Donald Trump Ultimatum Iran: 48 Jam Sebelum “Neraka” Hormuz
Adrianus Adhi April 05, 2026 12:32 PM

SURYA.co.id - Donald Trump mengultimatum Iran membuka Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi konsekuensi besar. Iran menolak ancaman tersebut dan memperingatkan invasi darat AS akan berakhir dengan kehancuran, memicu lonjakan harga energi global.

Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (4/4/2026) memberikan waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz. “Waktu hampir habis—48 jam sebelum semua Neraka akan menimpa mereka,” tulis Trump di Truth Social

Ancaman ini bukan yang pertama. Pada 21 Maret, Trump memperingatkan akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika blokade tidak dicabut. Namun, dua hari kemudian ia sempat melunak dengan menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan positif.

Trump bahkan menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik selama lima hari. Penundaan itu diperpanjang hingga batas waktu terbaru pada Senin (23/3/2026).

Para ahli mengingatkan serangan terhadap infrastruktur energi sipil bisa dikategorikan kejahatan perang. Selat Hormuz adalah jalur vital distribusi minyak dunia.

Setiap ketegangan di kawasan ini berdampak luas pada ekonomi global. Laporan intelijen AS memperingatkan Iran kemungkinan besar tidak akan membuka blokade.

Tiga sumber menyebut Teheran menilai kendali atas jalur energi sebagai alat penekan utama terhadap AS. 

Baca juga: Iran Siapkan Tarif Fantastis untuk Lintasi Selat Hormuz, Biaya Bisa Capai Rp 33 Miliar per Kapal

Sejak perang dimulai 28 Februari, Iran menyerang kapal sipil, menyebar ranjau, dan menuntut biaya lintas. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun.

Kelangkaan bahan bakar melanda negara-negara yang bergantung pada minyak Teluk.

Peringatan Iran terhadap Invasi Darat

Sementara, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Enrahim Zolfaqari, memperingatkan konsekuensi menghancurkan jika AS melakukan invasi darat.

Ia menegaskan pasukan Amerika bisa menjadi “makanan hiu” di Teluk Persia. Zolfaqari menyebut invasi akan menimbulkan konsekuensi berat dan memalukan bagi pasukan AS.

Ia menilai rencana Trump tidak realistis dan dipengaruhi tekanan eksternal. Trump dianggap mengambil sikap tidak konsisten dan tidak dapat diandalkan.

Zolfaqari menyoroti keputusan militer AS yang menempatkan pasukan dalam “lubang mematikan.” Pasukan AS di kawasan disebut menghadapi ancaman serius setiap hari.

Sejumlah pangkalan telah hancur, tentara AS terpaksa berlindung di pusat sipil dan ekonomi regional. Namun, mereka tetap rentan terhadap serangan.

Baca juga: Ejekan Iran Usai Tembak Jatuh 2 Jet Tempur AS, Ketua Parlemen: Amerika Perang Tanpa Strategi Brilian

Iran menegaskan telah lama bersiap menghadapi skenario invasi darat. Setiap tindakan agresi akan berujung pada penangkapan dan fragmentasi pasukan penyerbu.

Pernyataan ini memperlihatkan kesiapan Iran menghadapi eskalasi militer. Retorika keras memperkuat ketegangan di Teluk Persia. Ancaman invasi darat menambah risiko perang terbuka.

Dampak Global dan Harga BBM

Untuk diketahui, Eskalasi perang Iran-AS memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent menembus US$120 per barel, tertinggi sejak 2022.

Harga bensin di AS melampaui US$4,5 per galon, menekan rumah tangga. Di Eropa, harga BBM naik rata-rata 15–20 persen.

Negara Asia seperti Pakistan, Filipina, dan Sri Lanka menetapkan darurat energi. Indonesia menahan harga BBM subsidi, namun inflasi pangan diprediksi naik hingga 7 persen.

China mencatat lonjakan harga energi hampir 20 persen sejak perang dimulai. Kelangkaan bahan bakar melanda negara-negara importir minyak Teluk.

Perusahaan pelayaran menghadapi biaya tambahan akibat blokade Hormuz. Asuransi maritim melonjak, membuat pengiriman semakin mahal.

Krisis energi global menambah tekanan politik terhadap Trump. Partai Republik menghadapi kecemasan konstituen menjelang pemilu paruh waktu.

Ekonomi dunia menghadapi risiko resesi energi. Bank Dunia memperingatkan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan global.

Pasar saham energi melonjak, sementara sektor transportasi terpukul. Negara berkembang paling rentan menghadapi krisis ini.

Lonjakan harga BBM memperburuk ketidakstabilan sosial di banyak negara. Iran menggunakan blokade sebagai alat tawar strategis.

Trump menghadapi dilema antara eskalasi militer atau kompromi diplomasi. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya rantai pasokan energi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.