TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) masih relatif aman dari kenaikan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah, kondisi berbeda justru terjadi pada komoditas plastik atau tas kresek yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Sejak awal Maret 2026, harga berbagai jenis plastik di Kabupaten Kotawaringin Timur, khususnya di Kota Sampit, terus merangkak naik.
Kenaikan ini bahkan disebut semakin tak terkendali dalam beberapa pekan terakhir.
Di salah satu toko plastik di Sampit, suasana jual beli masih terlihat seperti biasa pada Jumat (3/4/2026).
Namun di balik itu, para pedagang mengaku harus menghadapi tekanan akibat lonjakan harga yang signifikan.
Pedagang yang tak ingin namanya disebut mengungkapkan, kenaikan harga plastik terjadi secara bertahap sejak pekan kedua Maret, sebelum akhirnya melonjak tajam.
“Kenaikannya bervariasi, ada yang sampai 50 persen bahkan ada juga yang tembus 150 persen,” ujarnya.
Ia menyebutkan, hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan, mulai dari plastik bening hingga plastik mika. Khusus plastik mika, kenaikan tercatat sekitar 25 persen.
Menurutnya, plastik bening menjadi jenis yang paling terdampak dibandingkan jenis lainnya.
“Semua plastik warna bening itu naiknya memang paling tinggi, entah itu PP, HD, PE,” tambahnya.
Kenaikan harga ini tak hanya berdampak pada harga jual, tetapi juga memukul omzet pedagang. Dirinya mengaku meskipun pembeli masih datang, jumlah pembelian cenderung menurun.
“Omzet jelas turun, karena pembeli sekarang belinya lebih sedikit dari biasanya,” katanya.
Ia menduga lonjakan harga ini dipicu oleh keterbatasan bahan baku yang sebagian besar masih bergantung pada impor.
Biji plastik dan minyak sebagai komponen utama produksi disebut menyumbang sekitar 60 hingga 80 persen.
Selain itu, faktor global turut memperburuk kondisi. Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi distribusi minyak dunia ikut berdampak pada pasokan bahan baku plastik, sehingga harga pun terdorong naik.
Dampak kenaikan harga ini juga dirasakan langsung oleh konsumen.
Untuk membuktikannya, pewarta mencoba membeli kantong plastik PE merek Tomat yang sebelumnya dijual Rp10.000 per kemasan, kini melonjak menjadi Rp17.000 per kemasan.
Seorang pembeli, Mas’ud, mengaku harus mengurangi jumlah pembelian akibat kenaikan tersebut. Ia yang sehari-hari berjualan kaki lima sangat bergantung pada plastik untuk melayani pembeli.
Baca juga: Anak-anak Panti Asuhan Berkah Pelajari Ubah Botol Plastik Bekas Jadi Bernilai Ekonomi
Baca juga: Gerobak Anyaman Bambu Masih Berkeliling di Palangka Raya Kalteng di Tengah Gempuran Plastik Murah
“Biasanya saya beli lima pak, sekarang karena naik saya cuma beli satu sampai dua pak saja,” ujarnya.
Ia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama, karena akan semakin memberatkan pelaku usaha kecil.
“Semoga harganya bisa kembali normal lagi, soalnya saya pedagang kecil yang butuh banyak plastik,” tutupnya.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana gejolak global bisa berdampak langsung hingga ke tingkat pedagang dan masyarakat kecil di daerah