Harga Plastik Melonjak, Pedagang di Bantul Mulai Kenakan Biaya Tambahan ke Pembeli
Muhammad Fatoni April 06, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Masyarakat di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengeluhkan kenaikan harga jual plastik yang melonjak cukup tinggi. 

Keluhan disampaikan tidak hanya oleh penjual plastik, tetapi juga para pelaku usaha hingga ibu-ibu rumah tangga.

Selama ini, masyarakat mengandalkan plastik sebagai wadah atau bungkus berbagai komoditas.

Di pasar tradisional, para pedagang juga mengeluhkan naiknya harga kantong plastik yang kini tak semurah dulu.

Satu di antaranya dirasakan oleh Jumakir (59), pedagang kelontong di Pasar Ngipik, Kalurahan Baturetno, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Menurutnya, harga penjualan plastik kini tergolong mahal dan ada yang naik sekitar 50 persen.

"Saya kan jual beberapa barang, ada sembako, sayur, dan sebagainya. Jadi, karena harga plastik sekarang mahal, kalau ada yang beli sembako butuh plastik dobel sudah enggak bisa saya kasih lagi. Enggak seperti kemarin-kemarin. Kalau dulu, ada yang minta plastik dobel bisa saya kasih begitu saja," katanya saat dijumpai di tempat usahanya, Senin (6/4/2026).

Mengurangi Keuntungan

Kenaikan harga plastik dinilai mengurangi keuntungannya.

Tak heran, jika ada pelanggan yang membeli kebutuhan tertentu dalam jumlah banyak dan memerlukan kantong plastik berukuran besar atau sekitar 03 x 40 x 70 sentimeter, akan dikenakan biaya tambahan atau charge senilai Rp1.000 per plastik.

"Paling salah satu upayanya ya begitu. Kalau tidak dikenai biaya tambahan, keuntungan penjualan di tempat saya semakin menipis. Tapi, kalau ada pelanggan, misalnya beli tepung terigu seperempat ya tidak apa-apa. Itu nanti saya kasih saja gratis plastiknya. Kasihan, masa dia beli barang enggak dikasih plastik. Nanti, dia membawanya gimana?" jelasnya.

Baca juga: Harga Plastik Melejit, Pedagang di Pasar Beringharjo Ajak Pelanggan Bawa Tas Belanja Sendiri

Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk membawa kantong belanja ke pasar belum banyak.

Tak heran jika penggunaan plastik sebagai wadah atau kantong belanja masih cukup tinggi di pasar-pasar tradisional Bumi Projotamansari.

Sebagai pedagang kelontong, Jumakir mengaku turut menjual plastik berbagai ukuran.

Salah satunya kantong plastik lorek hitam putih ukuran 35 sentimeter yang sebelumnya dijual dengan harga Rp9.000 per pak, kini menjadi Rp15.000 per pak.

Kemudian, plastik merek Apollo ukuran dua kilogram, yang sebelumnya dijual seharga Rp6.000 per pak, kini menjadi Rp9.000 per pak.

Naik Signifikan

Terpisah, Sukasih (51), penjual plastik di Jalan Wonosari Kilometer 3, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, mengaku bahwa harga jual plastik mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Ia pun tidak bisa memastikan kondisi ini akan berlangsung sampai kapan.

"Ya mungkin ini dampak dari perang Timur Tengah. Tapi, kenaikan harga jual plastik itu berlangsung secara bertahap sejak bulan Ramadan kemarin. Kenaikan harga paling terasa untuk ukuran jumbo dan plastik yang tebal," tuturnya.

Ia menyampaikan, salah satu plastik kresek jumbo yang dulu dijual sekitar Rp28.000-Rp30.000 per pak, saat ini dijual sekitar Rp40.000 per pak.

Demikian pula dengan plastik putih ukuran satu kilogram yang sebelumnya Rp4.000 per pak, kini menjadi Rp5.500 per pak.

Sementara itu, Susmiwati (46), warga Kapanewon Banguntapan, mengaku keberatan dengan kenaikan harga jual plastik.

Kenaikan tersebut membuat sejumlah pedagang menerapkan biaya tambahan saat berbelanja.

"Saya belanja di beberapa tempat. Sekarang, kalau beli apa-apa jadi kena biaya tambahan. Misalnya beli sembako, lalu pakai bungkus plastik untuk dibawa pulang. Nah, plastiknya itu ada biayanya sendiri. Jadi uang yang saya keluarkan semakin banyak. Mau tidak mau, sekarang saya coba pakai tas belanja kalau ke pasar supaya tidak dikenakan biaya," tandasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.