Di tengah keriuhan lalu lintas dan lampu merah, sebuah papan reklame raksasa dengan judul film "Aku Harus Mati" kini tengah menjadi sorotan tajam. Meski dikemas sebagai materi promosi hiburan, para ahli kesehatan jiwa memandang visual dan narasi tersebut sebagai ancaman nyata bagi kenyamanan psikologis masyarakat.
Psikiater sekaligus Anggota Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengingatkan bahwa apa yang terpampang di ruang publik memiliki dampak yang jauh lebih dalam dari sekadar iklan. Menurutnya, bagi individu yang sedang berjuang melawan depresi, paparan pesan tersebut bisa sangat melukai jiwa.
dr. Lahargo menyoroti bahwa banyak orang di sekitar kita yang tampak tenang di luar, namun sebenarnya sedang berada dalam peperangan batin yang sangat berat.
"Di sekitar kita, banyak orang yang kelihatannya baik baik saja tapi sesungguhnya sedang berjuang diam-diam sunyi untuk tetap bertahan hidup. Mereka tampak tenang, tetapi di dalam pikirannya sedang terjadi peperangan yang berat," ungkap dr. Lahargo.
Bagi individu yang sedang merasakan keputusasaan (hopelessness) atau memiliki trauma, kalimat "Aku Harus Mati" bukan lagi sekadar judul film. Kalimat tersebut dapat menjadi pemicu psikologis yang memperkuat pikiran negatif, seolah-olah kematian adalah satu-satunya jalan keluar.
Ruang Publik Harus Ramah Psikologis
Jalan raya adalah ruang bersama yang dilalui oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak yang sedang tumbuh, remaja yang rapuh, hingga orang yang baru saja kehilangan anggota keluarga. Oleh karena itu, dr. Lahargo menekankan pentingnya menjaga psychological safety atau keamanan psikologis di ruang terbuka.
Secara medis, paparan visual yang dramatis tentang kematian dapat memicu fenomena Werther Effect atau penularan perilaku bunuh diri. dr. Lahargo mengingatkan bahwa tidak semua hal yang viral itu aman bagi kondisi mental masyarakat luas.
Sebagai ahli jiwa, dia mengajak semua pihak, terutama pelaku industri kreatif, untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik. Pesan yang dianggap sepele oleh sebagian orang, bisa jadi sangat berbahaya bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan nyawanya.
"Ada judul yang menjual rasa takut, tetapi bisa melukai mereka yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Pesan di ruang publik seharusnya mempertimbangkan psychological safety. Bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga aman bagi kesehatan mental masyarakat," tegasnya.





