarta juga datang dalam kondisi tidak full team.
Laskar Mataram kehilangan Fahreza Sudin akibat sanksi kartu merah, Anton Fase yang dibekap cedera, serta Rakhmatsho Rakhmatzoda yang tak diboyong menuju ke Banten lantaran kondisinya memang diragukan untuk tampil.
Menghadapi sisa sembilan pertandingan di Super League, Van Gastel bersikap realistis namun tetap mengusung mentalitas tidak mau kalah, yang ironisnya menjadikan timnya spesialis hasil imbang.
"Pada awal musim ini, tujuan utama kami adalah untuk bertahan di liga (tidak terdegradasi). Secara matematis, posisi kami saat ini belum sepenuhnya aman. Jadi, kami masih harus meraih kemenangan, atau setidaknya memenangkan beberapa pertandingan dari sembilan laga tersisa ini. Seperti yang selalu kami lakukan, kami akan mencoba untuk menang di setiap pertandingan. Prinsip dan moto kami adalah: jika kami tidak bisa menang, maka kami akan berusaha keras agar tidak kalah. Praktiknya, hal itu tercermin pada rentetan hasil pertandingan kami sejauh ini. Saya rasa kami terlalu sering menerapkan prinsip tersebut, sehingga kami mengoleksi banyak sekali hasil imbang dan pantas dijuluki sebagai 'Raja Seri' (King of Draw)," pungkas Van Gastel.
Memasuki fase krusial kompetisi dengan sembilan pertandingan tersisa, Dewa United Banten FC mengincar posisi enam besar klasemen.
Kepercayaan diri skuad asuhan Jan Olde Riekerink ini tengah memuncak usai meraih hasil positif kontra Persija Jakarta, yang menjadi modal penting jelang laga kandang melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Internasional Banten, Serang.
Pelatih Kepala Dewa United, Jan Olde Riekerink, menegaskan bahwa timnya harus bersikap realistis dalam mematok target di sisa musim ini.
Alih-alih membebani pemain dengan target juara, pelatih asal Belanda tersebut memilih fokus mengamankan posisi enam besar terlebih dahulu sebelum mengincar posisi yang lebih tinggi.
"Di fase kompetisi seperti sekarang, sepak bola selalu berbicara tentang tujuan. Awalnya kami memiliki dua tujuan, dan salah satunya tidak berhasil kami capai. Oleh karena itu, target berikutnya yang paling realistis saat ini adalah kami harus secepat mungkin mengamankan posisi di klasemen 6 Besar (Top 6). Jika langkah itu sudah tercapai, saya masih menaruh harapan kita bisa menembus 4 Besar (Top 4). Kami masih memiliki 9 pertandingan tersisa, dan target yang dipatok harus masuk akal bagi para pemain. Jika saya mengatakan sekarang bahwa target kami adalah langsung menjadi juara, itu tidak realistis dan hanya akan membebani," ujar Jan Olde Riekerink.
Menghadapi PSIM Yogyakarta yang memiliki rekor apik saat bertandang, Riekerink mewaspadai skema permainan transisi cepat lawan.
Ia menilai pelatih PSIM Yogyakarta telah membangun struktur organisasi tim yang solid dan dinamis meski bermain di hadapan pendukung lawan.
"Sebagai seorang pelatih lawan, saya tidak bisa menilai secara detail karena saya tidak melihat langsung sesi latihan maupun persiapan internal mereka. Tapi saya pikir dia adalah sosok pelatih yang sangat baik, dan itu sudah menjadi poin positif untuknya. Dia telah bertahan membawa timnya sejauh ini dengan cara yang sangat baik. Pada akhirnya, yang saya perhatikan adalah mereka kerap bermain dengan skema reaction football (mengandalkan transisi/serangan balik cepat), dan itu memang lebih sering mereka terapkan saat bermain away. Saya melihat ada organisasi permainan yang sangat baik di dalam tim PSIM, dan skuad mereka juga sangat mobile," papar Riekerink secara mendetail.
Momentum positif pascakemenangan melawan Persija Jakarta diakui sangat membantu tim dalam menjaga ritme kompetisi, meskipun jadwal sempat diliburkan beberapa hari.
Para pemain dinilai mampu menjaga motivasi dan suasana ruang ganti secara mandiri.
"Terkait ritme tim, itu adalah pertanyaan yang sangat bagus. Terkadang hal itu mudah dilakukan, namun bisa menjadi sangat sulit jika sebelumnya kita bermain buruk, karena ada atmosfer dan perasaan negatif yang harus dihilangkan. Tetapi karena di laga terakhir melawan Persija kami bermain sangat baik, saat ini situasinya jauh lebih mudah. Kami bermain dan berlatih dengan kepercayaan diri penuh. Tugas kami saat ini hanyalah mempertahankan ritme, menjaga intensitas latihan, dan merawat mentalitas tim," tandasnya. (*)