Kisah Wiwin, Anak Muncikari yang Bangun Mushola di Eks Lokalisasi Payo Sigadung Jambi
Suci Rahayu PK April 03, 2026 05:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Puluhan tahun Lokalisasi Payo Sigadung menjadi tempat prostusi besar di Kota Jambi. Kini, secara bertahap tempat yang lebih dikenal dengan sebutan Pucuk ini mulai berbenah.

Setelah resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Jambi pada tahun 2014, aktivitas dunia malam di lokasi tersebut juga perlahan menghilang.

Saat Tribun Jambi datang ke sana, citra tempat bisnis seksual sudah tak terasa. Eks Lokalisasi Payo Sigadung terlihat seperti perkampungan biasa.

Aktivitas anak-anak di mushola kawasan eks lokalisasi Payo Sigadung, Kota Jambi
Aktivitas anak-anak di mushola kawasan eks lokalisasi Payo Sigadung, Kota Jambi (Tribunjambi.com/Srituti Apriliani Putri)

Mengubah stigma negatif masyarakat tentang Eks Lokalisasi Payo Sigadung tentu tidak mudah. Ini juga yang dirasakan, Wiwin.

Wiwin adalah Ketua RT 05 Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Bukan cuma Ketua RT, dia juga adalah anak dari mantan muncikari di sana.

Wanita yang akrab disapa dengan sebutan Bunda oleh warganya ini mengungkapkan kegelisahannya tentang masa depan anak-anak yang tinggal di Eks Lokalisasi Payo Sigadung.

Kata dia, saat ada orang luar yang tahu bahwa mereka adalah anak yang tinggal di kawasan Eks Lokalisasi Payo Sigadung, orang-orang langsung memandang mereka dengan tatapan tak baik.

Kesan itu tentu bukan tanpa alasan, lebih dari 40 tahun menjadi tempat prostitusi. Stigma masyarakat tentang warga yang tinggal di Eks Payo Sigadung masih dilebeli dengan cap negatif.

Baca juga: Makam Vidi Aldiano Ramai Diziarahi, Mawar Biru Kini Dijuluki Mawar Vidi

Baca juga: Pengawal Sabu 58 Kg Medan-Jambi Dikabarkan Kabur dari Ruang Penyidik, Polda Jambi Kejar

Di tanah kelahirannya itu, Wiwin bersama dengan warga lainnya bertahap mulai berbenah. Pada tahun 2024, dia membangun sebuah musholah kecil di rumahnya.

Di musholah itu, banyak kegiatan keagamaan dilaksanakan. Saat sore, anak-anak akan belajar mengaji. Sepekan sekali, ibu-ibu juga tak mau kalah, mereka mengadakan pengajian dan membaca Surah Yasin di sana.

"Saya cinta kampung ini, saya lahir di sini," kata Wiwin saat menceritakan kegiatan warganya.

Mushola itu diberi nama "Al Arfa" diambil dari nama anaknya yang saat itu meminta untuk dibuatkan sebuah masjid. 

"Tapi kalau diartikan secara bahasa Arab bisa diartikan sebagai tempat yang tinggi atau pengetahuan," jelasnya.

Pelan namun pasti, mimpi membangun masjid itu ternyata bisa menjadi kenyataan.

Belum lama ini, Wali Kota Jambi Maulana datang ke sana. Ide pembangunan masjid itu ternyata sejalan dengan usaha Pemerintah Kota Jambi untuk mengubah wajah Eks Lokalisasi Payo Sigadung.

"Pak Wali kemarin cek lokasi, beliau bilang ingin membangun masjid. Tetapi sedang mencari tanah wakaf," ujarnya.

Setelah berbicara dengan ibunya, mereka sepakat untuk menyerahkan tanah yang juga berdiri rumah mereka untuk dijadikan lokasi pembangunan masjid tersebut.

"Ibu saya sudah tua, rasanya sudah cukup dunia. Ingin ini jadi bekal akhirat. Tapi nanti, kami minta pak wali, dibangunkan rumah disamping masjid ini," jelasnya.

Rencananya, tanah seluas tujuh tumbuk termasuk tanah bangunan rumah Wiwin dan keluarga akan dijadikan sebagai lokasi pembangunan masjid.

Tidak hanya sebagai tempat ibadah, dia juga berharap tempat ini bisa menjadi pusat belajar dan wisata baru untuk warga Kota Jambi.

"Semoga bisa juga menggerakan ekonimi masyarakat di sini," sebutnya.

Dia berharap, setiap langlah kecil untuk merubah wajah Eks Lokalisasi Payo Sigadung bisa membawa kebaikan bagi warganya. (Tribunjambi.com Srituti Apriliani Putri)

 

 

Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi

Baca juga: Soal Jalan Rusak di Talang Belido, Bupati Muaro Jambi Sebut Sedang Susun Skema

Baca juga: Pengawal Sabu 58 Kg Medan-Jambi Dikabarkan Kabur dari Ruang Penyidik, Polda Jambi Kejar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.