SURYA.co.id - Setelah Iran menembak jatuh jet temput milik Amerika Serikat di wilayah barat daya pada Jumat (3/4/2026), ketegangan dua negara semakin meningakat.
Insiden yang memicu perburuan ini melibatkan dua jet tempur AS yakni A-10 Warthog dan F-15E. Keduanya jatuh di lokasi berbeda.
F-15E ditembak jatuh oleh tembakan pasukan Iran. Satu awak berhasil selamat sedangkan pilot satunya masih belum diketahui keberadaannya dan menjadi objek perburuan di darat.
A-10 Warthog juga terkena tembakan Iran dan jatuh di wilayah Kuwait. Pilotnya dilaporkan berhasil melontarkan diri dan selamat.
Hingga saat ini, proses pencarian terhadap kru pesawat yang hilang masih menjadi prioritas utama.
Baca juga: Iran Tembak Jatuh 2 Jet Modern Amerika Serikat, Dua Kapal Induk Kini Dikerahkan ke Teluk
Berikut imbas dari insiden itu:
Gubernur regional di wilayah jatuhnya jet tempur AS itu secara terbuka menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang mampu melumpuhkan "pasukan musuh yang bermusuhan".
Langkah Teheran ini meningkatkan risiko bagi Washington, mengingat status pilot tersebut kini menjadi target perburuan di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melaporkan telah mengerahkan pasukan untuk menyisir area jatuhnya pesawat F-15E milik AS.
Di saat yang sama, otoritas lokal menyerukan partisipasi warga sipil dalam upaya pengamanan pilot yang hilang tersebut.
Situasi ini menjadi bahan ejekan bagi otoritas di Teheran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyindir bahwa kekuatan militer AS kini hanya disibukkan dengan urusan penyelamatan personel.
"Perang AS dan Israel telah turun kelas dari upaya 'pergantian rezim' menjadi sekadar perburuan pilot-pilot mereka," tulis Qalibaf melalui akun X miliknya.
Upaya penyelamatan yang dilakukan AS sempat mengalami hambatan.
Dua helikopter Blackhawk yang dikerahkan untuk mencari pilot hilang tersebut sempat dihujani tembakan oleh pasukan Iran sebelum akhirnya berhasil melarikan diri dari wilayah udara Teheran.
Jatuhnya dua jet tempur tersebut menunjukkan risiko yang masih dihadapi oleh pesawat-pesawat AS dan Israel di atas Iran.
Padahal, Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sempat sesumbar bahwa pasukan mereka memiliki kendali penuh atas wilayah udara.
Sebelumnya, AS juga telah kehilangan tiga unit jet tempur F-15 di hari-hari pertama konflik yang tengah berlangsung saat ini.
Ketiga pesawat tersebut jatuh setelah tidak sengaja tertembak oleh pilot Kuwait.
Dalam insiden salah sasaran tersebut, seluruh pilot dilaporkan berhasil melontarkan diri dengan selamat dan telah dievakuasi.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan komentar perdana terkait laporan jet tempur AS jatuh ditembak Iran.
Melalui platform media sosial Truth Social, Trump melontarkan pernyataan singkat yang menyinggung soal penguasaan minyak.
"Simpan minyaknya, ada yang mau?" tulis Trump dalam unggahannya pada Jumat (3/4/2026), sebagaimana dilansir Wall Street Journal.
Sebelum memberikan komentar singkat tersebut, Trump pada Jumat pagi juga sempat menuliskan pandangannya mengenai potensi aksi AS di kawasan Selat Hormuz.
Dia mengeklaim bahwa AS memiliki kemampuan untuk menguasai jalur perdagangan energi strategis tersebut demi keuntungan ekonomi.
"Kita bisa dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan menghasilkan banyak uang. Itu akan menjadi 'gusher' (rezeki nomplok) bagi dunia," tulis Trump.
F-15 Eagle adalah pesawat tempur taktis supersonik segala cuaca yang dirancang untuk menciptakan dan mempertahankan superioritas udara dalam pertarungan di langit.
Pesawat ini dikembangkan untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, dan pertama kali terbang pada Juli 1972.
F-15E Strike Eagle adalah variannya yang merupakan pesawat tempur serang yang mulai dipakai pada tahun 1989. (kompas.com/wikipedia)