Daniel Mutaqien Nakhodai Golkar Jabar, Pengamat: Ujian Berat Mematahkan Skeptisisme Politik Dinasti
Muhamad Syarif Abdussalam April 04, 2026 09:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Daniel Mutaqien Syafiuddin terpilih sebagai Ketua DPD Golkar Jabar menggantikan Tubagus Ace Hasan Syadzily.

Pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Kristian Widya Wicaksono menilai ini merupakan cerminan bagaimana partai besar seperti Golkar terus bernegosiasi antara kebutuhan akan stabilitas dan godaan untuk kembali pada pola lama, yakni politik berbasis jaringan keluarga.

Kristian mengatakan, secara prosedural kemenangan Daniel melalui aklamasi yang menunjukkan satu hal yang tak bisa dibantah.

Dia diterima oleh struktur. Dukungan mayoritas DPD kabupaten/kota menandakan Golkar Jabar sedang memilih jalan aman, yakni menjaga soliditas internal ketimbang membuka ruang kompetisi yang beresiko memecah barisan. 

"Dalam konteks pascapemilu 2024, pilihan ini rasional. Golkar Jabar sedang dalam tren positif, dan eksperimen kepemimpinan bukan prioritas utama," katanya saat dihubungi, Jumat (3/4/2026).

Namun, justru di titik inilah,kritik perlu ditegaskan. Aklamasi seringkali bukan sekadar tanda persatuan, tetapi juga indikator minimnya kontestasi gagasan. 

"Ketika proses politik terlalu mulus, kita patut bertanya: apakah ini hasil konsensus yang sehat, atau justru kompromi elit yang menutup ruang kader lain?" ujarnya.

Kristian melihat Daniel datang bukan sebagai figur kosong. Dia adalah putra dari Irianto MS Syafiuddin (Yance), sosok yang pernah memegang kendali kuat Golkar Jabar.

Warisan politik ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, dia memberinya akses, jaringan, dan legitimasi kultural di basis-basis tradisional Golkar.

Di sisi lain, dia menyeretnya ke dalam bayang-bayang dinasti, sesuatu yang ironisnya sering dikritik oleh publik, tetapi tetap direproduksi oleh partai.

"Di sinilah persoalan substansial muncul: apakah Golkar Jabar sedang melakukan regenerasi, atau sekadar rotasi dalam lingkar kekuasaan yang sama?" ucapnya.

Dia juga menilai kepemimpinan Tubagus Ace Hasan Syadzily sebelumnya meninggalkan fondasi yang relatif stabil. Elektabilitas meningkat, struktur relatif solid, dan posisi Golkar di Jawa Barat kembali kompetitif.

Artinya, Daniel tidak memulai dari nol. Dia justru memulai dari titik yang menuntut pembuktian lebih tinggi, bukan sekadar menjaga, tetapi melampaui.

"Masalahnya, menjaga jauh lebih mudah daripada mentransformasi. Tantangan terbesar Daniel bukan berasal dari luar partai, melainkan dari dalam, bagaimana dia keluar dari pola patronase yang selama ini menjadi DNA Golkar di banyak daerah." katanya.

Jika hanya mengandalkan loyalitas jaringan lama, kata Kristian, maka kepemimpinannya akan stagnan dan aman, tetapi tidak relevan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, jika Daniel berani melakukan pembaruan, semisal mendorong kaderisasi berbasis merit, membuka ruang kompetisi internal yang sehat, dan memperkuat politik programatik, maka bisa mematahkan skeptisisme publik terhadap “anak Yance”. 

"Tetapi ini bukan pilihan yang mudah. Reformasi internal selalu berhadapan dengan resistensi dari mereka yang sudah nyaman dengan status quo," katanya.

Lebih lanjut, Kristian menilai Golkar Jabar hari ini berdiri di persimpangan, yakni menjadi mesin politik yang efisien namun konvensional, atau bertransformasi menjadi organisasi modern yang adaptif terhadap perubahan sosial-politik Jawa Barat yang semakin kompleks.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.