Warga Kristen Lebanon Rayakan Paskah di Bawah Gempuran Israel
Desy Selviany April 06, 2026 04:29 PM

TRIBUNDEPOK-Warga Kristen Lebanon harus merayakan Paskah di bawah bayang-bayang serangan Israel. 

Diketahui eskalasi peperangan antara Israel dan Hizbullah di perbatasan Lebanon semakin meningkat sejak pecahnya perang Iran Vs AS-Israel pada 28 Februari 2026. 

Serangan Israel ke Lebanon bahkan menyasar pemukiman warga sipil dengan dalih hendak menyerang Hizbullah yang bersembunyi di pemukiman warga. 

Puncaknya, tiga pasukan perdamaian dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dari Indonesia harus meregang nyawa dalam serangan yang diduga dilakukan Israel pada 29 dan 30 Maret 2026. 

Serangan Israel ke Hizbullah juga ternyata tidak berhenti meski sebagian warga Lebanon tengah merayakan paskah pada Minggu (5/4/2026).

Diketahui Lebanon memiliki beberapa agama utama yang berbeda. 

Negara tersebut memiliki masyarakat dengan perbedaan agama terbanyak dari seluruh negara di Timur Tengah, yang meliputi 18 sekte agama yang disahkan.

Di mana dua agama terbesarnya adalah Kristen (Gereja Maronit, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Katolik Yunani Melkit, Gereja Protestan, Gereja Apostolik Armenia) dan Islam (Syiah dan Sunni).

Umat Kristen di Lebanon hampir sama banyaknya dengan umat Islam yakni mencapai 40,4 persen. 

Meski mengetahui negara Arab tersebut sebagian penduduknya merayakan paskah, Israel tetap melakukan serangan seperti dimuat media Middle East Eye pada Senin (6/4/2026).

Disebutkan penembakan artileri juga dilaporkan di Lebanon selatan, dengan serangan terbaru tercatat di Tebnine, Tyre.

Serangan dilakukan saat umat Kristen merayakan Minggu Paskah di Lebanon.

Baca juga: Momen Haru Anak Praka Farizal yang Tenangkan Ibu Menangis di Peti Jenazah Suami

Bahkan serangan sejak Minggu dini hari itu menewaskan 11 orang di Lebanon.

Serangan udara Israel di Kfarhata, sebuah desa di Lebanon selatan, menewaskan tujuh orang, termasuk seorang anak berusia empat tahun.

Serangan lain di lingkungan Jannah di Beirut menewaskan empat orang dan melukai 39 lainnya.

Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah melancarkan serangan di Beirut "terhadap infrastruktur Hizbullah".

Meski hidup di bawah ancaman Israel, puluhan ribu warga Lebanon tetap tinggal di rumah mereka di selatan, termasuk sekitar 9.000 warga Kristen Lebanon yang tinggal di sejumlah kota perbatasan.

Sebelumnya Pastor Katolik Maronit Lebanon meninggal dunia di Lebanon selatan setelah tank artileri Israel menembaki sebuah rumah pada 9 Maret 2026.

Pastor Pierre al-Rahi, yang juga dikenal dengan nama Prancisnya Pierre el-Raï, sebelumnya menolak, bersama dengan para pastor lainnya.

Perre Al-Rahi menolak untuk mematuhi perintah militer Israel untuk mengevakuasi desa Kristen Qlayaa, sebuah desa Maronit dengan sekitar 8.000 penduduk di distrik Marjayoun, beberapa mil dari perbatasan Israel.

Kematian pastor di Lebanon ini dikonfirmasi oleh petinggi Katolik di Vatikan Paus Leo XIV.

Paus Leo XIV menyampaikan kesedihan mendalam atas semua korban pemboman di Timur Tengah selama beberapa hari terakhir.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.