WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Di tengah langit Timur Tengah yang membara oleh konflik dan perang, keuntungan besar berpotensi masuk ke meja bisnis keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Powerus, sebuah perusahaan teknologi drone asal Florida, AS kini disokong oleh dua putra Presiden AS yakni Eric Trump dan Donald Trump Jr.
Mereka dilaporkan tengah gencar melakukan manuver penjualan ke negara-negara Teluk yang sedang dalam tekanan serangan Iran.
Baca juga: Paus Leo Kritik Donald Trump, Sinyal Baru Sikap Vatikan di Konflik Dunia
Hal itu diungkap Associated Press di laman apnews.com oleh jurnalis mereka Bernard Condon, reporter investigasi yang handal mengulik bisnis Trump dan semua isu dibaliknya.
Kepada negara-negara tersebut Powerus menawarkan drone berteknologi tinggi yang diklaim mampu mencegat serangan drone Iran di udara.
Langkah ini memicu perdebatan panas mengenai etika dan konflik kepentingan.
Bagaimana tidak? Negara-negara Teluk kini sangat bergantung pada perlindungan militer AS—yang dipimpin oleh ayah mereka sendiri—sementara putra-putra sang Presiden menawarkan solusi pertahanan berbayar kepada mereka.
Kini Eric Trump dan Don Trump berpotensi menuai keuntungan besar dari situasi perang \akibat kebijakan sang ayah sendiri.
Baca juga: Mulai Nyerah! Trump Berencana Akhiri Perang AS-Iran dalam 2–3 Pekan
Keduanya disebut berpeluang mendapatkan saham signifikan, seiring ekspansi agresif Powerus dalam menawarkan drone pencegat ke negara-negara Teluk yang tengah menghadapi ancaman serangan dari Iran.
Di lapangan, tekanan nyata dirasakan negara-negara sekutu AS di kawasan teluk.
Serangan drone dan ketegangan geopolitik memaksa mereka memperkuat sistem pertahanan udara.
Dalam situasi genting ini, Powerus aktif melakukan demonstrasi teknologi di berbagai negara Timur Tengah, menawarkan solusi untuk melindungi infrastruktur vital dan keselamatan warga sipil.
Dalih Selamatkan Nyawa
Brett Velicovich, pendiri Powerus dan veteran Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, membela langkah perusahaannya yang kini digandeng dua putra Trump dan memiliki akses khusus menawarkan produk mereka ke negara-negara Teluk.
Bagi Velicovich, ini bukan soal politik, melainkan upaya menyelamatkan nyawa dan memenangkan perlombaan senjata melawan dominasi China dan Rusia.
"Kami sedang dalam perlombaan senjata. Amerika akan kalah jika kita tidak membangun dengan cepat," ujar Velicovich.
Ia menekankan bahwa teknologi pencegat drone miliknya mampu memberikan perlindungan nyata bagi warga sipil di wilayah konflik.
“Kami melakukan banyak demo di Timur Tengah saat ini. Teknologi kami bisa menyelamatkan nyawa,” ujar Brett Velicovich, menegaskan urgensi produk mereka.
Namun, di balik narasi perlindungan dan inovasi, kritik keras bermunculan.
Richard Painter, mantan pengacara etika Gedung Putih era George W. Bush, menilai situasi ini berpotensi menjadi preseden berbahaya.
Ia menyoroti kemungkinan konflik kepentingan, di mana keluarga presiden dapat meraup keuntungan dari perang yang dipicu oleh kebijakan pemerintah sendiri—terutama jika tanpa persetujuan Kongres.
Di sisi lain, Powerus membantah adanya konflik kepentingan.
Perusahaan menekankan bahwa fokus mereka adalah memperkuat industri manufaktur pertahanan AS agar mampu bersaing dengan China dan Rusia dalam perlombaan teknologi drone global.
Baca juga: Rencana Perdamaian Trump Ditolak Iran, Dinilai Sarat Kepentingan Politik
“Kita sedang dalam perlombaan senjata. Amerika bisa tertinggal jika tidak bergerak cepat,” kata Velicovich.
Dalam perkembangan bisnisnya, Powerus juga mengincar dana hingga USD 1,1 miliar dari Pentagon untuk memperkuat produksi drone dalam negeri, mengisi kekosongan setelah pembatasan impor dari China.
Perusahaan ini bahkan berencana melantai di bursa melalui skema merger terbalik dengan perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga Trump.
Bagi warga di kawasan konflik, isu ini bukan sekadar bisnis atau politik. Ini tentang keselamatan sehari-hari—tentang sirene serangan udara, tentang keluarga yang berlindung di balik ancaman drone, dan tentang harapan bahwa teknologi benar-benar bisa menyelamatkan nyawa, bukan sekadar menjadi komoditas perang.
Gurita Bisnis di Era Baru
Sejak Donald Trump kembali menjabat, kedua putranya telah memperluas portofolio bisnis mereka melampaui sektor properti dan golf.
Dari kripto hingga kontrak federal bagian roket, keluarga Trump kini merambah industri strategis yang didanai negara.
Powerus sendiri kini membidik dana $1,1 miliar dari Pentagon yang dialokasikan untuk membangun basis manufaktur drone domestik.
"Saya sangat bangga berinvestasi pada perusahaan yang saya yakini. Drone jelas merupakan gelombang masa depan," ujar Eric Trump dalam pernyataan resminya.
Namun, bagi para pengamat etika, fenomena ini adalah preseden yang mengkhawatirkan.
Richard Painter, mantan pengacara etika Gedung Putih, menyebutnya momen ini adalah yang pertama dalam sejarah AS, di mana keluarga kepresidenan berpotensi meraup keuntungan besar langsung dari situasi perang yang dimulai oleh kebijakan sang ayah.
Di tengah desing drone dan ledakan di Timur Tengah, Powerus kini bersiap melakukan "reverse merger" untuk melantai di bursa Nasdaq melalui perusahaan Trump yang sudah ada.
Sebuah langkah cepat untuk mengonversi pengaruh politik menjadi kekuatan finansial di pasar modal dunia.