Analis: Terlepas dari Propaganda Penyelamatan Awak F-15, Iran Terbukti Masih Mampu Melawan Balik
Febri Prasetyo April 06, 2026 10:32 AM


TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim penyelamatan anggota kru kedua dari pesawat tempur F-15 yang jatuh sebagai sebuah kemenangan.

Di sisi lain, drama penyelamatan selama 48 jam itu menjadi pengingat bahwa Iran masih mampu melawan balik dan menimbulkan kerugian bagi AS, menurut analis Dan Sabbagh dari The Guardian.

Menurut Sabbagh, insiden tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi Gedung Putih yang masih mempertimbangkan kemungkinan melancarkan operasi darat di Iran untuk merebut sebuah pulau di Teluk Persia, terutama jika ada ambisi serius untuk mengekstraksi uranium yang sangat diperkaya dari bawah tanah.

Pengeboman AS-Israel terhadap Iran sangat condong kepada pihak penyerang, sehingga satu insiden penembakan jatuh pesawat, yang terjadi lima minggu setelah perang dimulai, langsung menjadi masalah signifikan bagi AS karena peristiwa seperti itu sangat jarang terjadi.

Terakhir kali pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh pasukan musuh terjadi pada tahun 2003, selama perang Irak.

Meskipun belum sepenuhnya jelas bagaimana F-15E ditembak jatuh, hal itu bisa terjadi menjadi pengingat bahwa superioritas udara AS dan Israel tidak sepenuhnya absolut, bahkan ketika mereka melancarkan sekitar 300 hingga 500 serangan udara per hari ke Iran.

Satu unit F-15E Strike Eagle bernilai sekitar 31 juta dolar AS (sekitar Rp526,6 miliar). 

Namun, operasi penyelamatan, yang jauh lebih berisiko dibandingkan misi tempur biasa, justru menjadi titik munculnya kesulitan.

Keputusan menggunakan landasan udara terbengkalai di selatan Isfahan sebagai lokasi operasi garis depan berujung masalah ketika dua pesawat angkut C-130 Hercules, kemungkinan varian pencarian dan penyelamatan yang dimodifikasi, terjebak di darat.

Baca juga: Fakta-Fakta Penembakan Pesawat Tempur AS F-15E, Trump Sebut Operasi Paling Berani dalam Sejarah AS

Pesawat-pesawat tersebut kemudian dihancurkan oleh AS sendiri untuk mencegahnya jatuh ke tangan Iran, menurut sumber-sumber AS.

Pesawat angkut tambahan harus didatangkan untuk menyelesaikan evakuasi kru kedua yang terluka.

Setiap Hercules yang dimodifikasi diperkirakan bernilai hampir 115 juta dolar AS (Rp1,953 triliun).

Helikopter HH-60 Pave Hawk yang terlibat dalam operasi juga mengalami kerusakan akibat tembakan pada Jumat (3/4/2026).

Hal ini membuat total kerugian diperkirakan melebihi 250 juta dolar AS (sekitar Rp4,246 triliun), sebagian besar berasal dari upaya penyelamatan tersebut.

Dalam istilah militer, satu insiden seperti ini tidak terlalu signifikan bagi AS.

Kehilangan pesawat, baik akibat ditembak jatuh maupun kecelakaan, merupakan bagian dari perang.

AS memiliki sekitar 218 pesawat F-15E Strike Eagle dan 55 pesawat C-130 dalam komando pasukan khusus sebelum konflik dengan Iran, menurut International Institute for Strategic Studies.

Namun, operasi pencarian dan penyelamatan skala penuh tetap diperlukan secara politis untuk mencegah Iran menangkap awak pesawat.

Jika salah satu atau kedua awak tertangkap, hal itu akan menjadi kemenangan besar bagi Iran dan membangkitkan kembali kenangan Iran Hostage Crisis yang sangat merugikan Presiden Jimmy Carter saat itu.

Sebagai informasi, pada periode 1979–1980, sebanyak 52 diplomat dan warga AS disandera di Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari, menjadi salah satu krisis diplomatik paling memalukan bagi AS.

Poin ini juga ditekankan oleh Donald Trump, yang menyatakan melalui media sosial bahwa AS tidak akan pernah meninggalkan seorang prajuritnya.

Komitmen tersebut menunjukkan bahwa biaya dan risiko tambahan akan selalu muncul dalam situasi serupa.

Dalam kasus ini, pasukan Iran gagal menemukan salah satu awak F-15E.

Mereka juga tidak mampu menghalangi penggunaan pangkalan udara terbengkalai di selatan Isfahan oleh AS, kemungkinan karena kehadiran drone Reaper yang berpatroli di atas wilayah tersebut.

Namun, hilangnya pesawat angkut C-130 tetap menjadi pengingat akan risiko besar yang melekat pada setiap operasi darat AS di Iran.

Muncul pertanyaan: Apakah pasukan khusus AS benar-benar mampu merebut sekitar 440 kg uranium yang sangat diperkaya yang diduga disimpan di bawah tanah di Isfahan tanpa insiden besar?

Iran memang telah dibombardir lebih dari 15.000 kali sejauh ini oleh AS dan Israel.

Namun, Iran masih mampu mengubah kerugian kecil yang dialami AS atau Israel menjadi kemenangan propaganda, justru karena insiden seperti itu jarang terjadi.

Dalam konflik asimetris, pihak yang lebih lemah hanya perlu beruntung satu kali.

Kronologi Jatuhnya Pesawat Tempur F-15E dan Operasi Penyelamatan Kru

Pada Jumat (3/4/2026), pesawat tempur Amerika Serikat F-15E Strike Eagle ditembak jatuh di wilayah barat daya Iran.

Kejadian ini merupakan kehilangan armada tempur pertama AS yang dikonfirmasi sejak perang AS-Israel vs Iran pada 28 Februari 2026, mengutip NDTV.

Kedua kru, yakni pilot dan petugas sistem persenjataan, berhasil melontarkan diri.

Pilot berhasil diselamatkan tak lama kemudian, sementara kru kedua sempat hilang.

Identitas kedua kru tidak dipublikasikan.

Stasiun televisi pemerintah Iran menerbitkan foto-foto yang diklaim menunjukkan puing pesawat, termasuk ujung sayap dan kursi lontar yang rusak.

Selama hampir 48 jam, pasukan AS dan Iran memburu orang yang sama di pegunungan Iran.

Satu pihak ingin menyelamatkannya, sementara pihak lain ingin menangkapnya.

Pada Minggu (5/4/2026), kru tersebut akhirnya berhasil diselamatkan oleh AS.

Presiden AS Donald Trump menyebut operasi itu sebagai salah satu misi penyelamatan paling berani dalam sejarah militer AS.

"Prajurit pemberani ini berada di belakang garis musuh di pegunungan Iran yang berbahaya, diburu oleh musuh kita yang semakin mendekat setiap jamnya," kata Trump.

Petugas yang diselamatkan mengalami cedera, tetapi Trump mengatakan ia akan pulih.

Tidak ada anggota tim penyelamat yang tewas atau terluka.

Trump menyebut operasi tersebut sebagai pertama kalinya dalam sejarah militer ketika dua pilot AS diselamatkan secara terpisah dari wilayah musuh.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.