Duka di Bawah Terik Matahari, Saat Umat Katolik Larut Visualisasikan Jalan Salib Yesus di Tombuluan
Dewangga Ardhiananta April 05, 2026 04:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Matahari bersinar terang, pada Jumat (3/4/2026) pagi.

Namun mendung seakan menaungi Desa Tombuluan, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Prosesi jalan Salib yang dimainkan OMK St. Carlo Acutis Tombuluan begitu nyata, hingga menyulut haru.

Beberapa penonton mendekap tubuhnya akibat merinding.

Lainnya mengusap mata yang basah dengan air mata.

Amatan Tribunmanado.com, adegan dibuka dengan peristiwa saat Yesus dibawa menghadap Pontius Pilatus.

Prosesi jalan Salib dimainkan OMK St. Carlo Acutis Tombuluan
SALIB - Prosesi jalan Salib yang dimainkan OMK St. Carlo Acutis Tombuluan. Beberapa penonton mendekap tubuhnya akibat merinding. Lainnya mengusap mata yang basah dengan air mata.

Totalitas para pemeran terlihat di sini.

Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat nampak sangat bengis.

Para tentara Romawi pamer kekuatan otot dengan menyesah Yesus pakai cambuk.

Sosok Pilatus tampak ambigu: ia tahu kebenaran, tapi memutuskan menyalibkan Yesus demi mengamankan jabatan politik.

Yesus sendiri tampil lemah lembut, dengan pengampunan, yang terasa heroik.

Tampil luar biasa, tapi sejatinya para pemain bukan pemain profesional.

Mereka adalah para pemula yang tampil penuh semangat dan ingin menunjukkan iman lewat penghayatan para tokoh Alkitab dalam Tablo kisah penyaliban Yesus.

Ketua OMK St. Carlo Acutis Tombuluan, Frinsky Rarun, menyampaikan bahwa proses persiapan Visualisasi Jalan Salib pada Jumat Agung tahun ini berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, yakni sekitar tiga pekan.

“Dalam prosesnya, kami menghadapi sejumlah kendala, terutama faktor cuaca yang cukup mempengaruhi jalannya latihan.

Selain itu, masih ada juga tantangan dari sisi kedisiplinan waktu sebagian anggota,” ujarnya.

Meski demikian, Frinsky mengaku bersyukur karena seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik hingga selesai.

“Puji Tuhan, semua boleh berjalan dengan baik dan dapat menghantarkan umat untuk kembali merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pastor Paroki, para pembina, seluruh umat, anggota Legio Christi (LC), serta seluruh OMK yang telah terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.

“Secara khusus, kami juga menyampaikan terima kasih kepada kedua pelatih, Bunda Atik dan Kak Yan Toehatoe, yang telah dengan sabar membimbing kami selama proses persiapan hingga pelaksanaan,” tutupnya.

Pemeran Tuhan Yesus Steven Taroreh mengatakan, memerankan Yesus dalam Visualisasi Jalan Salib ini menjadi pengalaman iman yang sangat mendalam baginya.

Melalui peran ini, dia mengakui semakin memahami makna pengorbanan dan kasih yang begitu besar bagi umat manusia.

"Saya berharap, visualisasi ini dapat menjadi sarana permenungan bagi umat, khususnya Orang Muda Katolik St. Carlo Acutis Tombuluan, untuk semakin memperkuat iman dan meneladani kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Salah satu umat, Lusia Watulangkow, mengaku terharu menyaksikan penampilan para OMK dalam Visualisasi Jalan Salib tersebut.

Ia menilai para pemeran mampu membawakan peran dengan sangat baik dan penuh penghayatan.

“Kami sangat terharu, anak-anak OMK ini bisa memerankan setiap peran dengan baik.

Bahkan kami merasa merinding saat menyaksikannya.

Banyak umat yang meneteskan air mata, mulai dari perhentian pertama saat Yesus diadili oleh Pilatus hingga momen penyaliban di Golgota,” tuturnya.

Lusia yang juga memiliki cucu sebagai salah satu pemeran menambahkan, pelaksanaan visualisasi tahun ini terasa berbeda dibandingkan sebelumnya.

“Kami tentu sangat mengapresiasi para OMK yang terlibat. Tahun ini terasa berbeda dan lebih menyentuh,” pungkasnya.

(TribunManado.co.id/Art)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.