Memaknai Jumat Agung, Pdt Andreas Ungkap Pesan Kegelapan yang Menghidupkan
muh radlis April 03, 2026 02:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gedeon Adinata Pradipta tampak berkaca-kaca menyaksikan potongan film yang menampilkan penyiksaan hingga kematian yang harus ditanggung Yesus Kristus di kayu salib, dalam ibadah Jumat Agung di GJKI Keluarga Shallom Semarang, Jumat (3/4). 


Deon, sapaannya, mengaku, selalu merasakan kepedihan mendalam setiap menonton film berjudul 'Passion of Christ' itu, terlebih dalam memperingati pengorbanan anak manusia yang menjadi tumbal penebusan dosa, untuk menggenapi firman Allah, sekaligus membuka kembali jalan kepada Allah. 


"Saya merasa sangat bersyukur Tuhan menggantikan semua hal yang seharusnya saya tanggung akibat dosa.

Penebusan Tuhan membebaskan kita dari dosa, dan memberi jaminan keselamatan bagi yang percaya," katanya. 


Adapun, Gembala Sidang GJKI Keluarga Shallom, Pdt Andreas Kusnin mengatakan, momen pengorbanan Yesus di kayu salib dapat dimaknai sebagai kegelapan yang menghidupkan. Hal itu seperti tercatat dalam Injil Matius 27: 45-55.


Menurut dia, kegelapan selama 3 jam yang tercatat dalam Alkitab saat penyaliban Kristus bukanlah tanda kekalahan, melainkan menjadi saat Tuhan bekerja bagi keselamatan manusia.

Baca juga: Foto-foto Via Dolorosa di Gereja St Theresia Bongsari Semarang

"Yesus harus masuk dalam kegelapan untuk membawa manusia kepada terang," ucapnya. 


Dia menambahkan, Alkitab juga mencatat sejumlah kejadian saat kegelapan itu, antara lain tabir bait suci, yang memisahkan antara ruang bagi umat dan ruang maha kudus, terbelah menjadi dua dari atas ke bawah.

"Ini menunjukkan inisiatif dari tempat maha tinggi bahwa Allah telah membuka kembali hubungan dengan manusia tanpa harus melalui perantara," jelasnya.


"Kegelapan itu meruntuhkan penghalang antara manusia dengan Allah.

Jika dulu setiap orang harus meminta bantuan imam untuk mendoakan di ruang maha kudus yang tidak bisa dimasuki sembarangan, kini setiap orang bisa berdoa langsung kepada Tuhan, bahkan dengan memanggil Bapa," sambungnya. 


Selain itu, Andreas menyatakan, Alkitab mencatat terjadi gempa bumi dahsyat saat kegelapan itu, yang membelah bukit-bukit, dan membuka kubur-kubur orang kudus, sehingga mereka bangkit kembali dan menjadi saksi Allah di tengah manusia. 


"Kegelapan itu juga memberikan kebangkitan pengharapan bagi setiap manusia.

Pengharapan ini sekaligus menjadi kelahiran baru bagi orang yang percaya, bahwa Allah telah membebaskan dari segala kutuk, sakit penyakit, penderitaan, dan berbagai masalah dalam hidup," paparnya. (Arief Novianto) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.