TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Kondisi pasokan air bersih di Kabupaten Nunukan, provinsi Kalimantan Utara, tengah berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.
Dalam sebulan terakhir, debit air di Embung Sungai Bolong dilaporkan mengalami penurunan drastis akibat cuaca kering yang melanda wilayah tersebut.
Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan Perumda Tirta Taka Nunukan, Andi Darwis, mengungkapkan bahwa kapasitas embung yang biasanya mencapai 450.000 liter dengan ketinggian lebih dari 2 meter, kini menyusut hingga tinggal sekitar 1 meter lebih.
“Penurunannya cukup signifikan, ini dampak dari kondisi cuaca beberapa waktu terakhir,” ujarnya kepada TribunKaltara.com, Jumat (3/4/2026).
Untuk menghindari krisis yang lebih parah, Perumda Tirta Taka Nunukan terpaksa menerapkan sistem zonasi distribusi air.
Kebijakan ini membagi wilayah layanan menjadi dua bagian, yakni zona perkotaan dan Nunukan Selatan.
Namun, masyarakat diminta bersabar. Pasalnya, air tidak langsung mengalir saat jadwal dimulai.
Baca juga: Calon Jemaah Haji Nunukan Vaksinasi Polio dan Meningitis, Syarat Wajib dari Pemerintah Arab Saudi
“Perlu dipahami bahwa sistem zonasi tidak membuat air langsung mengalir saat jadwal dimulai. Ada tahapan yang harus dilakukan, seperti pembukaan, pengaturan, hingga penutupan gate valve untuk mengisi pipa induk dan jaringan distribusi. Biasanya butuh waktu 5 sampai 6 jam sampai air benar-benar normal,” jelas Andi Darwis.
Tak hanya itu, kendala teknis seperti udara yang terjebak dalam pipa juga kerap memperlambat distribusi air ke pelanggan.
“Kalau ada angin di dalam pipa, dorongan air jadi terhambat. Itu salah satu penyebab keterlambatan,” tambahnya.
Keluhan warga pun sempat muncul, salah satunya dari kawasan perumahan polisi, sekitar KPN (Koperasi Pegawai Negeri) yang terletak Jalan Ujang Dewa, Kecamatan Nunukan Selatan, yang tidak kebagian air. Ternyata, faktor elevasi menjadi penyebab utama.
“Air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Wilayah tersebut lebih tinggi, jadi butuh waktu lebih lama. Tapi sekarang sudah normal kembali sejak malam hari,” katanya.
Di tengah kondisi ini, sedikit harapan muncul setelah hujan turun dan menaikkan volume air baju sekitar 38 sentimeter.
Meski begitu, ancaman kekeringan masih membayangi jika musim kemarau berlangsung panjang.
Perumda pun mulai menyiapkan langkah jangka panjang, mulai dari rencana pengerukan embung hingga optimalisasi seluruh sumber air baku di Nunukan.
“Karena kita di wilayah kepulauan, tidak punya sumber air besar. Jadi semua potensi harus dimaksimalkan,” tegasnya.
Sementara itu, kondisi embung di wilayah Bilal disebut masih aman.
Perumda Tirta Taka Nunukan mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan menampung air secukupnya saat jadwal distribusi berlangsung.
“Hemat air. Gunakan secukupnya dan tampung saat air mengalir. Ini penting agar kebutuhan tetap terpenuhi sampai kondisi kembali normal,” pungkasnya.
(*)
Penulis: Fatimah Majid