Bedah Otak Sadar: Ketika Pisau Bedah Menari di Antara Kata-kata
Hendra April 06, 2026 08:03 PM

Bedah Otak Sadar: Ketika Pisau Bedah Menari di Antara Kata-kata

Penulis dr. Maxmillion

Saya tidak tahu apa yang saya bayangkan ketika pertama kali melangkah masuk ke ruang operasi itu. Lampu bedah menyala putih dan dingin.

Monitor berdenyut dengan ritme yang teratur. Tim bedah bergerak perlahan, sangat perlahan dengan konsentrasi yang bisa Anda rasakan di udara. 

Di atas meja operasi, seorang pria paruh baya, sebut saja Bapak Arif, berbaring dalam posisi setengah duduk. Matanya terbuka. Ia sadar sepenuhnya.

Di kepalanya, sebuah bukaan selebar telapak tangan telah terbentuk. Lapisan tengkorak telah dibuka dengan cermat.

Dan di bawah cahaya putih lampu operasi itu, saya melihat sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan: otak manusia yang hidup, berdenyut pelan, tampak merah muda dan lembap, dengan tumor sebesar 7×5 cm bersarang tepat di sisinya menempel pada area yang paling tidak boleh disentuh: pusat bicara.

"Pak Arif, tolong sebutkan apa yang Bapak lihat di gambar ini."

Suara Dokter Joy begitu Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, Sp.BS, Subsp. N-Vas, F.N-Onk, PhD, FICS, IFAANS lebih dikenal terdengar tenang, hampir seperti mengobrol biasa.

Tangannya memegang instrumen bedah, matanya terfokus pada layar neuronavigasi yang menampilkan peta tiga dimensi otak Pak Arif dengan akurasi submilimeter.

"Rumah… pohon… kucing…" jawab Pak Arif.

Suaranya jelas. Beberapa menit kemudian, instruksi berikutnya: "Pak Arif, angkat jari telunjuk kiri Bapak."

Jari itu terangkat. Saya berdiri di sudut ruangan, mencatat setiap detail untuk tulisan ini, dan merasakan sesuatu di dada saya yang sulit dijelaskan dengan kata-kata medis mana pun.

Bukan sekadar kagum. Lebih dari itu. Lalu terjadi sesuatu yang tidak ada dalam operasi mana pun.

Salah satu anggota tim mendekatkan ponsel ke hadapan Pak Arif. Di layarnya, wajah istri, anak-anak, dan keluarganya muncul dari ruang tunggu dan dari kota lain. Mereka menangis.

Pak Arif melambaikan tangan dan tersenyum. Di dalam kepalanya, tumor itu sedang diangkat. Hampir seluruhnya.

Apa Itu Awake Brain Surgery?

Prosedur yang baru saja saya saksikan itu disebut awake brain surgery bedah otak sadar.

Bukan prosedur baru di dunia. Akarnya bisa ditelusuri hingga tahun 1920-an, ketika ahli bedah saraf Kanada Wilder Penfield yang kemudian dikenal sebagai "bapak bedah saraf modern" pertama kali mengoperasi pasien epilepsi di Montreal dengan pasien tetap terjaga.

Dari eksperimen beraninya itu, Penfield menemukan homunculus somatosensori: peta tubuh yang terproyeksi di permukaan korteks otak, sebuah fondasi neurosains yang hingga kini masih diajarkan di setiap fakultas kedokteran di dunia.

Namun, apa yang saya saksikan di kamar operasi hari itu adalah versi prosedur tersebut yang telah berevolusi selama satu abad jauh lebih presisi, jauh lebih aman, dan jauh lebih manusiawi.

Logika dasarnya sederhana, meski pelaksanaannya tidak. Otak manusia tidak memiliki reseptor nyeri ia tidak bisa "merasakan" bahwa dirinya sedang dioperasi.

Yang menyakitkan adalah kulit kepala dan tulang tengkorak, dan itulah yang dibius di awal prosedur. Setelah otak terbuka, pasien bisa tetap sadar penuh tanpa rasa sakit.

Mengapa harus sadar?

Karena peta fungsi otak di mana letak pusat bicara, motorik, dan memori tidak bisa sepenuhnya diketahui hanya dari MRI.

Satu-satunya cara paling akurat adalah bertanya langsung kepada pemilik otaknya saat operasi berlangsung.

Tim bedah menstimulasi permukaan otak dengan arus listrik ringan dan memantau respons pasien secara real-time.

Jika stimulasi di satu titik membuat pasien terdiam atau kehilangan kendali gerak titik itu tidak boleh disentuh. Tumor di sekitarnya diangkat; area fungsional dilindungi.

Dengan cara ini, tingkat pengangkatan tumor bahkan bisa mencapai lebih dari 95 persen, jauh melampaui apa yang bisa dicapai operasi konvensional dengan anestesi umum yang biasanya terbatas pada biopsi atau pengangkatan sebagian tumor saja, dan risiko pasien kehilangan kemampuan bicara atau gerak permanen juga berkurang secara drastis.

Namun, awake brain surgery bukan pertunjukan satu orang. Ia adalah orkestrasi.

Di dalam ruangan itu ada ahli bedah saraf yang memimpin, neuroanestesiologis yang mengelola kesadaran pasien selama operasi, neurofisiolog yang terus-menerus menguji fungsi kognitif, dan tim penunjang yang memastikan setiap instrumen siap pada waktu yang tepat.

Teknologi canggih seperti sistem neuronavigasi 3D berbasis MRI yang memandu setiap gerakan instrumen dengan akurasi submilimeter menyempurnakan orkestrasi ini seperti GPS, tetapi untuk otak manusia.

Semua bergerak bersamaan, dalam satu ritme. Satu kesalahan koordinasi bisa berarti segalanya.

"Bukan Hanya Soal Mengangkat Tumornya"

Sore itu, setelah operasi selesai dan Pak Arif dipindahkan ke ruang pemulihan dalam kondisi stabil, saya duduk bersama Dokter Joy di ruang dokter.

Ia melepas maskernya. Ada kelelahan di wajahnya, tetapi juga sesuatu yang lain ketenangan yang khas dari seseorang yang tahu betul mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan.

Saya bertanya: apa yang membuat awake brain surgery berbeda dari prosedur bedah saraf lainnya, bagi beliau secara pribadi?

"Yang membedakan bukan teknologinya," jawabnya.

"Teknologi itu bisa dipelajari, bisa dibeli. Yang membedakan adalah komitmen. Komitmen bahwa kita tidak hanya ingin mengangkat tumornya kita ingin pasien tetap menjadi dirinya sendiri setelah operasi. Dengan segala kemampuan bicaranya, geraknya, ingatannya yang utuh."

Dokter Joy adalah salah satu ahli bedah saraf yang telah menangani banyak kasus awake brain surgery di Indonesia. Saat ini, beliau berpraktik di beberapa rumah sakit swasta di Jakarta.

Kasus Pak Arif tumor otak ukuran 7×5×4,5 cm adalah salah satu yang beliau tangani. Tumornya bersarang tepat di sisi area bicara.

"Dengan awake craniotomy, kami bisa memantau fungsi bicara Pak Arif secara langsung sepanjang operasi. Setiap kali kami mendekati batas aman, kami bertanya. Kalau responsnya melambat atau terganggu, kami mundur. Sebagian besar tumor bisa kami angkat, dan bicara Pak Arif utuh," tambah Dokter Joy.

Lalu saya menanyakan sesuatu yang sudah lama ingin saya tanyakan:

Mengapa pasien Indonesia masih banyak yang memilih berobat ke luar negeri untuk kondisi seperti ini?

Beliau tersenyum tipis.

"Terus terang saya tidak tahu. Karena teknik ini pun tidak banyak yang melakukan di luar negeri. Mungkin ini adalah masalah kepercayaan masyarakat kita terhadap dokter-dokternya sendiri. Pelan-pelan akan kita bangun kembali kepercayaan masyarakat Indonesia untuk berobat di Indonesia saja."

Solusi Itu Sudah Ada di Sini

Setiap tahun, sekitar 1,5 hingga 2 juta warga Indonesia berobat ke luar negeri. Kerugian devisa yang ditimbulkan diperkirakan antara Rp170 hingga Rp200 triliun per tahun angka yang cukup untuk membangun puluhan rumah sakit modern dari Sabang sampai Merauke.

Untuk kasus tumor otak di area fungsional otak kasus yang selama ini dianggap harus ditangani di luar negeri kemampuan itu sudah ada di Indonesia. Sudah berlangsung. Sudah terbukti.

Dokter Joy dan tim menggunakan sistem neuronavigasi 3D, MRI fungsional, dan diffusion tensor imaging yang sama dengan pusat bedah saraf kelas dunia.

Tim multidisiplin ahli bedah saraf, neuroanestesiologis, dan neuropsikolog bekerja dalam satu protokol yang dirancang untuk satu tujuan: pengangkatan tumor maksimal dengan pelestarian fungsi optimal.

Yang tidak bisa didapatkan di luar negeri, seberapa canggih pun fasilitasnya, adalah ini: dokter yang berbicara bahasa Anda. Yang memahami cara Anda berpikir.

Yang bisa berinteraksi dengan Anda selama operasi dalam bahasa Indonesia, dengan nuansa budaya yang hanya dipahami oleh seseorang yang tumbuh di tanah yang sama.

"Dalam awake brain surgery, komunikasi adalah segalanya," kata Dokter Joy.

"Dan komunikasi yang paling efektif adalah komunikasi yang melampaui kata-kata yang menyentuh rasa aman pasien. Itu lebih mudah dilakukan oleh dokter yang memahami budayanya."

Penutup
Pak Arif pulang tiga hari setelah operasi. Fungsi bicaranya utuh. Ia bisa menyebut nama istri dan anak-anaknya sama jelasnya seperti saat ia menjawab pertanyaan tim bedah di tengah operasi.

Kepada setiap pasien di Indonesia yang terdiagnosis tumor otak di dekat pusat bicara atau motorik, dan yang sedang mempertimbangkan untuk mencari solusi di luar negeri ada sesuatu yang perlu Anda ketahui: standar penanganan yang Anda cari itu sudah hadir di sini, dengan dokter yang lebih memahami siapa Anda.

Dokter Joy menutup percakapan kami dengan kalimat yang sederhana:

"Kalau ada pasien dari Bangka, dari Kalimantan, dari mana pun di Indonesia yang punya tumor otak dan merasa harus pergi jauh untuk sembuh tolong sampaikan kepada mereka: datanglah. Kita akan berjuang bersama. Karena Anda tidak perlu meninggalkan Indonesia untuk mendapat yang terbaik."

Semoga pesan itu terdengar hingga ke setiap sudut negeri kepulauan ini. Semoga semakin banyak pasien mendapat kesempatan seperti Pak Arif pulang dari meja operasi dengan nama orang-orang yang mereka cintai masih jelas di ujung lidah, dan senyum yang belum pernah secerah itu sebelumnya.

Semoga ke depannya semakin banyak lagi rumah sakit di Indonesia yang bisa menyelenggarakan awake brain surgery, dan pelayanan bedah saraf di Indonesia semakin maju  tidak hanya dalam teknologi, tetapi juga dalam kepercayaan yang seharusnya dokter-dokter Indonesia dapatkan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.