TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ada yang berbeda dengan eks lokalisasi Payo Sigadung yang ada di Kota Jambi.
Pagi di Payo Sigadung kini terasa berbeda, Jumat (3/4/2026).
Kini, yidak ada lagi riuh musik malam atau lalu lalang tamu yang dulu menjadi denyut kawasan ini.
Di tempat yang pernah dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Kota Jambi, atau akrab disebut "Pucuk" suasana berubah menjadi tenang, seperti kampung biasa.
Anak-anak berlarian, suara mengaji terdengar dari sebuah mushola kecil.
Tak banyak yang tahu, perubahan ini tumbuh dari kegelisahan seorang perempuan yang lahir dan besar di tempat ini.
Namanya Wiwin. Dia bukan orang luar. Dia bagian dari catatan histori Payo Sigadung itu berlangsung.
Wiwin anak dari seorang mantan muncikari di kawasan yang selama puluhan tahun lekat dengan stigma kelam.
“Dari dulu sampai sekarang, saya tetap di sini. Saya cinta kampung ini,” ucap Wiwin pelan.
Namun cinta itu tak datang tanpa luka.
Stigma Lama
Bagi Wiwin, stigma adalah hal yang nyata. Tatapan orang berubah ketika mereka tahu asalnya.
Lebih menyakitkan lagi, cap itu juga menempel pada anak-anak yang tumbuh di sana.
“Kalau orang tahu kami dari sini, pandangannya beda,” katanya.
Lebih dari 40 tahun Payo Sigadung dikenal sebagai lokalisasi.
Meski telah resmi ditutup pada 2014, bayang-bayang masa lalu itu belum sepenuhnya hilang.
Wiwin tak ingin generasi setelahnya mewarisi beban yang sama.
Dari situlah langkah kecil dimulai.
Langkah Kecil
Pada 2024, ia membangun sebuah musala sederhana di rumahnya.
Tidak besar, tidak megah. Namun dari situlah harapan perlahan tumbuh.
Setiap sore, anak-anak datang untuk belajar mengaji.
Pada malam tertentu, ibu-ibu berkumpul, membaca Surah Yasin, menghidupkan ruang kecil itu dengan doa.
Musala itu diberi nama Al Arfa, nama yang diambil dari anaknya.
“Awalnya anak saya yang minta dibuatkan masjid,” kenangnya dengan senyum. “Kalau diartikan, Al Arfa bisa berarti tempat yang tinggi, atau ilmu.”
Nama itu seperti doa.
Dan siapa sangka, doa itu mulai menemukan jalannya.
Beberapa waktu lalu, Wali Kota Jambi, Maulana, datang berkunjung.
Dia melihat langsung perubahan yang tumbuh dari tengah kampung tersebut.
Gagasan membangun masjid pun muncul, sebuah simbol perubahan yang lebih besar.
Namun ada satu hal yang dibutuhkan: tanah wakaf.
Keputusan Penting
Wiwin pulang dengan pikiran yang penuh.
Dia bicara dengan ibunya, perempuan yang juga menjadi bagian dari masa lalu kawasan itu.
Keputusan besar pun diambil.
Tanah tempat mereka tinggal, lengkap dengan rumahnya, akan diwakafkan.
“Ibu saya bilang, sudah cukup dunia. Ini untuk bekal akhirat,” cerita Wiwin.
Tak ada kemewahan dalam keputusan itu. Yang ada hanya keyakinan.
Sekitar tujuh tumbuk tanah akan diserahkan.
Di atasnya kelak berdiri masjid, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat kehidupan baru.
Wiwin punya mimpi yang lebih jauh.
Ia ingin tempat itu menjadi ruang belajar, tempat anak-anak tumbuh tanpa stigma, bahkan menjadi tujuan baru bagi warga kota.
“Semoga bisa menggerakkan ekonomi juga di sini,” ujarnya.
Di kampung yang dulu dikenal karena gelapnya malam, kini orang-orang mulai menyalakan cahaya dengan cara berbeda.
Pelan, tapi pasti. Dan di antara perubahan itu, ada satu hal yang tak berubah dari Wiwin: cintanya pada kampung halaman. (Tribunjambi.com Srituti Apriliani Putri)
Baca juga: Sosok Riga Perawat Viral Joget di Ruang Operasi, Meski Minta Maaf Tetap Diproses
Baca juga: Lowongan Kerja di Jambi 3 April 2026, Ada Siloam hingga XL Smart Mulai dari Tamatan SMA