AS-Israel Hantam Layanan Kesehatan Iran, WHO Soroti Risiko Krisis Global
Endra Kurniawan April 04, 2026 04:32 PM

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini meluas ke sektor kesehatan, dengan sejumlah fasilitas medis dilaporkan menjadi target serangan.

Dilansir Al Jazeera, Sabtu (4/4/2026), Institut Pasteur Iran di Teheran termasuk fasilitas yang terdampak dalam serangan terbaru.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengecam serangan tersebut dan menyerukan respons dari komunitas internasional.

Ia mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Palang Merah, dan organisasi medis global lainnya untuk menanggapi serangan terhadap fasilitas kesehatan.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, sedikitnya 2.076 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 26.500 lainnya terluka di Iran.

WHO Catat Puluhan Serangan ke Layanan Kesehatan

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan konflik telah berdampak langsung pada layanan kesehatan dan keselamatan warga sipil.

WHO mencatat lebih dari 20 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Iran sejak awal Maret.

Baca juga: Iran Serang Fasilitas Gas UEA dan Kilang Kuwait, Puing Intersepsi Picu Kebakaran dan Korban Jiwa

Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya sembilan orang tewas, termasuk tenaga medis dan relawan kemanusiaan.

Beberapa fasilitas yang terdampak antara lain rumah sakit, perusahaan farmasi, hingga gudang bantuan kemanusiaan.

Rumah Sakit dan Industri Farmasi Ikut Terdampak

Serangan juga menghantam perusahaan farmasi besar seperti Tofigh Daru di Teheran.

Fasilitas kesehatan lain yang terdampak meliputi Rumah Sakit Delaram Sina dan Rumah Sakit Ali yang mengalami kerusakan akibat serangan dan ledakan.

Gudang bantuan Bulan Sabit Merah di provinsi Bushehr turut diserang, menyebabkan kerusakan pada fasilitas logistik kemanusiaan.

WHO menyebut serangan terhadap layanan kesehatan melanggar hukum humaniter internasional yang melindungi fasilitas medis, tenaga kesehatan, dan pasien.

Rantai Pasokan Obat Global Mulai Terganggu

Konflik juga berdampak pada sistem kesehatan global melalui gangguan rantai pasokan obat-obatan.

Dilansir NDTV, jalur distribusi farmasi terganggu akibat penutupan wilayah udara, keterlambatan pengiriman, dan gangguan pelayaran di kawasan Timur Tengah.

Obat-obatan penting seperti terapi kanker, insulin, dan vaksin menghadapi risiko keterlambatan distribusi.

WHO memperingatkan biaya logistik meningkat hingga 30 persen dan pasokan darurat mengalami hambatan serius.

Baca juga: Sesumbar Trump soal Iran yang Kini Mulai Terbantahkan

Negara Rentan Hadapi Risiko Krisis Kesehatan

Gangguan ini paling berdampak pada negara berpenghasilan rendah dan wilayah konflik yang bergantung pada impor obat.

Wilayah seperti Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan disebut paling rentan mengalami kekurangan pasokan medis.

Para ahli memperingatkan, jika konflik berlanjut, krisis kesehatan global dapat semakin memburuk.

Perang yang awalnya bersifat militer kini berkembang menjadi ancaman serius bagi sistem kesehatan dunia.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.