Penguatan nilai tukar baht berpotensi menekan kinerja sektor pariwisata Thailand. Kekhawatiran itu mulai menghantui para pelaku usaha di sana.
Mantan Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), Yuthasak Supasorn, menyebut sektor ini bisa kehilangan hingga 15-17% pendapatan jika baht menguat di atas 30 per dolar AS.
Yuthasak mengatakan pihaknya telah menyiapkan tiga skenario pergerakan baht beserta dampaknya terhadap pariwisata, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut.
Dilansir dari , Jumat (3/4/2026) dalam skenario terburuk, penguatan baht dinilai akan melemahkan daya saing Thailand. Biaya perjalanan yang lebih tinggi diperkirakan menekan wisata jarak jauh, sementara wisatawan jarak dekat berpotensi beralih ke negara lain seperti Vietnam, Filipina, dan Indonesia.
Meski demikian, ia menilai kurs baht di kisaran 30-32 per dolar AS saat ini masih belum mengurangi minat wisatawan asing. "Kurs ini masih berada pada tingkat yang sesuai bagi wisatawan dengan pengeluaran fleksibel yang lebih mempertimbangkan pengalaman, kuliner, dan keamanan," kata Yuthasak.
Ia menambahkan pelaku industri perlu meningkatkan kualitas produk wisata untuk menjawab perubahan preferensi tersebut. Saat ini, rata-rata pengeluaran wisatawan di Thailand sekitar 300 USD (Rp 5 juta) per perjalanan, masih di bawah Jepang dan Singapura yang mencapai 600 USD (Rp 10 juta) hingga 700 USD (Rp 11,9 juta).
Menurutnya, Thailand perlu memperkuat promosi sejumlah keunggulan seperti wisata medis dan kesehatan, destinasi premium untuk kegiatan MICE, serta sebagai basis bagi pekerja digital nomaden. Yuthasak juga menilai Thailand dapat memposisikan diri sebagai destinasi yang menawarkan ketenangan di tengah situasi global yang tidak menentu, sekaligus memanfaatkan posisi netralnya sebagai lokasi pertemuan dan negosiasi bisnis.
Sementara itu, jika baht melemah ke kisaran 32-34 per dolar AS, kondisi tersebut dinilai lebih ideal karena dapat meningkatkan jumlah kunjungan dan membuat harga lebih kompetitif dibandingkan Jepang dan Vietnam.
Di sisi lain, Asosiasi Hotel Thailand (THA) memperkirakan pemesanan hotel selama libur Songkran tahun ini turun 5-10% dibandingkan tahun lalu. Penurunan itu dipicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya perjalanan serta potensi kelangkaan bahan bakar.
Presiden THA, Thienprasit Chaiyapatranun, mengatakan dampak penurunan tidak merata. Sejumlah daerah diperkirakan terdampak lebih besar seperti Chiang Mai yang tengah menghadapi masalah polusi udara.
Ia menyebut sebagian wisatawan domestik kemungkinan menunda perjalanan darat jarak jauh, termasuk rute Bangkok-Chiang Mai. Sementara itu, Krabi dilaporkan mengalami peningkatan pembatalan penerbangan.
Dalam situasi yang terjadi, pelaku hotel cenderung menahan kenaikan tarif kamar dan menawarkan berbagai insentif tambahan untuk menarik wisatawan.





