WARTAKOTALIVE.COM, Italy — Dalam suasana hening yang diselimuti cahaya lilin, Pope Leo XIV mencatatkan momen bersejarah dalam tradisi Gereja Katolik dunia.
Untuk pertama kalinya sejak terpilih sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik, ia secara penuh memanggul salib sepanjang prosesi Jalan Salib atau Via Crucis pada peringatan Good Friday di Colosseum, Roma.
Langkah demi langkah yang diayunkan Paus Leo XIV melintasi reruntuhan bangunan kuno yang sarat sejarah itu menjadi simbol penghayatan iman yang mendalam.
Colosseum, yang dahulu menjadi saksi bisu penderitaan dan kemartiran umat Kristen awal, kembali menghadirkan suasana reflektif ketika sekitar 30.000 umat berkumpul mengikuti prosesi yang berlangsung khidmat tersebut.
Jutaan lainnya menyaksikan melalui siaran televisi, radio, dan media sosial dari berbagai penjuru dunia.
Keputusan Paus Leo XIV untuk memanggul salib sepanjang seluruh rangkaian Jalan Salib menjadikannya sebagai paus kedua dalam sejarah modern yang melakukannya secara penuh.
Sebelumnya, tradisi ini pernah dijalankan oleh Pope John Paul II, yang secara konsisten membawa salib sepanjang Via Crucis setiap tahun sejak 1980 hingga 1994.
Praktik tersebut kemudian menjadi simbol kedekatan pemimpin Gereja dengan penderitaan umat dan pengorbanan Kristus.
Sementara itu, Pope Benedict XVI, penerus Paus Yohanes Paulus II, juga pernah memanggul salib di Colosseum, meski hanya pada bagian awal liturgi sekitar dua dekade lalu.
Tradisi tersebut kemudian tidak selalu dilakukan secara penuh oleh paus-paus berikutnya, menjadikan langkah Paus Leo XIV tahun ini sebagai sebuah penegasan kembali makna spiritual yang mendalam dari prosesi tersebut.
Dalam keheningan malam yang diselingi doa dan nyanyian, Paus Leo XIV memimpin umat menapaki setiap perhentian Jalan Salib, merefleksikan penderitaan Yesus Kristus hingga penyaliban.
Prosesi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan juga ajakan bagi umat untuk merenungkan nilai pengorbanan, solidaritas, dan harapan di tengah berbagai tantangan dunia modern.
Momen tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana simbol-simbol tradisi Gereja tetap relevan dan mampu menyatukan umat lintas generasi.
Kehadiran Paus yang memanggul salib secara langsung menjadi pesan kuat tentang kepemimpinan yang melayani, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara simbolik di hadapan umat.
Dengan langkah yang mantap di tengah cahaya lilin dan doa, Paus Leo XIV seakan menghidupkan kembali tradisi yang sarat makna historis sekaligus spiritual, mempertegas peran Gereja dalam merawat ingatan kolektif umat akan pengorbanan dan kasih yang menjadi inti iman Kristiani.