Warga Madiun Bentrok Lawan Rombongan Pesilat Sepulang Halal Bihalal Saling Memaafkan
Ignatia Andra April 05, 2026 09:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Rombongan pesilat yang datang ke Kabupaten Madiun sedang jadi sorotan.

Pesilat dan warga di Desa Kaibon terlibat bentrok dini hari karena kebisingan dan flare yang dinyalakan pada dini hari.

Bentrok antara pesilat dan warga pecah di Desa Kaibon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (4/4/2026) dini hari.

Agenda rombongan pesilat tersebut ternyata menuju ke lokasi halal bihalal yang diselenggarakan.

Pemicu bentrok

Bentrokan dipicu setelah salah satu kelompok pesilat menyalakan flare saat hendak menuju lokasi halal bihalal.

Video bentrok antara pesilat dan warga viral di media sosial setelah diposting di akun Instagram, @medhioen_ae, seperti dikutip TribunJatim.com dari Kompas.com, Minggu (4/4/2026).

Dalam video tampak keributan dan saling lempar terjadi di dekat gapura Desa Kaibon.

Kapolres Madiun, AKBP Kemas Indra Natanegara membenarkan kejadian bentrokan tersebut.

"Akibat kejadian itu satu orang terluka. Tetapi tidak ada kerusakan rumah warga," kata Kemas, Sabtu (4/4/2026).

Warga menilai rusuh

Kejadian itu bermula saat rombongan pesilat dari Kota Madiun berdatangan dengan menggunakan sepeda motor ke lokasi pengajian dan halal bihalal di Desa Kranggan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jumat (3/4/2026) malam.

Namun saat pulang dari halal bihalal, rombongan pesilat menyalakan flare saat melewati Desa Kaibon.

Kondisi ini diduga memicu kemarahan warga setempat.

"Sekitar pukul 23.30 Wib, rombongan pesilat dengan warga Desa Kaibon terjadi saling lempar batu," kata Kemas.

Baca juga: Arief Pinjam KUR Nasibnya Digantung, Terpaksa Pakai Pinjol Rp 50 Juta Tapi Bunga Mencekik

Kejadian itu langsung dihalau aparat, sehingga rombongan pesilat bisa melanjutkan perjalanan kembali.

Sekitar pukul 00.20, situasi sudah dinyatakan aman.

Terhadap kejadian itu, kata Kemas, polisi telah melakukan pendekatan kepada kedua belah pihak agar tidak mudah terpancing provokasi.

Ia juga memastikan seluruh rombongan pesilat pulang melewati jalur yang aman dengan dikawal aparat kepolisian.

Perilaku oknum-oknum tertentu memang kerap menganggu dan menyusahkan warga.

Misalnya, aksi konvoi kendaraan dengan knalpot bising atau sengaja digeber-geber hingga larut malam sering membuat warga terganggu waktu istirahatnya.

Selain itu, balapan liar juga termasuk aktivitas ekstrem yang bukan hanya berisik, tetapi juga berisiko tinggi terhadap keselamatan pengguna jalan lain dan warga sekitar.

Ada pula tindakan seperti memainkan petasan atau kembang api berdaya ledak tinggi di area permukiman, yang bisa menimbulkan suara keras dan potensi bahaya kebakaran.

Selain itu, beberapa oknum melakukan aksi ugal-ugalan seperti drifting atau freestyle motor di jalan umum, yang menimbulkan suara bising, asap, dan risiko kecelakaan.

Baca juga: MBG Jadi Kunci Generasi Emas 2045, Gubernur Khofifah Minta Kepala Daerah Aktif Mengawal

Baca juga: KONI Tulungagung Saring Atlet Potensial untuk Porprov Jatim 2027, Dari Ribuan Hanya 100 yang Dipilih

Aktivitas berkumpul sambil memutar musik dengan volume sangat keras dari kendaraan atau sound system jalanan juga sering menjadi sumber gangguan, terutama jika berlangsung lama atau hingga dini hari.

Tidak jarang pula terjadi aksi provokatif seperti berteriak-teriak, konvoi dengan atribut tertentu sambil membuat keributan, atau bahkan tindakan vandalisme di fasilitas umum sekitar rumah warga.

Semua bentuk aktivitas ini pada dasarnya menciptakan polusi suara, rasa tidak aman, dan mengganggu ketenangan lingkungan tempat tinggal.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.