BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Di tengah penerapan kebijakan Work From Anywhere (WFA), Apindo Kalsel, menilai fleksibilitas kerja perlu diimbangi dengan peningkatan disiplin dan efektivitas jam kerja, terutama bagi sektor swasta yang kini menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Menurut Ketua Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Kalsel, Winardi Sethiono, kebijakan WFA cukup baik diterapkan, terutama bagi sektor usaha yang tidak bergantung pada kehadiran fisik pekerja.
“Bagi perusahaan swasta, edaran ini cukup bagus dalam dunia kerja karena tidak tergantung atas kehadiran,” ujarnya.
Namun, Winardi mengatakan, selama ini etos kerja di Indonesia masih menghadapi tantangan, seperti banyaknya hari libur, baik tanggal merah maupun cuti bersama.
Selain itu, jam kerja yang seharusnya mencapai delapan jam per hari, dinilai belum berjalan optimal.
“Efektifnya jam kerja hanya berkisar 6-7 jam. Hal ini tentu menurunkan semangat kerja yang berpengaruh terhadap hasil pekerjaan,” jelasnya.
Ia menegaskan, kebijakan WFA tidak bisa diterapkan secara merata di semua sektor. Perusahaan industri seperti pabrik dan perbengkelan tetap harus menjalankan aktivitas secara langsung di tempat kerja.
Sementara, sektor perkantoran, jasa dan usaha dagang dinilai lebih fleksibel untuk menerapkan sistem kerja jarak jauh.
Winardi menekankan efisiensi jam kerja seharusnya sudah menjadi perhatian bahkan sebelum adanya dinamika global, termasuk konflik geopolitik seperti ketegangan di Timur Tengah.
“Semakin banyak jam kerja yang efektif, maka semakin besar pula potensi penghasilan pekerja. Ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan, khususnya masyarakat menengah ke bawah,” katanya.
Di sisi lain, pelaku usaha saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi, kesulitan perizinan, hingga dampak situasi global.
“Situasi dunia usaha sedang tidak pasti. Ditambah lagi dengan kondisi geopolitik di Timur Tengah yang tentunya akan berdampak pada kegiatan perekonomian,” katanya. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)