Mat 28:1-10
Oleh: RD. Maxi Un Bria
Imam Keuskupan Agung Kupang; Ketua UNIO Indonesia.
POS-KUPANG.COM - Setahun telah berlalu. Pada 4 April 2025, mendiang Mgr. Petrus Turang, pencetus sapaan khas umat Katolik Indonesia "Salve, salam”, meninggal dunia.
Kita kehilangan seorang gembala yang menginspirasi dengan ungkapan Pertransiit Bene Faciendo ; Berkeliling sambal Berbuat Baik”.
Mgr. Petrus Turang telah kembali dalam rangkulan kasih Bapa, dan kita terinspirasi untuk terus berjalan ke depan sambil berbuat baik; dalam semangat sinodalitas yang senantiasa disegarkan dengan sapaan khas ”Salve”.
Hari ini ungkapan Salve digunakan sebagai sapaan resmi dalam perjumpaan lintas agama maupun budaya dalam beragam kegiatan, yang mencairkan kebekuan, memperkuat persahabatan dan harmoni hidup bersama.
Baca juga: Tradisi Paskah 500 Tahun dengan Prosesi Laut Membelah Selat Gonsalu
Salve, menjadi sapaan pembuka, penyejuk perjumpaan dari orang-orang yang beriman kepada Kristus yang bangkit.
Hari ini, kita merayakan Sabtu Alleluya. Kita saksikan terang Kristus yang menghalau kegelapan. Kita dengar Pujian Paskah yang meneguhkan iman, dan mencerahkan jiwa.
Bahwasanya Kristus telah bangkit Alleluya. Kebangkitan Tuhan telah mengalahkan kematian.
Dalam Pujian Paskah "Malaikat di surga bersorak karena Kristus raja kita telah bangkit. Bersoraklah nyanyikan lagu gembira bagi Kristus yang menebus kita, bersyukurlah kepada Allah karena kita bangkit bersama Kristus .
Bersorak dan bergembiralah; sebab Inilah Pesta Paskah, kini malaikat maut sungguh lewat, sebab Anak Domba sejati dikorbankan, dan pintu rumah umat-Nya sudah ditandai dengan darah. Bersorak dan bergembiralah, Inilah Pesta Paskah.
Pada malam ini, Bapa telah menghantarkan Bani Israel dari Mesir, melalui dasar laut merah yang sudah dikeringkan. Pada malam ini, Yesus Kristus mengalahkan kuasa maut, dan bangkit sebagai pemenang yang unggul dari kubur-Nya” ( bdk. Missale Romanum,1970).
Pujian Paskah mengingatkan kita tentang terlaksananya rencana keselamatan Allah bagi umat Israel. Mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan melewati Laut Merah, menuju tanah terjanji.
Janji keselamatan dan penebusan Allah selanjutnya terpenuhi dalam wafat dan kebangkitan Kristus yang kita rayakan dan peringati pada pesta Paskah.
Penginjil Matius menampilkan narasi tentang situasi batin para murid dan pribadi-pribadi sekitar Yesus yang menyertai perjalanan pastoral Yesus dan menyaksikan jalan salib-Nya.
Ada rasa kehilangan, kesedihan dan ketakutan yang mendalam. Namun dalam situasi ini, Maria Magdelana dan Maria yang lain dikejutkan dengan kenyataan di sekitar kubur Yesus.
Saat mereka menjenguk kubur, terjadi gempa bumi yang hebat dan seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke kubur.
Sebagai manusia biasa, pengalaman yang baru dan asing ini tentu sangat mengejutkan dan menakutkan. Baik kedua perempuan itu, maupun para serdadu gentar ketakutan.
Malaikat tahu suasana batin orang-orang di sekitar kubur; mencekam dan menakutkan.
Karena itu ia berkata kepada perempuan-perempuan itu ”Jangan takut; sebab aku tahu bahwa kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari lihatlah tempat Ia dibaringkan” ( Mat 28 : 5-6).
George Simmel (1908), dalam teori Stranger ( Orang asing) , menulis bahwa orang asing akan membawa perubahan dalam perjumpaan dengan kelompok lain. Orang asing juga dapat menjadi mediator dan membawa ide-ide baru dalam kelompok.
Dalam konteks ini, malaikat adalah sang asing di hadapan perempuan-perempuan dan para prajurit sekitar kubur Yesus.
Namun untuk mengurangi keterasingan itu, ia lebih dahulu berkomunikasi dengan mereka dan membesarkan hati mereka agar tidak takut.
Pada kenyataannya, kehadiran malaikat dan kubur kosong adalah pengalaman visual yang disaksikan perempuan-perempuan itu, memang mencekam dan menakutkan.
Sapaan Malaikatlah yang kembali menenangkan dan menguatkan hati mereka untuk bersaksi.
Kita temukan,ungkapan ”jangan takut” diulangi sebanyak dua kali. Pertama, diungkapkan oleh malaikat kepada Maria Magdelana dan Maria yang lain. Kedua, diungkapkan sendiri oleh Yesus Kristus yang telah bangkit .
”Salam bagimu!” Selanjutnya Yesus katakan ”Jangan takut, pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku” ( Mat 28: 9-10 ).
Seperti Maria Magdalena dan Maria yang lain serta para rasul, Yesus menyapa kita: ”Salam dan jangan takut.
Dengan sapaan itu Yesus membesarkan hati kita bahwa Ia sungguh telah bangkit dan mengutus kita semua untuk bersaksi tentang kebangkitan-Nya.
Bahwasanya kegelapan maut telah dikalahkan oleh kebangkitan mulia Yesus Kristus Tuhan kita.
Ketakutan yang mencekam telah berubah menjadi keberanian dan sukacita. Makam tertutup telah berubah menjadi makam kosong, karena Kristus sungguh telah bangkit, Alleluya. Salve. (*)